Ikhtiar dan Tradisi “Manghuripi”

M. Dwi Cahyono, Arkeolog, dan Pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang (UM).(ist)

Oleh: M. Dwi Cahyono*

Istilah “urup” dalam bahasa Jawa Baru berarti : nyala. Kata jadian “murup (ma + urup) ” mengandung makna : bernyala, menyala. Kata “murup” juga kedapatan di dalam bahasa Indonesia, yang berarti : (1) menyala; berkobar, (2) terang sekali (KBBI, 2002). Di dalam bahasa Jawa Tengahan Juga terdapat kata “murup” dalam arti yang sama. Misal, ada kalimat dalam kitab gancaran (prosa) “Pararaton” berbunyi “mubyar hamurup” yang berarti : menyala terang (Padmapyspita, 1966), yakni kisah tatkala terdapat “sinar yang terpancar terang dari kemaluannya Ken Dedes (mubyar hamurup rahsyanya)”.

Yang digambarkan sebagai “bersinar terang (mubyar hamurup) itu adalah rahsya (kemaluan wanita, vulva)-nya, di- mana rahsya adalah pintu keluar dari jabang bayi untuk memulai hidup.

Menurut keterangan Dhang Yang Loh Gawe, rahsya Ken Dedes yang berprabha (prabha = cahya illahi) menjadi pertanda dari Dedes sebagai “strinareswari”, wanita utama, yang siapa pun yang menikahinya, kelak menurunkan raja-raja besar.

Pada bahasa Jawa Kuna juga terdapat istilah “urup (varian “hurup”), namun dalam arti : yang diberikan dalam pertukaran, penukar (Zoetmulder, 1995 : 371, 1350). Terdapat kata jadian, seperti “ahurup, orup, ahurup-urup”, yang mengandung arti : bertukar. Ada- pun kata jadian, yakni “mangurup, hinurup, kahurup, silih urup”, yang berarti : menukar(kan).

Dalam berniaga, ada kata jadian di dalam bahasa Jawa Baru “diurupi”, dalam arti : memberikan sesuatu sebagai sisi pembukaan penjualan. Bisa juga berarti memberi bantuan. Ada kata jadian dalam bahasa Jawa Baru, yaitu “urup-urup”, yang menunjuk pada benda- benda yang mudah terbakar, yang digunakan untuk mengawali atau mempermudah proses pembakaran dengan kayu keras.

Kata “urup” atau “murup” juga dapat berkenaan dengan penyalaan atau membuat jadi terang. Misal, penyalaan lampu (ngurupke lampu, lampune diurupke, lampune wis murup, dsb ). Kebersinaran, kebercahayaan, atau kecerahan dengan demikian bisa terjadi melalui urup.

Menyalakan lampu, bisa disebut dengan “nguripi lampu” dan dapat diistilahi pula dengan “ngurupke lampu”, dimana kata “urip” dan “urup” dipandang bersinonim arti.

Lampu acapkali dijadikan simbol kebercayaan, penerangan ataupun kebercahayaan. Lampu minyak tanah yang disertai dengan kaca pelindung api (torong atau semprong), yang dinamai “pelita” atau “cempluk, damar, dimar, suluh, dsb.” seringkali dijadikan sebagai benda simbolik yang bermakna : penerangan.

Lantaran dapat membuat jadi terang, maka benda yang bernyala itu dapat digunakan untuk suluh, agar “tak melangkah dalam gelap”, dalam arti senantiasa berada di jalan terang, atau bijaksana, berjalan benar. Doa terhadap orang matipun juga menyisipkan kata “jalan terang”, seperti “semogalah mendapat jalan terang di alam kubur”.

C. Relasi Makna dan Sprit “Urip – Urip”

Ada perkataan filosofis dalan bahasa Jawa, yaitu “Urip iku urup” yang secara harafiah berarti : Hidup itu nyala. Kata jadian “panguripan iku pangurupan”, yang berarti : kehidupan itu adalah kebernyalaan.

