G E S T U R “Menyoal Peran Partai Politik Dalam Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang”

Pegiat Komunitas Sinau Embongan, Wahyu Eko Setiawan/Sam WES.(ist)

Oleh: Wahyu Eko Setiawan/Sam WES*

Secara garis besar, manusia mempunyai dua cara dalam berkomunikasi.

Yaitu secara verbal (lisan/ langsung), misal dengan cara berbicara langsung, baik langsung bertatap muka maupun berbicara langsung melalui telepon.

Yang kedua adalah berkomunikasi dengan cara non-verbal, misal dengan menggunakan Gestur/ Gerak Tubuh.

Seringkali, seseorang berkomunikasi bisa sekaligus melalui lisan langsung disertai dengan Gestur/ gerak tubuhnya.

Jika kita mampu mengamati dengan seksama, maka kita bisa berlatih untuk mengetahui kejujuran seseorang yang sedang berkomunikasi secara langsung dengan diri kita.

Ada yang jujur antara ucapan lisannya dan gesturnya, ada juga yang tidak jujur antara apa yang diucapkannya dengan Gesturnya.

Kenapa? Karena apa yang diucapkan bisa mengandung kebohongan/ tidak jujur, sedangkan Gestur/ Gerak Tubuh relatif lebih jujur.

Itulah mengapa sering kita menjumpai orang-orang yang tidak bisa menjaga satunya kata-kata yang diucapkannya, dengan apa yang menjadi perbuatannya.

Dengan mengetahui dan memahami Gestur Manusia, kita bisa lebih berhati-hati dan waspada dalam bersikap atau bertindak.

Kita tidak mudah terbujuk dengan omongan manis seseorang yang hendak menipu diri kita.

Kita bisa membaca seseorang, tidak hanya dari apa yang diucapkannya. Tetapi juga mampu membaca apa yang tidak diucapkannya, yaitu melalui Gesturnya.

Ucapannya bisa mengatakan “Tidak”, padahal sebenarnya “Ya”. Demikian juga sebaliknya.

Misal, ada seseorang yang dimana-mana selalu mengatakan bahwa dirinya tidak akan berpolitik.

Tetapi nyatanya gesturnya menunjukkan bahwa sebenarnya dirinya sedang berpolitik.

Atau menyatakan ucapan bahwa dirinya tidak akan maju dalam kontestasi Pemilihan Legislatif atau Kepala Daerah, tetapi Gesturnya menunjukkan bahwa dirinya sangat berambisi untuk maju dalam Pemilihan Legislatif atau Kepala Daerah.

Melalui Gestur yang ditunjukkannya, kita bisa membaca kebenaran yang sedang disembunyikan dalam ucapannya.

Jika manusia sebagai individu bisa menunjukkan Gestur yang sesungguhnya, apakah hal ini juga berlaku dalam sebuah organisasi?

Atau bisa kita sebut sebagai Gestur Organisasi. Misal, ada sebuah organisasi yang selalu menyatakan kepeduliannya terhadap tragedi kemanusian, tetapi Gesturnya sama sekali menunjukkan hal yang berlawanan.

Bahwa organisasi tersebut sebenarnya tidak peduli dengan tragedi kemanusiaan.

Tetapi hanya ingin memanfaatkan tragedi kemanusiaan untuk bisa mewujudkan kepentingan-kepentingan organisasi tersebut.

Atau bahkan menggunakan tragedi kemanusiaan untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan organisasi tersebut. Kita bisa membacanya melalui Gestur Organisasi.

Belajar membaca Gestur Organisasi, yang paling mudah adalah membaca Gestur Organisasi Partai Politik.

Di mana-mana, kita bisa menjumpai dan menyaksikan berbagai jargon-jargon atau bunyi-bunyian partai politik yang selalu berpihak kepada rakyat.

Selalu mengedepankan membela rakyat. Bahkan, juga rela membuang-buang uangnya untuk menggaungkan dan menggemakan jargon-jargonnya yang berisi keberpihakan kepada rakyat dalam berbagai bentuk dan media.

Tapi apakah Gestur Organisasi yang ditunjukkannya benar-benar membela rakyat? Benarkah berpihak kepada rakyat?

Kita bisa membacanya dengan mudah dan seksama. Benarkah satunya jargon dan tindakannya? Jelas, tanda tanya besar.

Apalagi ketika musim kampanye politik. Kita bisa sekaligus belajar membaca Gestur Individu dan Gestur Organisasi berbagai pihak yang berkecimpung dalam medan politik.

Sebenarnya, dengan belajar membaca Gestur tersebut, baik Gestur Individu maupun Gestur Organisasi, kita bisa melihat semacam tanda-tanda Early Warning System, untuk mengetahui mana yang jujur, tulus dan ikhlas, serta mana yang bohong, picik dan culas.

Sebagai salah satu referensi untuk belajar membaca Gestur Individu dan Gestur Organisasi Politik di Kota Malang, dalam kasus Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang 1 Oktober 2022.

Kita bisa membacanya secara gamblang. Mana yang benar-benar bergerak membela dan berpihak kepada keluarga korban Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang.

Dan mana yang hanya sekedar ucapan janji-janji manis palsu belaka. Sebagai salah satu buktinya, kita bisa membacanya pada Surat Permohonan Tindak Lanjut Kasus Tragedi Kanjuruhan Malang kepada Ketua DPR RI/ Pimpinan DPR RI, yang bertanggal 7 Januari 2023, yang ditanda tangani oleh 5 Fraksi di DPRD Kota Malang.

Padahal, di DPRD Kota Malang ada 6 Fraksi. Berarti, ada 1 Fraksi yang tidak ikut bertanda tangan. Kenapa tidak ikut bertanda tangan? Ada apa?

Dan masih banyak pertanyaan penting lainnya yang bisa kita ajukan, untuk membuktikan Gestur Individu dan sekaligus Gestur Organisasi Politik (Fraksi) yang ada di DPRD Kota Malang.

Nah, dengan belajar membaca Gestur, baik Gestur Individu maupun Gestur Organisasi, maka jangan lagi mudah percaya dengan janji-janji dan jargon-jargon politik.

Semua slogan politik itu pasti baik, tapi belum tentu perilaku politiknya juga ikut baik. Semoga mencerahkan dan mencerdaskan.

Jika sudah tercerahkan, maka pertanyaan penting selanjutnya adalah: Apakah kita masih akan mendukung dan memilih partai politik yang terbukti tidak aktif membela rakyat/ korban Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang?

*) Penulis: Pegiat Komunitas Sinau Embongan, Wahyu Eko Setiawan/Sam WES.

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan bukan bagian dari BacaMalang.com. (*)