Hotman Paris Menilai PCR Mahal, Akademisi UB Ini Paparkan 4 Point Penting

Caption : Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP (UB) yang juga lulusan PhD dari Edith Cowan University Western Australia), Rachmat Kriyantono, PhD. (dok pribadi)

BACAMALANG.COM – Beberapa hari terakhir viral berita harga PCR di Indonesia yang lebih mahal dibanding di India, yang memantik sorotan dari Pengacara Kondang Hotman Paris Hutapea.

Dalam unggahannya, Hotman Paris mengungkapkan sindiran dan harapannya kapan harga tes PCR di Indonesia dibuat murah.

Pengacara berdarah Batak itu bahkan blak-blakan menyindir rumah sakit dan klinik semakin kaya karena mahalnya tarif tes PCR.

”Mari berdoa: Oh Tuhan kapan harga PCR di buat murah ! Oh Tuhan: Rumah Sakit & Klinik makin kaya dari test PCR!,” kata Hotman Paris.

Atas adanya komentar Hotman tersebut Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP (UB) yang juga lulusan PhD dari Edith Cowan University Western Australia), Rachmat Kriyantono, PhD memaparkan 4 sorotan kritis.

“Saya kira, pernyataan Pak Hotman ini mesti segera ditanggapi oleh pemerintah. Pak Hotman ini public figure yang komen-komennya berpotensi viral. Di era medsos sekarang bisa muncul double-impact ketika oposisi memainkannya sebagai isu politik. Apalagi segala hal terkait tes Covid dan vaksin sekarang ini adalah potential issue, yakni isu yang seksi karena menjadi public concern,” tegas Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP (UB), Rachmat Kriyantono, PhD.

“Sekarang ini komen pak Hotman masih bersifat potential issue. Nah, pemerintah melalui penanggung jawab komunikasi (Humas) harus segera memberikan penjelasan,” urai Pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

EMPAT POIN PENTING

Ia mengungkapkan penjelasan penting karena beberapa hal. ” Pertama, agar publik tidak bingung. Covid adalah masalah publik sehingga merupakan informasi publik sebagai hak publik untuk tahu,” tukasnya.

“Kedua, agar tidak menjadi isu liar bergulir, yang dimainkan oleh pihak-pihak tertentu. Muncul rumor dan spekulasi yang nggak jelas,” imbuhnya.

Ketiga agar Pemerintah tidak kehilangan kepercayaan publik. Muncul isu lanjutan, yakni pemerintah tidak pro rakyat, pemerintah disetir pengusaha, dan lainnya.

Keempat, jika tidak dikonter informasi, sifat potential issue ini bisa membesar menjadi imminent (pro kontra di masyarakat) hingga critical issue (muncul demonstrasi dan isu vaksin meluas menjadi bermacam isu, termasuk isu ketidakadilan). Jika ini terjadi maka kita masuk situasi krisis.

PENTINGNYA FACT FINDING

“Humas semestinya segera fact-finding tentang segala yang terkait tes Covid ini. Misalnya, bahan bakunya, obatnya, pembelian hingga distribusinya, dan lainnya dan mengomparasi dengan India,” katanya.

“Saya kira, dengan hasil survei kepuasan publik yang masih tinggi terhadap pemerintah, informasi dari pemerintah tetap dianggap kredibel oleh publik. Persepsi publik negatif bisa karena lack of understanding. Lack of understanding dipicu lack of information,” pungkasnya.

INDIA LEBIH MURAH

Seperti diketahui, harga tes polymerase chain reaction (PCR) di India jauh lebih murah dari Indonesia.

Harga tes PCR di India turun dari 800 rupee atau sekitar Rp 150 ribu menjadi 500 rupee atau Rp 96 ribu berdasarkan kurs.

Biaya untuk melakukan tes PCR di rumah pun cukup murah. Pasca penurunan, harga tes PCR dengan layanan di rumah sebesar 700 rupee atau sekira Rp 135 ribu. Demikian pula tes antigen cepat. Tes antigen cepat di India saat ini seharga 300 rupee atau sekira Rp 58 ribu.

Sementara itu, di Indonesia, harga tes PCR mulai Rp 800 ribu hingga tembus jutaan rupiah dengan iming-iming hasil keluar lebih cepat. Jangka waktu untuk hasil tes PCR pun beragam. Ada yang 24 jam, namun ada pula yang harus menunggu beberapa hari. (had)