Imbas Harga Telur Meroket, Pengusaha Kuliner Turunkan Produksi dan Naikkan Harga 10 Persen

Pengusaha Kuliner Putu Belanda Smakelijk, Eden Bakery & cake, Umi Kalsum. (ist)

BACAMALANG.COM – Harga telur yang meroket, menjadikan sejumlah pengusaha kuliner, terpaksa menurunkan kapasitas produksi agar tetap eksis menjalankan usaha.

Hal ini dilakukan salah satunya oleh Pengusaha Kuliner Putu Belanda Smakelijk, Eden Bakery & cake, Umi Kalsum, yang menurunkan produksi hingga 20 persen.

“Kenaikan harga telur mempengaruhi biaya produksi. Hal ini menjadi keterpaksaan menaikan harga jual produk yang akan berakibat buruk di segmen penjualan,” terang Umi Kulsum, yang memulai bisnis Putu Belanda sejak tahun 2015 ini, Rabu (31/8/2022).

Dikatakannya dirinya menggunakan rata-rata pemakaian dan pembelian stok telur 10-15 kg setiap minggu. Sehingga ketika bahan baku telur naik secara tiba-tiba membuat tidak kuat bertahan.

Ia menjual beragam produk meliputi: Putu Belanda, Brownmix, Boterkoek, Onbitjkoek, Fruit Cake dan lain-lain.

Produk tersebut dijual mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 125.000, dengan melayani orderan produk ke seluruh Indonesia.

Ia menyebutkan dengan naiknya harga bahan baku berupa telur, keputusan untuk menaikan harga jual produk sebesar 10 persen, akan berakibat menurunnya permintaan konsumen.

Ia selama ini memakai telur ayam sebagai bahan baku. “Telur ayam sudah layak dan memenuhi prosedur produksi kami,” tuturnya.

Agar bisa memasarkan produk ia melakukan promosi, membuat anggaran sistematis khusus promosi, aktif dan kreatif dalam konten media sosial perusahaan, sehingga dapat memasarkan produk secara online maupun offline.

Ia berharap kementrian terkait turut peduli dan membantu pengusaha kuliner agar tidak terbebani.

Dikatakannya solusinya dirinya tetap mempertahankan komposisi bahan dengan menyesuaikan harga bahan.

“Tidak hanya kami namun seluruh masyarakat berharap kepada Kemendag dan Kementan untuk membantu menangani lonjakan harga telur saat ini,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan Pemerintah harus hadir untuk memberikan jalan keluar.

“Pemerintah harus hadir untuk menstabilkan harga telur. Sementara untuk meredam gejolak, bisa dengan memberikan stimulus semacam bantuan tunai untuk telur bagi pelaku usaha UMKM,” pungkasnya. (had)