Ironis, Puluhan Ribu Petani Kopi Dampit Beralih Komoditi Ke Tanaman Umbi-umbian

BACAMALANG.COM – Petani Kopi Dampit Kabupaten Malang, hingga kini masih terus berjibaku demi bisa survive di tengah himpitan pandemi dan tata kelola, serta tata niaga perpupukan yang kurang menguntungkan mereka.

“Ironis Mas. Selayaknya kita (warga Dampit) bisa swasembada dan surplus untuk komoditas Kopi. Namun adanya himpitan pandemi diperparah dengan tata kelola dan tata niaga pupuk kurang menguntungkan kami. Menjadikan puluhan ribu (sekitar 10.000) petani Kopi beralih tanam ke Komoditi lainnya yang dinilai lebih simpel namun menjanjikan,” tegas Petani Kopi Dampit, Tamin, Kamis (23/9/2021).

Dikatakannya, fenomena miris ini terjadi sejak 10 tahun terakhir. Petani Kopi sulit untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, sehingga banyak tanaman yang produktif jadi kurang produktif, sehingga pendapatan petani Kopi anjlok.

Dipaparkannya, kios pupuk berada di kecamatan yang jarak tempuh kurang lebih 25 km. Dan ketika petani membeli pupuk bersubsidi barangnya kosong. Tidak terdaftar di RDKK, sehingga petani kopi jenuh.

“Mereka sudah jauh-jauh namun untuk akses pembelian barang kosong. Atau tidak ada pengiriman dari distributor pusat,” paparnya.

Diungkapkannya, produktifitas tidak sebanding dengan biaya operasional, sehingga petani mengalami kerugian besar.

Dijelaskannya, harga penjualan murah. Asumsinya nilai jual kopi seharusnya 1 kg kopi sebanding dengan 3 kg beras.

Karena Kopi panen setahun sekali. Hari ini bila ditukar dengan beras cuman dapat 2 kg.

Dijelaskannya, petani cenderung menggunakan obat kimia untuk pengendalian Gulma (herbisida), sehingga tanah semakin tandus dan tanaman Kopi sulit untuk berkembang. Mengenaskan, mati perlahan-lahan.

Kondisi ini terjadi di desa di wilayah Malang Selatan hampir 30 sampai 40% Kecamatan Dampit dan Sumbermanjing Wetan. Yaitu Desa Srimulyo dan Desa Baturetno.

Mereka (petani Kopi) pindah ke tanaman Tebu, Albasia, Pepaya dan Umbi-umbian.

Untuk petani Kopi Desa Sukodono pindah ke tanaman Salak Pondoh, Albasia, Tebu dan lain-lain.

Saat ini petani menanami kebunnya dengan tanaman yang penggunaan pupuk kimia tidak banyak dan cenderung bertani sambil berternak.

Sehingga mereka memperoleh pendapatan sampingan dari ternak dan kotoran sebagai pupuk alternatif.

Tamin menjelaskan sebenarnya pemerintah desa sudah turut membantu eksistensi petani Kopi.

“Pemerintah desa setempat memproduksi pupuk organik. Dan mengelola Kopi sebagai olahan dan produk setengah jadi. Karena upaya pemerintah dengan sistem E RDKK juga kurang maksimal alias sebagian kecil petani yang dapat pelayanan pupuk,” tukasnya.

Ia juga menjelaskan peran Pemkab Malang untuk membantu petani kopi tetap bertahan.

“Peran Pemkab Malang adalah berupaya menertibkan regulasi sistem pendistribusian pupuk dengan mengupdate data E RDKK. Selain itu juga melalui poktan dan dinas terkait juga kurang maksimal, karena tidak mengena ke petani langsung. Dan masih jauh dari harapan petani,” urainya.

Tamin berharap agar petani Kopi diberikan bantuan pelatihan dan peralatan.

“Diharapkan ada bantuan pelatihan GAP dan GMP untuk peningkatan mutu produk bantuan alsintan sebagian kecil. Agar petani mempunyai kapasitas untuk meningkatkan nilai tawar dan nilai jual produk mereka,” imbuhnya.

BERTAHAN HIDUP SECARA ALAMIAH

“Kayaknya tidak ada kajian yang lebih bagus karena petani secara alamiah berupaya untuk bertahan hidup. Dan banyak juga yang gagal. Sehingga mereka cenderung menjadi buruh tani atau buruh kasar. Atau berurbanisasi kerja ke kota,” terang Tamin.

“Saran dan harapan petani dan pemuda tani mampu untuk menciptakan lapangan kerja baru dan berwiraswasta. Diharapkan ada pelatihan untuk peningkatan kapasitas dan bantuan alsintan untuk kemandirian petani serta bantuan permodalan. Agar mereka bisa meningkatkan penghasilannya,” urai Tamin.

Selanjutnya Tamin menjelaskan Petani yang beralih komoditi tersebut. “Petani kopi yang dimaksudkan itu berada di wilayah AMSTIRDAM (Ampelgading, Tirtoyudo, Sumawe, Turen, dan Dampit). Ya jumlahnya sekitar 10.000 petani kopi. Wilayah selatan kurang lebih luasnya 2500 ha dengan produksi rata-rata 1.2 ton/ha. Tetapi ada juga yang 3 ton,” ungkapnya.

Realita ini dinilai berlawanan dengan upaya program pemerintah yang menetapkan harus ada produk unggulan dan khas semisal kopi di suatu daerah.

“Sangat berlawanan, karena Dampit dikenal sebagai kota Kopi sejak dahulu kala. Ironis jadinya dan akan tinggal nama lambat laun, karena petani jenuh dengan pendapatan dan sistem yang kurang efektif,” tuturnya.

“Sementara kopi bermanfaat sebagai tanaman tahunan untuk penahan erosi sebagai penyangga terhadap bahaya erosi karena ada desa di Kecamatan Sumawe, Sidoasri, Desa Sitiarjo ,atau Roworante yang rawan banjir (menurut kajian BNPB & BMKG),” sambungnya.

Berikutnya Tamin menjelaskan rencana terdekat bersama komunitas petani Kopi Dampit.

“Kami berencana melakukan Regenerasi kebun yang telah rusak, dan penanaman naungan. Serta meningkatkan pendapatan petani dengan optimalisasi kebun, dan membuat produk olahan sebagai icon dan oleh-oleh khas desa,” pungkasnya. (had)