Indahnya “Bid’ah” Dalam Ibadah

Foto : Gerakan masyarakat antisipasi penyebaran Covid-19. (ist)

Oleh : Rachmat Kriyantono, S.Sos., M.Si., Ph.D

Warga di Kabupaten Malang, Jawa Timur terus bergotong royong melakukan tindakan pencegahan penyebaran Covid-19, hingga di lingkup keluarga. Semangat swadaya melawan Covid-19 tidak pernah padam, termasuk menghadapi kesulitan ekonomi akibat wabah.

Seperti yang ditunjukkan pengurus NU, yang terdiri dari bapak-bapak, bersama ibu-ibu Muslimat Anak Ranting Perum IKIP Tegalgondo, Kabupaten Malang kompak bergerak mengatasi ancaman Covid-19 beberapa hari lalu.

Mereka berbagi tugas, ibu-ibu berbagai paket sembako, sedangkan bapak-bapak bertugas menyemprot cairan disinfektan ke rumah-rumah warga dan lingkungan perumahan.

Pembagian paket sembako ini diberikan kepada warga terdampak Covid-19 akibat kebijakan social dan physical distancing.

Paket itu berisi beras 5 Kg, minyak goreng 2 liter, gula 1 kg, bihun jagung ukuran besar 1 bungkus, dan uang Rp 100 ribu. Selain melakukan edukasi tentang pentingnya menggunakan masker, panitia juga membagi masker gratis.

Semua swadaya anggota Muslimat NU sendiri, dan akan bersambung secara bertahap.

Upaya berbagi ini diharapkan meringankan warga yang penghasilannya terganggu akibat wabah, dan wujud rasa syukur atas nikmat sehat dan rezeki Allah.

Menariknya, secara bersamaan, para bapak pengurus NU Perum IKIP pun tidak mau kalah. Para bapak memilih berbagi cairan disinfektan dan melakukan penyemprotan di rumah warga.

Kegiatan ini dilakukan berkesinambungan sebagai komitmen NU Perum IKIP membantu pemerintah menghadapi Covid-19.

Kegiatan ibadah dan ikhtiar pencegahan terus berjalan beriringan, dengan mengadopsi protokol kesehatan dari kemenkes.

Indahnya “Bid’ah” Dalam Ibadah

Selama “booming” wabah Corona, beragam aktivitas berbentuk aksi sosial dilakukan warga masyarakat.

Penyemprotan disinfektan di lingkungan rumah warga; pembagian hand-sanitizer, bagi-bagi cairan disinfektan dlm kemasan botol, masker, sembako hingga bagi-bagi uang adalah aktivitas yang banyak dilakukan warga masyarakat.

Aktivitas tersebut dilakukan warga secara sendirian, berkelompok, satu RT, RW, atau melalui ormas, termasuk ormas keagamaan, seperti NU, Muslimat NU, dan Muhammadiyah, dan lainnya.

Sebenarnya, aktivitas atau aksi sosial tersebut merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Ibadah untuk menjalankan ajaran Allah SWT.

Sedikitnya ada dua ajaran agama yang dijalankan warga masyarakat melalui berbagai aksi tersebut.

Yakni pertama, ajaran tentang melakukan ikhtiar dalam menghadapi cobaan. Masyarakat berikhtiar mencegah penyebaran Corona dengan melakukan penyemprotan disinfektan, bagi-bagi hand sanitizer, disinfektan, dan masker.

Ikhtiar ini merupakan ibadah yang mesti dikerjakan beriringan dengan ibadah doa dan dzikir di masjid atau di rumah.

Warga NU, misalnya, menggelar doa dan istighotsah online serentak, dalam lingkup satu wilayah hingga dunia.

Ikhtiar adalah berjuang. Allah SWT perintahkan berjuang dan berdoa dilakukan beriringan sebagai wujud berserah diri yang hakiki.

Kedua, ajaran untuk saling membantu sesama dan berlomba dalam kebaikan, termasuk shodaqoh.

Warga masyarakat bergotong royong membantu menjaga kesehatan lingkungan. Bagi-bagi sembako dan uang merupakan upaya membantu kesulitan ekonomi.

Tidak sedikit warga yang mengalami penurunan penghasilan akibat banyak orang diminta harus stay at home. Contoh: ketika sekolah “libur”, penjual jajanan pun kehilangan konsumen.

Terlihat, warga masyarakat memiliki kreativitas dalam mengimplementasikan dua ajaran agama tersebut di atas.

Penyemprotan disinfektan, hand sanitizer, bagi-bagi sembako (seperti beras, bihun, minyak goreng, daging sapi/kambing), masker, dan bantuan uang rupiah adalah kreativitas yang tidak dijumpai di zaman Nabi SAW.

Selama ini, sebagian orang menganggap “kreativitas” dlm ibadah sebagai hal yang mesti dihindari, dengan alasan bid’ah. Segala bid’ah adalah sesat, kata sebagian orang ini.

Jika bid’ah diartikan sebagai “perbuatan yang tidak dilakukan Nabi”, maka memang benar bahwa kreativitas ini merupakan bid’ah, bid’ah hasanah, yakni sesuatu yang baik yang baru dilakukan di masa sekarang.

Disebut bid’ah hasanah (yang baik) karena semua kreativitas warga ini berdasarkan dua ajaran agama yang disebut di atas, yakni “ikhtiar dan saling membantu sesama”.

Namun, jika bid’ah diartikan sebagai “sesuatu perbuatan yang diada-adakan”, maka kreativitas warga masyarakat ini bukanlah bid’ah.

Berbagai aktivitas masyarakat terkait Corona bukan aktivitas yang mengada-ada, tetapi, aktivitas berikhtiar dan saling membantu, yang kedua aktivitas ini memang bukan aktivitas yang mengada-ada.

Coba, kita lihat dan kita rasakan, kreativitas atau bid’ah yang warga lakukan ternyata bisa membuat rasa senang warga, rasa guyub, rasa harmoni dan kebersamaan.

Dan ingat, memunculkan rasa senang, guyub, harmoni dan kebersamaan juga bagian dari ibadah menjalankan ajaran Allah. ‘Addin al-mu’amalah’, agama itu (juga) interaksi sosial.

Berbagai aksi sosial menghadapi Corona ini ternyata bisa bikin suasana menjadi indah. Corona ternyata bukan hanya tentang suasana mencekam, tetapi, juga keindahan.

Bukti bahwa Allah tidak ciptakan sesuatu dengan sia-sia karena pasti ada hikmahnya. Dan jika sebagian orang menganggap berbagai aksi sosial sebagai ibadah yang bid’ah maka inilah bid’ah yang indah.

*Penulis adalah : Akademisi dan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya Malang.