Hari Kopi, Kehidupan Lestari secara Ekonomi, Sosial dan Ekologi

Caption : Pietra Widiadi. (ist)

BACAMALANG.COM – Peringatan hari kopi sejagat meniadi momen istimewa dan sakral karena hingga detik ini meski secangkir kopi mampu membius dan menghipnotis penikmatnya, namun realita yang ada seolah paradoks dan ironis.

Hal ini karena pada faktanya, manisnya kopi hanya dirasakan oleh segelintir kalangan dan golongan neo kapitalis yang menginjak posisi petani Kopi yang hingga kini masih merana.

Berikut wawancara eksklusif bersama Founder Dial Foundation yang juga Pakar Pemberdayaan Masyarakat Alumnus Universitas Airlangga, Pietra Widiadi.

Apa komentar terhadap hari kopi internasional?

Hari kopi dunia. Ini hari kopi, harinya petani kopi, harinya pemilik kafe kopi, atau harinya peminum kopi.

Pertanyaan ini patut dikemukakan, karena kopi bukan sekedar komoditi pertanian, kopi juga bagian dari gaya hidup.

Lebih dari itu, kopi juga sebuah tanaman yang memiliki profil yang beda dengan komoditi sejenis seperti Cokelat. Kopi juga menentukan kekuasaan, perpolitikan dan nilai jual.

Maka pada sudut pandang ini, bagi saya hari kopi sedunia adalah memberikan penghargaan petani kopi yang menyajikan selera rasa pada jenis tanaman perkebunan ini.

Tanpa petani yang handal, kopi tak sekedar buah yang dipetik, tetapi mendorong untuk adanya keniscayaan akan nikmatnya minuman yang berasal dari tumbuhan tanpa ada manipulasi, meski pada berbagai varian, kopi menjadi minuman yang beraneka ragam.

Tapi nilai ekonomi, petani tidak akan pernah merasa perlu memelihara, tanpa rasa perlu mengembangkannya. Jadi hanya sekedar tanaman yang dimakan oleh suatu jenis satwa, misalnya burung.

Dengan menempatkan petani kopi, menjadi subyek peringatan, maka pemanfaat bukan hanya para peminum kopi, tetapi juga tanaman atau makhluk hidup yang berada di sekitarnya.

Disana bisa ada serangga, ada lebah, ada semut, ada kupu-kupu dan berbagai jenis yang lain. Jadi hari kopi, adalah hari petani kopi.

Bagaimana pendapat Anda terkait petani kopi di Malang Raya? Prihatin atau bagaimana?

Petani kopi di Malang Raya, dalam hari kopi internasional ini, perlu mendapat apresiasi. Apa apresiasinya, yaitu para petani ini, menempatkan kopi sebagai komoditi pertanian yang memiliki nama. Meski pada saat ini perdebatan soal kopi Malang masih terjadi. Meskipun terdapat perdebatan tentang keberadaan kopi.

Toh kopi, tetap berputar dan bergerak tumbuh memutari Malang dan memberikan manfaat ekonomi dan ekologis sekaligus. Tanpa petani, tentu hal itu tidak akan memberikan makna yang lebih.

Apakah petani kopi menerima manfaat, tentu saja dan tentu manfaatnya bervariasi. Karena ukuran petani kopi tidak hanya ditentukan oleh kopinya saja, tetapi juga luasan lahan yang dimiliki petani itu sendiri.

Dengan kategori itu, maka tentunya ada petani kopi dengan luasan lahan yang besar sehingga mereka mendapatkan manfaat ekonomi yang cukup. Namun ada petani kopi gurem, petani kopi lahan kecil.

Yang gurem, apakah punya kesempatan .Tentu, namun tidak besar seperti pemiliki lahan besar, bila dihitung secara matematis.

Maka keberuntungan hanya dapat dihitung seperti dapat arisan, bisa sekali dapat dan kemudian akan dapat lagi kalau mengikuti lebih dari 1 putaran. Artinya putaran yang dimiliki oleh petani lahan besar menjadi lebih besar.

Dari ini, seperti sebuah ketidakadilan dalam sektor komoditi kopi dari pemilik lahan kecil. Untuk itu, bagaimana mengatasinya. Salah satunya adalah menghindarkan pemiliki lahan kecil makin kecil dan menjadi tdak punya sama sekali.

Untuk itu, peran pemerintah menjadi diperlukan. Pertanyaannya apa, yang mendasar adalah, apakah ada kesempatan memiliki lahan luas bila harga lahan atau tanah dititipkan pada pasar bebas.

Dengan pasar bebas harga tanah bisa seperti kuda liar, lari tak terkontrol. Kalau demikian maka, petani kopi lahan kecil makin kecil kesempatan.

Maka pada kesempatan ini, peran pemerintah dalam menciptakan bank tanah menjadi penting, dan pengelolaan bank tanah juga tidak boleh diserahkan pada pasar.

Apa optimis industri kopi bisa maju dan berkembang?

Sebagi sebuah industri, kalau disebut industri, ada kemungkinan berkembang. Namun ini tidak semata-mata pabrik kopi bubuk. Tentu harus lebih dari itu, yaitu industrialisasi kopi di hulu, dan juga hilir dan memberikan masyarakat terlibat secara langsung dengan menghindarkan monopoli. Disini, sekali lagi peran pemerintah sangat vital.

Jadi kopi bisa berkembang dan dikembangkan sebagai pintu masuk menuju masyarakat industri, bukan sekedar kopinya yang masuk dalam industri.

Sebutkan problematika utama yang harus disolusikan terkait perkopian Nusantara dan dunia?

Peluang yang sama untuk mendapatkan tanah untuk memperluas pada posisi minimal yang harus dimiliki petani untuk dapat hidup cukup. Pada saat ini dengan kepemilikan lahan sebesar 1 ha, belum mendapatkan keuntungan secara ekonomi, dan kerugian ekologi sudah dipanen.

Apa harapan ke depan?

Dengan makin pesatnya gaya hidup menikmati kopi, atau sekedar gaya dekat dengan “komoditi” kopi, setidaknya menjadi banyak kesempatan untuk hidup lestari, baik secara ekonomi, sosial dan ekologi.

Pewarta : Hadi Triswanto