Jawa Menyembah Pohon, Jangan berdo’a yang buruk, Ndrawasi

Caption : Dr. Riyanto, M. Hum. (ist)

Oleh : Riyanto (*)

Hidup adalah “Cakra manggilingan. Berputar melingkar, jaya dan keruntuhan. “Sapa geting bakal nyanding. Siapa benci akan menjadi …..

Tulisan ini merespon keresahan teman teman atas, “orang Jawa penyembah pohon, diadabkan (menjadi beradab) oleh kedatangan bangsa Arab. Satu pernyataan gegabah, etnosentrisme keluar batas.

Selaras dengan buah pikiran Karl Marx; “agama opium bagi masyarakat. Manusia mabuk agama. Omongannya jadi ngelantur. Kata orang Jawa, agama hanya “boreh, tidak merasuk di hati yang dalam.

Sejarah mencatat. Atlantis pernah menaklukan Eropa, Amerika, Afrika, tentu termasuk Jazirah Arab. Apa dan siapa Atlantis ? Kerajaan besar, konon berada di kepulauan Indonesia lama.

Hasil penelitian Prof. Santos mungkin benar adanya. Tapi mari Kita bicara yang masih jelas jejak sejarahnya.

Indonesia itu bangsa petarung. Jawa Barat ada Kerajaan Galuh, Pajajaran.
Jawa Tengah ada Mataram. Sumatera ada Sriwijaya. Jawa Timur ada Singhasari. Men Shi, utusan Kubilai Khan dipotong kupingnya oleh Raja Kertanegara. Semua itu ada, kala bangsa Arab sebagian masih “nomaden, mengelilingi gunung dan padang gersang, jahiliyah.

Bahkan para ulama memperkirakan, keturunan Nabi Ibrahim AS dari Dewi Qonturoh, jauh sebelum Nabi besar Muhammad SAW, ada berkembang di Bumi Nusantara (Atlantis ?). Wujudnya adalah para Brahmana Resi, yang “lantiping panggraita, landeping panyokrobowo. Bersih pikirannya, tajam ramalannya.

Yaman (saya khususkan karena tanah dzuriyah Rasul) masuk ke Indonesia hampir bersamaan dengan China. Dua-duanya sedang berusaha mencari penghidupan. Dua-duanya juga membawa misi besar agama islam (Bani Qonturoh ?).

Di antara konflik. Jejak yang tampak, sebagian bangsa Arab, tidak mengakui adanya para Wali tanah Jawa. Karena para wali memang datang dari daratan China. Raja Demak Bintoro Raden Patah Jin Bun-ingrat adalah saksi kuncinya.

Kata-kata indah masih terngiang di telinga, “kejarlah ilmu walau sampai negeri China.

Kedekatan China dengan Belanda, jaman VOC, sebagai cikal bakal permusuhan.

Apa penyulutnya ? Jawabannya jelas, “warisan ! China mampu menangkap “warisan besar” sepeninggal Belanda, yakni keuangan. Yaman masih bergumul dengan halal haram, tahayul khurafat dan lain sebagainya.

Sampai hari ini, di Indonesia, masih berkutat pada bunga bank yang dikatakan “riba, dan dihakimi hukumnya haram.

Satu sisi China sudah lari menggilas negara negara dunia, termasuk Timur Tengah.

Beberapa waktu lalu para menteri luar negeri negara-negara Jazirah Arab, di Beijing menghadap penguasa komunis China. Untuk apa ?

Hari ini, bila tidak segera damai, Yaman akan menjadi negara termiskin di Jazirah Arab. Bukan runtuh karena kaum kafir atau bangsa komunis, tapi murni berebut kekuasaan.

Nasionalisme kebangsaan tidak pernah diajarkan. Pembiaran mimbar kebencian, agama menjadi kendaraan politik.

Konflik berkepanjangan kelompok syi’ah Zaidi (Houthi didukung Iran), dengan kelompok Sunni (pemerintah Yaman didukung Arab Saudi dan sekutunya), tak tahu kapan berakhirnya.

Bagaimana sebaiknya ? Bangsa Indonesia itu bangsa asing yang mempribumi. Tinggi tidak tinggi, hitam tidak hitam, keriting tidak keriting, mancung tidak mancung, bahkan cenderung pesek. Bhinneka Tunggal Ika …..

Kalau toh, terpaksa terlontar, Jawa ini primitif, mintalah ampun pada Tuhan.
Ingat utusan Kubilai Khan si raja diraja yang pernah dipotong kupingnya, karena menghina.

Dua keturunan Nabi Muhammad SAW yang harus diikuti; keluarga biologis yang “terpuji, dan keluarga “budi luhur” karena mengikuti perintahnya. Siapa itu ? inshaAllah Kita semua.

*) Penulis : DR Riyanto, Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya (UB)