Heboh Pemilihan Ketua IKA Airlangga, Pencalonan Khofifah Dinilai “Slinthutan”

Caption : Abdul Kadir Jailani. (ist)

BACAMALANG.COM – Tercium dugaan aroma busuk dalam proses menuju Kongres IKA Airlangga yang akan digelar tanggal 3 Juli 2021. Salah satu calon Ketua Umum Khofifah Indar Parawansa mengantongi rekomendasi bodong dari Pengurus IKA Komisariat Fakultas Hukum Unair.

“Kami tidak pernah membahas apalagi mengusulkan nama Khofifah untuk jadi Ketua Umum karena Pengurus IKA Komisariat FH tidak pernah mengadakan rapat atau menyampaikan info apapun kepada Kami yang selama ini riel bergerak untuk Alumni FH,” tegas Ketua IKA FH Jabodetabek, Didik Sasono Setyadi.

Menurut Didik Alumni FH Unair hanya mengusulkan satu nama yaitu Abdul Kadir Jailani Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu. Usulan ini didukung lebih dari 500 alumni FH UA di seluruh Indonesia dan diasporanya di Luar Negeri. “Saya tidak tahu pengurus IKA Komisariat FH itu dapat wangsit darimana,” urai Didik.

Didik mengakui pada tanggal 11 Juni pada acara Halal Bihalal yang diselenggarakan IKA FH Jabodetabek, Ketua IKA Komisariat FH menyebutkan satu nama yang tidak dikenal di kalangan alumni untuk dicalonkan, namun langsung mendapatkan reaksi ketidak setujuan dari mayoritas yang hadir di Halal Bihalal tersebut.

“Makanya kemudian Kami meminta masukan alumni dari angkatan 60 an, 70 an hingga yang millenial apakah mereka mendukung Abdul Kadir Jailani yang juga hadir pada acara tersebut untuk menjadi calon,” Imbuh Didik.

Tidak diduga ternyata dukungan sangat luar biasa, hanya dalam dua hari ada sekitar lima ratus alumni mendukung. “Pada tanggal 14 pagi Kami mengirimkan dukungan dan usulan untuk mencalonkan Kadir pada Ketua IKA Komisariat FH UA via WA dan dijawab oke dan agar selanjutnya diurus administasinya oleh Sekretaris,” kata Didik.

Namun ketika malam hari tanggal 14 Juni 2021 yang diajukan malah nama Khofifah. “Ini namanya slinthutan. Ini cara-cara yang kampungan dan tidak gentle. Ini penyakit lama yang memalukan di institusi alumninya sering bicara demokrasi, keterbukaan, aspiratif, moralitas dan lain-lain,” terang Didik.

Didik meminta Pengurus segera mengoreksi kesalahannya dengan mencabut rekomendasi yang cacat tersebut dan menugaskan utusan untuk hanya mengusulkan nama Abdul Kadir Jailani sebagai calon yang memang berasal dan didukung alumni Fakultas Hukum bukan malah mengajukan calon dari Fakultas lain. (*/had)