Jokowi Kunjungi Jatim di Tengah Sikon Pelandaian Covid, Akademisi UB Beri Sorotan

Caption : Akademisi Public Relations Jurusan Ilmu Komunikasi UB, Rachmat Kriyantono. (dok pribadi)

BACAMALANG.COM – Presiden RI Jokowi mengunjungi Jatim di tengah sikon pelandaian kurva Covid 19, Selasa (7/9/2021).

Beragam giat kenegaraan di Jatim di berbagai titik, memicu serangkaian dinamika menyertai kunker di medio awal September tersebut.

“Alhamdulillah memasuki medio awal September terjadi fenomena September Ceria, yakni adanya Flattening the Curve berupa pelandaian kurva Covid secara global Indonesia. Ini layak disyukuri dan dibarengi konsistensi kedisiplinan warga terhadap prokes,” tegas Akademisi Public Relations Jurusan Ilmu Komunikasi UB, Rachmat Kriyantono, Rabu (8/9/2021).

“Dalam perspektif komunikasi organisasi, langsung atau tidak langsung, presiden ikut menentukan karena sebagai manajer tertinggi di eksekutif. Ada keberhasilan manajerial dan pelimpahan kewenangan, keberhasilan policy, koordinasi dan kerjasama, serta dukungan dan partisipasi masyarakat yang makin baik,” tutur Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UB ini.

Data pada (5/9/2021), kasus aktif turun 5.180 kasus. Total ada 4.129 juta kasus dengan jumlah 3.8 juta orang sembuh.

“Presiden dan pemerintahan tampak sangat fokus mengatasi dampak kesehatan dan ekonomi,” tutur pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

Program PPKM berbagai level yang berbasis menjaga jarak sosial adalah tepat karena media penularan adalah udara.

Dampak ekonomi masyarakat kecil juga diatasi dengan berbagai bantuan sosial tunai (BST).

Koordinasi pemerintah Pusat dan daerah sudah makin baik. Ego sektoral dan saling debat yang pernah terjadi di awal pandemi sudah tak terdengar di media.

Keberhasilan ini juga karena keberhasilan komunikasi politik merangkul parpol-parpol.

Terakhir, parpol koalisi makin gemuk dengan bergabungnya satu parpol. Intrik-intrik politik pun berkurang.

Gaya komunikasi blusukan jokowi terbukti juga ampuh. Komunikasi yang bisa empati (sambung roso).dan menemukan masalah serta solusi dengan cepat dan tepat sasaran.

Memang ada kekurangan. Itu biasa. Ini situasi krisis multidimensi, semua tak terduga dan cepat berubah.

Yang paling mencolok adalah kekurangan dalam hal manajemen komunikasi.

Pemerintah masih terkesan “pemadam kebakaran”, belum memiliki “tukang keker” yamg antisipatif.

Ke depan perlu menempatkan para pakar komunikasi public relations sebagai penanggung jawab komunikasi kenegaraan.

Jangan karena ini krisis kesehatan, yang jadi manajer komunikasi seorang dokter. Ada beda pendekatan.

“Satu hal yang menarik adalah adanya pujian dari politisi Malaysia terkait keberhasilan penanganan Covid di RI.
Pujian dari negara lain ini menunjukkan bangsa kita dihargai. Modal besar bagi pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan investor dan relasi luar negeri” urainya.

DEMO BAWA POSTER

Adanya “demo tunggal” warga yang membawa poster, menurut Rachmat dianggap sebagai hal yang biasa dalam iklim demokrasi.

“Tidak mungkin policy pemerintah memuaskan semua warganya. Berbeda pendapat adalah hak warga negara yang dilindungj UU. Hanya, menyampaikan pendapat juga diatur UU. Demokrasi sudah mengatur mekanisme menyampaikan pendapat,” tukasnya.

“Demo saat presiden Jokowi datang ke Jatim ini kecil implikasinya. Masyarakat tidak menganggap serius. Lamanya pandemi ini bisa membikin masyarakat menyadari bahwa tugas mengatasi pandemi ini sulit. Masyarakat sekarang ini lebih berpikir bagaimana hidupnya normal dan ekonomi lancar segera,” pungkasnya. (had)