Berkaitan dengan makna tersebut, ada pula yang memaknai : hidup itu mustilah menerangi, bagaikan sumbangsih (kontribusi) dari lentera. Dengan pemaknaan demikian, maka dalan berperikehidupan (urip) dibutuhkan adanya suluh penerang (urup), yang darinya orang terbimbing untuk menjadi sese- orang yang baik, yang benar dalam langkah. Suatu filosofi yang memuat “wawasan kebijaksanaan”.

Filosofi “urip iku urup” juga dimaknai sebagai : hidup itu hendaknya dapat memberi manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Fungsi diri dengan demikian adalah sebagai “suar”, menjadi suluh penerang bagi perjalanan kapal.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga bagi khalayak luas. Adanya kehendak berbagi, memberi, ataupun berdharmabhakti terhadap pihak lain. Hidup bukan hanya buat menghidupi dirinya sendiri. Nyala bukan hanya untuk menerangi dirinya sendiri. Menghidupi ataupun menerangi pihak lain adalah pula panggilan hidup.

Pada pemaknaan “urup”, yang dipentingkan bukan melulu “api”-nya, namun juga berkas-berkas “sinar” yang terpancar daripadanya. Urup dengan demikan bukan senantiasa diarahkan untuk membuat sesuatu menjadi tebakar seperti benda yang dilalap api, namun mustinya pula dapat membuat sesuatu itu terterangi.

Dengan pemahaman demikian, kehidupan seseorang mustilah kontributif bagi orang lain, yakni ada kesediaan untuk memberi cahaya terang, agar setiap langkahnya maupun langkah siapapun terterangi, berada di jalan yang benar (shirottol mustaqim). Kehidupan (panguripan) yang demikian itu niscaya bisa mencahayai (ngurupi) sesamanya.

D. Tema “Urip Iku Urup” pada Festival Kampung Cempluk

Pada helat “Selusin (kali ke-12)” Festival Kampung Cempluk di tahun 2022, tema sentral yang diangkat adalah “Urip Iku Urup”. Sebutan serta makna “urup” darinya selaras dengan unsur sebutan “Cempluk” pada nama kampungnya, yakni Kampung Cempluk. Perangkat lawas “cempluk” adalah alat penerang, yang meski kecil namun cukup menerangi. Sebagai kampung, Kampung Cempluk berada di pinggir barat Kota Malang, pada seberang barat dan utara DAS Metro. Kini permukiman asalnya dihimpit oleh permukiman baru yang ditinggali oleh warga kelas menengah ke atas. Meski terhimpit oleh kehadiran pemukim baru yang berkekuatan ekonomi lebih, namun apapun kondisinya, warga asal musti dapat terus hidup.

Untuk menjadikan api pada tungku keluarganya terus bernyala (murup), karena pertanda keberlanjutan hidup itu adalah “dapur ngebul (asap dapur), yang berasal dari kukus (asap) tungku api (pawonan) keluarga”. Selain itu, lampu kecil (cempeluk)-nya musti pula dijaga agar tetap memancarkan cahaya (murup), sehingga memberi jalan terang untuk meniti kehidupan.

Terangnya Kapung Cempluk semoga bukan hanya egois buat menerangi kampungnya sendiri, namun turut pula memberi cahaya terang bagi kampung- kampung lain. Kehidupan kampungnya, semoga pula menyumbangkan dzat hidup bagi kampung- kampung lain. Pengetahuan yang ditimba dari terangnya Kampung Cempluk itu, semoga memberi pengetahuan yang menerangi kampung-kampung lain. Dengan demikian, slogan “Urip iku urup” bisa menjadi spirit kebersamaan untuk bersama-sama “menghidupkan kampung (nguripi kampung)” lewat suatu gerakan “ngurupi kampung”. Nuwun.

Sengkaling, 18 September 2022
Griyajar CITRALEKHA

*) M. Dwi Cahyono, Arkeolog dan Budayawan
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis