Jamasan di Malam 1 Suro 1955 Tahun Kejawen

Caption : Uri-uri Budaya Jawa, Jamasan Pusaka 1 Suro. (dok pribadi)

Oleh : Pietra Widiadi

Pada masa pandemi ekonomi dan budaya nyaris lumpuh. Semua ditiadakan, dan semua ditunda. Namun semua sebenarnya masih bisa dilaksanakan dengan menggunakan standar prosedur kesehatan yang biasa disebut dengan prokes.

Tahun ini, tahun baru Saka atau juga dikenal dengan Tahun Baru Kejawen yang selalu bersamaan dengan Tahun Baru Islam, jatuh pada Selasa Pon, 9 Agustus 2021 pada malam hari.

Pada kesempatan kali ini, Pendopo Kembangkopi sebagai merek dagang dari Yayasan Dial, melaksanakan dengan sangat sederhana untuk kalangan tertentu.

Kegiatan jamasan, atau dikenal dengan mencuci pusaka, umumnya benda-benda bersejarah bagi pemiliknya berupa senjata tajam seperti keris, tombak dan pedang.

Namun demikian kali ini di Pendopo Kembangkopi juga menerima sendok sebagai pengaduk kopi dan topeng Malangan yang menjadi pusaka penari topeng Malangan, juga dijamaskan.

Kegiatan ini merupakan bentuk edukasi kepada masyarakat bahwa perlu ada upaya pelestarian tradisi dalam budaya Jawa yang harus tetap dilaksanakan.

Pelestarian yang dilakukan adalah melaksanakan kembali. Mengangkat kebiasaan yang nyaris tidak dilakukan lagi di masyarakat, padahal banyak yang secara diam-diam melaksanakan.

Dalam kesempatan ini, terdapat beberapa warga Desa Sumbersuko juga hadir dalam pertemuan terbatas ini untuk mengikutkan pusakanya untuk dijamasi.

Prosesi dimulai dengan diserahkan pusaka pada panitia pelaksana, kemudian satu per satu pusaka dijamaskan.

Penjamasan dilakukan dengan menggunakan air 3 sumber di Malang yaitu air Sumber Awan di Singosari, air sumber Duk dan air Sumber Songo. Air dari 3 sumber dicampur diberi mantra.

Kemudian air dituangkan di Plontang (wadah untuk mencuci dari bambu) yang sudah dicampur dengan bentis, buah Mengkudu matang, perasan air Jeruk Purut, air kelapa dan air sabun Klerek.

Pusaka dicuci sesuai dengan kondisinya dan dimasukkan dalam air yang sudah dicampur tadi, jadi pusaka tidak dimasukkan dalam urutan air.

Setelah dicuci dibubuhi uap menyan dan diberi mantera. Kemudian siap di Sidikara (didoakan dan ditanyai apa yang diharapkan oleh pusaka tersebut).

Sebelum acara Jamasan dilakukan ada selametan dengan Tumpeng Jamasan yang pada hari itu dilarang menyakiti ayam sehingga yang disajikan dengan lauk ikan-ikanan.

Prosesi dimulai dari pukul 20.00 WIB dan berakhir pada pukul 22.00 WIB yang kemudian dilakukan upacara Malam Suro dengan menghidangkan bubur Suroan.

Semua makanan yang disediakan disiapkan oleh warga desa Sumbersuko. Acara ini berlangsung dengan sakral dan khidmat serta menyematkan suasana Kejawen yang kental.

Setelah prosesi Sidikara (doa) untuk pusaka yang dilaksanakan pada pukul 24.00 WIB, acara berakhir.

Proses ini biasanya dapat dilakukan dalam waktu 3 hari. Dalam hal ini ada 3 tingkatan dalam melaksanakan Jamasan, yaitu secara nista, madyo dan utama.

Kegiatan ini, dilaksanakan bersama kelompok budaya dan pelaku spiritual dari “Jawi-Kawi’. Jadi pada dasarnya kegiatan ini adalah kegiatan bersama antara Dial dan kelompok Jawi Kawi.

Jamasan ini dipimpin oleh Ki Bondhan Rio, Dalang dari Malang. Jawi-Kawi adalah kelompok pembelajar budaya Jawa yang anggotanya dengan motivasi tinggi melaksanakan tradisi dalam budaya Jawa.

Jadi tidak sekedar belajar, tetapi melakukan praktek dalam kehidupan sehari-hari. Kelompok ini sudah berdiri sejak awal tahun lalu dan selalu berkumpul dan berdiskusi bersama di Pendopo Kembangkopi. Dalam kegiatan menguri-uri tradisi kehidupan Jawa dalam khasanah budaya Jawa.

Untuk mengetahui berbagai hal terkait Dial Foundation silahkan kunjungi :

Dial | Drive Innovations For Alternative Livelihood” https://dial.or.id

https://instagram.com/pendopo_kembangkopi?utm_medium=copy_link
https://instagram.com/dialfoundation?utm_medium=copy_link

Penulis : Pietra Widiadi Founder Dial Foundation. (*)