Kebangkitan Nasional, Covid, dan Makna Syawal, Begini Kata dr Umar

Foto: dr Umar Usman MM. (ist)

BACAMALANG.COM – Hampir sama dengan hari kemerdekaan NKRI, maka peringatan hari kebangkitan Nasional (Harkitnas) menjadi momen istimewa yang suci untuk segenap anak bangsa melakukan napak tilas, berkontemplasi demi menyambung jiwa raga dengan ruh perjuangan para pahlawan bangsa yang rela berkorban jiwa, harta, benda dan pemikiran.

Banyak tokoh masyarakat, tokoh agama memberikan refleksi dan ulasan terkait Harkitnas yang wajib diperingati rakyat Indonesia.

“Esensi dari Harkitnas adalah kesadaran untuk bangkit bukan hanya raga namun juga jiwa dan spiritualitasnya. Maka hampir mirip dengan saat perjuangan kemerdekaan dan Reformasi 98 lalu (menghadapi ORBA). Bukan hanya menjadikan Covid sebagai musuh bersama, namun juga bagaimana caranya supaya ada percepatan penanganan agar sendi-sendi kehidupan membaik,” tegas Wakil Ketua Satgas Covid NU Malang Raya, dr Umar Usman MM.

KLASTER BARU PASCA LEBARAN

Seperti diketahui, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyebutkan petugas gabungan telah mengetes 6.000 pemudik dan wisatawan secara acak. Hasilnya, 50 pemudik dan tiga wisatawan terkonfirmasi positif Covid-19.

Lima pelaku usaha wisata di Pangandaran Jawa Barat, positif Covid-19. Lima pelaku usaha yang positif didapati dari Pantai Batu Hiu. Dari total 31 pelaku usaha di kawasan objek wisata itu, terdapat lima orang yang positif.

Sementara itu, berdasar hasil rapid test antigen secara acak, tiga wisatawan di objek wisata Dino Land dan Lembah Asri Serang (D’Las) Kecamatan Karangreja, Purbalingga, terkonfirmasi positif Covid-19.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi membuka kemungkinan penutupan tempat wisata jika ada kenaikan jumlah kasus Covid-19.

Terkait hal yang sama, Pemkab Tanjab Barat Provinsi Jambi berlakukan penutupan objek wisata menyusul bertambahnya jumlah warga yang positif tertular wabah Corona Virus Disease (Covid-19) di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat).

“Dari berbagai media, kita bisa mengetahui adanya pasien baru Covid pasca Lebaran (mudik) di berbagai lokasi. Yang penting kita jangan saling menyalahkan namun bagaimana mencari solusi yang tepat, terstruktur, sistematis dan humanis,” tutur pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang ini.

COVID MUSUH BERSAMA

Pria alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini mengungkapkan, dengan menjadikan Covid musuh bersama maka tidak ada suatu hal pun yang tidak mungkin dilakukan selama semuanya dilandasi pada kebenaran dan kemaslahatan.

“Kalau Covid dianggap musuh bersama ya kita akan kompak, bersatu rawe-rawe rantas memberantas. Kuncinya kebersamaan, gotong-royong, kohesif, semua elemen bangsa cancut tali wondo menghadapi Covid,” papar pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

Terkait bulan Syawal, maka pria yang juga senior KAHMI ini mengingatkan kembali makna arti Syawal yang berarti peningkatan alias progresivitas amal shalih dan ketaqwaan. “Makanya kita di Bulan Syawal diperintahkan untuk meningkatkan ketaqwaan dengan puasa Sunnah 6 hari. Diharapkan hal ini berjalan istiqamah dan meluas pada Keshalihan sosial,” tutur pria berjuluk Dokter Rakyat ini mengakhiri. (had)