Kasus Covid-19 Semakin Melonjak, Pasien Punya Alternatif Isolasi Mandiri di Hotel

Kamar Ascent Premiere Hotel Malang yang digunakan untuk isolasi mandiri. (ist)

BACAMALANG.COM – Lonjakan penderita covid-19 di Kota Malang pada masa PPKM kali ini membuat hampir seluruh rumah sakit kehabisan kamar untuk rawat inap. Pada dasarnya mereka dengan gejala ringan disarankan untuk isolasi mandiri di rumah, namun dengan mempertimbangkan berbagai resiko, sejumlah pasien memilih alternatif paket isolasi mandiri (isoman) di hotel.

Berbeda dengan kondisi saat hotel menawarkan paket isoman tahun lalu, kali ini paketnya bukan sekedar tidak kontak dengan orang lain, namun lebih kepada perawatan medis yang mencukupi.

Seperti Persada Hospital Malang, yang menyediakan Paket Isotel atau Isolasi Mandiri di Hotel, bagi masyarakat yang terpapar Covid-19 dan ingin menjalani isolasi mandiri di hotel. Rumah Sakit di kawasan Araya ini telah bekerjasama dengan hotel-hotel di Malang untuk menampung pasien yang ingin menjalani isolasi mandiri.

Dikutip dari akun Instagram Persada Hospital, paket ini menyediakan pemantauan kesehatan oleh tim medis profesional, seperti di rumah sakit. Paket Isotel Persada Hospital bekerjasama dengan Same Hotel Malang yang meliputi: telekonsultasi dokter spesialis, visite dokter umum, pendampingan perawat (pemeriksaan umum + tanda-tanda vital), pemeriksaan swab RT-PCR, Vitamin dan obat-obatan, 3 kali makan (diantar ke kamar), penginapan hotel 7 hari, Amenities, pembersihan ruang, disinfektan. Namun semakin bertambahnya penderita covid-19 yang menginginkan isolasi mandiri di hotel membuat Persada Hospital menambah kamar di Ascent Premiere Hotel Malang.

Marketing Communication Ascent Premiere Hotel Malang Nova Kurniawan menjelaskan, paket ini merupakan kerjasama dengan Persada Hospital.
“Jadi memang kita terima pasien isoman dengan syarat harus memiliki surat rujukan dari RS, dan merupakan pasien gejala ringan atau OTG,” ujarnya kepada Bacamalang.com, Selasa (13/7/2021).

Harga paket yang ditawarkan Rp. 17,9 juta untuk 10 hari dan Rp. 22,8 juta untuk 14 hari. Nova mengungkapkan, konsekuensi dari isotel ini, pihaknya tidak menerima tamu reguler atau umum. Proses check in tamu, pengantaran makanan dan sebagainya sesuai dengan Standart Operation Procedure (SOP) yang ditetapkan dan dikerjakan tenaga kesehatan.
“Staf kami terutama dari F & B, housekeeping dan engineering disediakan APD dan PCR rutin 3 hari sekali, tapi tidak ada kontak sama sekali dengan tamu atau pasien yang menginap,” tegasnya.

Hotel dengan 9 lantai ini menyediakan 90 kamar dari 128 kamar yang ada untuk isotel. Nova mengaku pada hari pertama, Selasa, 13 Juli ini, sudah langsung terisi 60 kamar. “Lantai 1 kami sediakan untuk tenaga kesehatan dan dokter, sementara lantai 6 untuk isolasi staf hotel,” imbuhnya.

Menurut Nova pasien yang isotel ini bukan hanya dari perorangan tapi juga rombongan karyawan kantor. Ia berharap pasien akan segera pulih dengan isolasi mandiri di hotelnya. “Hotel kami aman, karena berbeda akses antara tamu dan staf, selain itu jendela kamar yang full membuat para pasien bisa berjemur di kamar selain di area kolam renang,” tandasnya. (ned)