Jelang Event Sound of Borobudur, Sandiaga dan Ganjar Pranowo Beri Apresiasi

Caption : Ganjar Pranowo. (ist)

BACAMALANG.COM – Borobudur Pusat Musik Dunia. Melalui Seminar dan Lokakarya Borobudur sebagai Pusat Musik Dunia, telah dibedah secara ilmiah bahwa candi Borobudur merupakan patokan peradaban, dan merupakan repository terlengkap pada masanya untuk keberadaan alat-alat musik yang terekam dalam sebuah situs sejarah.

Dengan adanya 226 relief alat musik, yang terpahat pada 40 panel relief, dan menampilkan lebih dari 40 jenis instrumen alat musik, menunjukkan bahwa pada masa 13 abad yang lalu situs ini merupakan salah satu pusat budaya dunia, dalam hal ini pada konteks musik. Tidak ada situs-situs lain di dunia pada era tersebut yang menampilkan relief alat musik sebanyak yang ada di Borobudur.

Gerakan Sound of Borobudur sendiri menjadi penafsiran ulang kembali dari seniman terhadap sejarah bangsanya dan terhadap kekayaan budaya yang dimiliki leluhur bangsa ini, dengan ditunjang bukti-bukti dan kajian secara akademis.

Upaya mewujudkan dan membunyikan kembali alat-alat musik dari masa lampau ini dilakukan para seniman tidak hanya dalam rangka membunyikan cerita dari panel Borobudur, namun juga tinjauan mengenai keberadaan khazanah alat musik Nusantara, yang informasi dan bukti sejarahnya telah terpahat di relief candi Borobudur.

Musik menjadi sebuah alat komunikasi, sekaligus sebagai media diplomasi. Hal ini telah berlangsung paling tidak semenjak 13 abad yang lalu sampai hari ini, baik dalam konteks lintas bangsa, maupun lintas daerah dan lintas etnis di nusantara.

Hal ini dapat dibuktikan dari keberadaan alat-alat musik yang tergambar di relief Borobudur, sebagian di antaranya sampai hari ini masih ada dan masih dimainkan di 34 provinsi di Indonesia, serta di lebih dari 40 negara di seluruh dunia. Sementara uniknya, sebagian dari alat-alat musik tersebut kini tidak lagi dapat ditemukan keberadaanya dalam kesenian yang ada di Jawa.

Dari realitas tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada masa lalu, Borobudur merupakan titik pertemuan lintas bangsa dan lintas budaya, serta sebagian dari alat-alat musik tersebut dibawa dari luar untuk dihadirkan di Borobudur. Atau bisa pula sebaliknya, berawal dari Borobudur, maka terjadilah penyebaran alat-alat musik tersebut ke segala penjuru nusantara dan berbagai belahan dunia.

SANDIAGA dan GANJAR PRANOWO MENGAPRESIASI

Jelang event akbar bergengsi Sound of Borobudur pada 24 Juni 2021 nanti sejumlah tokoh nasional memberikan apresiasi, dukungan moril dan doa untuk kesuksesannya.

“Sesuai arahan Presiden dan RPJMN 2020-2024, Borobudur telah ditetapkan sebagai satu dari lima Destinasi Super Prioritas (DSP), yang diarahkan untuk menjadi destinasi yang berkualitas dan berkelanjutan,” tegas Dr. H. Sandiago Salahudin Uno, BA., MBA, (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI).

Keutuhan dan kelestarian candi Borobudur serta pemberdayaan masyarakat lokal di sekitar candi menjadi sebuah prioritas dalam pengembangan DSP Borobudur.

“Saya mengapresiasi kolaborasi antar berbagai komunitas dengan para ahli sejarah, sosial, dan budaya untuk membuat kajian ilmiah yang sangat berkontribusi memperkuat nilai budaya dan historis, serta storynomics, di mana harus ada cerita dan ada nilai ekonominya,” jelasnya.

Candi Borobudur mengandung banyak sumber pengetahuan, termasuk dalam bidang musik. Dari berbagai relief di Borobudur bisa kita saksikan banyak relief yang menggambarkan pemusik sedang memainkan beragam alat musik, hal ini menunjukkan bahwa Borobudur merupakan pertemuan musik dunia di masa lalu. Hal ini tentu juga penting sebagai bahan kajian dan pertimbangan kebijakan pemerintah ke depan, khususnya dalam bidang pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menilai jika Sound of Borobudur sebenarnya reinventing yang dahsyat. Para musisi ini melakukan riset meng-eksplore alat musik yang ada di relief, kemudian di replika dan dibunyikan.

“Ada seniman-seniman yang menggagas idenya, dan ada ilmuwan-ilmuwan yang dilibatkan untuk mengkaji secara ilmiah. Mimpi para musisi itu, katanya bukan hanya sekadar untuk membuat, namun juga membunyikannya,” tandas pria kandidat kuat Capres Indonesia 2024 ini.

Mereka juga melakukan riset dengan hipotesis Borobudur memang adalah pusat seni, pusat musik dunia, atau kita adalah tempat bertemunya peralatan musik, instrumen dari seluruh dunia. “Saya ingin kelanjutan dari ini semua adalah, yang pertama, bagaimana alat musik ini diproduksi. Kemudian, yang kedua, bagaimana alat musik ini bisa dimainkan dan dilakukan workshop. Keberadaan alat-alat musik ini akan memperkaya Borobudur,” terangnya.

Ia menegaskan, mendukung upaya menjadikan Borobudur sebagai pusat kesenian dunia. Dengan temuan para musisi-musisi ini saya yakin bahwa Sound of Borobudur akan memperkaya dan menambah daya tarik kawasan ini. Ia ingin dorong agar nanti bisa terbangun sekolah musik di Borobudur, agar kemudian banyak orang akan sharing dan belajar di sini, jadi from sound of borobudur, menjadi show of borobudur. Itulah Borobudur School of Music.

“Mungkin ke depan kita tidak perlu membuat hal baru di sini, cukup mewujudkan apa-apa saja yang ada di relief candi itu dijadikan sebuah pertunjukan menarik. Tidak menutup kemungkinan nanti ada tarian-tarian yang terpahat di relief itu ke depan bisa digerakkan di kehidupan nyata. Maka orang yang berwisata nanti akan betah, karena akan mendapatkan soul-nya Borobudur,” pungkas Ganjar Pranowo. (*/had)