Gambaran Resesi 2023 di Indonesia

ilustrasi. (ist)

Resesi merupakan kemerosotan ekonomi yang tidak hanya di sebabkan dari aktivitas ekonomi melainkan dari faktor perkembangan teknologi juga bisa membuat pengaruh faktor adanya resesi. Hal ini bisa terjadi di dalam dunia pekerjaan karena ada nya penurunan lapangan pekerjaan yang di gantikan oleh teknologi yang canggih seperti robot dan lain sebagai nya.

Resesi memiliki keuntungan dan kerugian di berbagai sektor. Sektor yang naik saat resesi beberapa sektor juga akan bersifat defensif ketika resesi. Sektor-sektor ini diprediksi akan mengalami kenaikan ketika resesi, seperti barang baku dan konsumen primer. Kemudian energi kemungkinan juga kemungkinan naik, kesehatan juga. Sektor mengalami turun saat resesi sektor-sektor yang turun saat resesi akan bergerak pada tiga kondisi, yaitu cyclical, defensif, dan stabil atau stagnan. Cyclical itu sangat sensitif terhadap perekonomian, jadi kalau perekonomian naik, dia ikut naik, kalau ambruk ikut ambruk. , sektor properti jelas akan masuk kategori ini atau mengalami penurunan harga. Sebab properti bukan kebutuhan prioritas di saat-saat resesi. “Kalau transportasi dan logistik  juga cyclical, apalagi produk investasi kemungkinan menurun juga Sektor yang cenderung stabil sektor perindustrian ketika resesi akan tetap stabil, bahkan cenderung turun ketika terjadi resesi. Selain itu, sektor konsumen non-primer, teknologi, dan infrastruktur juga akan tetap stagnan, karena cukup kuat.

Lembaga multinasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia hingga lembaga rating dunia seperti Fitch Ratings dan Moody’s Analytics ramai-ramai memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2023 berkali-kali.
IMF sudah memangkas proyeksi ekonomi global 2023 dari 4,4% pada forecast Januari, 3,2% pada April, dan menjadi 2,7% pada forecast Oktober. Fitch Ratings memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2023 dari 1,7% menjadi 1,4%. Sementara itu, Moody’s memproyeksi ekonomi global hanya akan tumbuh 2,3% pada tahun depan dari 2,7% pada 2022.

Semua forecast dari lembaga/institusi mengarah pada satu kesimpulan yakni 2023 akan menjadi tahun yang berat. “Tahun depan akan sangat menyakitkan. Akan ada banyak perlambatan ekonomi dan rasa kesakitan akibat perkembangan ekonomi,” tutur kepala ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, pada Oktober lalu, dikutip dari CNBC International.
Sejumlah faktor diperkirakan akan membebani pertumbuhan ekonomi global mulai dari ketatnya kebijakan moneter di sejumlah negara, perang Rusia-Ukraina, lonjakan inflasi, ancaman resesi, hingga melambatnya perdagangan global.

Harapan banyak orang agar Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federa Reserve (The Fed) mengendurkan kebijakan agresifnya pada tahun depan juga sudah memudar. Bagaimana upaya menghadapi resesi ini? Pasti banyak yang bertanya tentang hal itu.

Ada beberapa cara untuk menghadapi yaitu dengan cara 1.mempersiapkan dana darurat untuk jaga jaga apabila ada hal mendesak atau hal yang tidak terduga , hal ini sangat penting mengingat adanya resesi di tahun 1998 yang sangat menggemparkan perekonomian di indonesia. 2. Yaitu dengan mencari passive income dengan cara salah satunya yaitu monetisasi youtube, menyewakan properti atau barang, membuka online course dan lain sebagainya. 3. Meminimalisir pengeluaran dan hutang yaitu dengan cara menabung dan pemperhitungkan pengeluaran mingguan atau bulanan agar bisa menyisakan untuk di tabung atau dijadikan dana darurat. 4. Menggunakan asuransi , ada berbagai macam jenis asuransi untuk hidup kita , kita bisa memilih sendiri asuransi tersebut. 5. Aktif infestasi investasi bisa berupa properti, emas, saham, obligasi, dan lain sebagainya.

Penulis : Rendy Eki A