Kasus Pemerkosaan Disertai Penganiayaan di Blimbing, Budayawan Malang Paparkan Ungkapan Satire

Caption : Akademisi UB (Universitas Brawijaya) dan Budayawan, Dr. Riyanto, M.Hum. (ist)

BACAMALANG.COM – Meski 10 pelaku penganiayaan dan kekerasan seksual terhadap siswi SD di Kecamatan Blimbing, Kota Malang, dibekuk polisi, namun dampak psikososial yang dialami korban dan masyarakat, dari peristiwa tersebut, sulit dihilangkan begitu saja.

Peristiwa yang tergolong extraordinary case ini memantik reaksi dari publik, akademisi dan budayawan. Akademisi UB (Universitas Brawijaya) Malang yang juga Budayawan, Dr. Riyanto, M.Hum, memaparkan sorotan terkait kasus ini dengan tulisan Satire khas budayawan. Berikut tulisan selengkapnya :

KEKERASAN SEKSUAL
ibu, tanggung jawabmu

“Mahasiswi lapor polisi !
Gemuruh, kilat menyambar, gerimis, tertawa miris. Di tembok fakultas, spanduk mengingatkan, “anti bullying dan kekerasan seksual. Bukan kekerasan, bisa jadi wisata rohani yang tak tertahankan.

Rumah tangga semakin renta.
Terngiyang bak truk pinggir jalan, “isih enak jamanku to, masih enak jamanku khan ? Jaman orde baru, istri istri cantik, memang masih baru.

Tapi jangan salah. Sekarang lebih enak lagi. Meski tua dan “wagu”, hati masih “semriwing” menatap mahasiswi.
“Peringatan terakhir. Kalau kamu teruskan, saya tidak bisa menolong lagi”.

Pak Ageng harus diancam. Kejadian ini pengaduan kesekian kali. Team saber “kekerasan seksual” harus menata ulang, tulisan bak truk pinggir jalan.
“Bagaimana dengan pak Alex, pak Bagus, pak Catur dll ? Membela diri, tidak sendiri. Spanduk itu tanda sudah, terlalu ……

Di tempat lain. Kehamilan meningkat.
Sobek bungkusnya, masukkan ibu jari, dan bermainlah …….Agus menjelaskan dengan tegas, “kondom, dimasukkan ibu jari, jempol. Petugas Lapangan Keluarga berencana tidak berguna.

Perubahan nilai. Orang tua bukan tempat mengadu. Ibu asyik arisan, anak diskusi dengan dunianya sendiri. Do’a yang tersisa, juga tidak pernah dipanjatkan ibunda lagi.

Menikmati uang kiriman dari luar negeri. Semula bapak tenang di rumah, kini suka main remi. Bahkan diam mengetuk pintu belakang tetangga yang terkunci.

“Kebrongot ……Lorong lorong memicu birahi. Kamar-kamar sempit,
menghantar anak hilang. Dalam pelukan jahanam. Lepas gendongan ibu, youtube jadikan guru.

Bang Haji …..Do’a ibumu dikabulkan Tuhan, dan kutukannya jadi kenyataan ……Kali ini bang Haji sedang bermimpi.

Jaman reformasi, “bak truk diganti, “enak jamanku to !? dengan gambar pak Jokowi. Guru digugu dan ditiru.
Bapak, tidak sekedar numpak. Ibu “iketane khalbu”. Ndongeng bagi anak-anaknya.

Masih ada waktu. Lembaga di luar sana berbuatlah. Nusantara ada, berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa. (had)