Kepsek SMKN 10 Ditahan, Kini Periksa 15 Saksi dan Telusuri TSK Baru

Foto: Kejari Kota Malang saat memberikan keterangan pers. (yga)

BACAMALANG.COM – Adanya kasus dugaan Korupsi di SMKN 10 Kota Malang, kini Kejari Kota Malang telah mengamankan 1 TSK (tersangka Dwijo Lelono, Kepala SMKN 10 Kota Malang), memeriksa 15 saksi, dan menelusuri (membidik) TSK baru.

“Hari ini, Kami memeriksa tersangka, yakni Kepala SMKN 10. Dan setelah itu, dilakukan penahanan kepada yang bersangkutan mulai hari ini sampai 26 Juni 2021,” terang Kajari Kota Malang, Andi Darmawangsa.

Sekilas informasi, usai diperiksa sekitar lima jam di Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang, Kepala SMK Negeri 10 Kota Malang, resmi ditahan.

Ia ditahan selama 20 hari ke depan, sampai 26 Juni 2021. Penahanan itu, dalam dugaan kasus tindak pidana korupsi dalam proyek ruang kelas di sekolah

Kajari Kota Malang Andi Darmawangsa menerangkan, pihaknya menahan Dwijo Lelono, Kepala SMKN 10 Kota Malang mencegah tersangka melarikan diri, menghilangkan barang bukti serta mengulangi perbuatannya lagi.

Andi mengatakan kemungkinan masih ada tersangka baru lagi. Mengingat pemeriksaan masih akan terus dilakukan. “Hingga saat ini, sudah 15 orang diperiksa. Termasuk tersangka, bisa saja diperksa lagi. Terkait apakah akan ada tersangka lain, ya semua mungkin saja. Karena tindak pidana korupsi, biasanya tidak sendiri,” lanjut Kajari.

Tersangka harus mendekam di Lapas sambil proses lebih lanjut. Ia terancam pasal 2 (1), 3 jo 18 UU 31 nomor 1999 diubah dan ditambah UU 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi.

LAKUKAN MARK-UP, RUGIKAN Rp 400 JUTA

Sebelumya, Kejari Kota Malang telah menetapkan kepala SMK Negeri 10 Kota Malang, sebagai tersangka. Ia ditetapkan tersangka atas dugaan tindak pidana korupsi, dalam proyek pembangunan gedung ruang sekolah.

Kasi Pidsus Dyno Kriesmiardi menerangkan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan kepada sejumlah orang dari internal sekolah dan pihak lain.

“Untuk yang bersangkutan, sudah Kami tetapkan sebagai tersangka. Ia menjabat sebagai kepala sekolah di SMK Negeri 10 Kota Malang. Kami sudah memintai keterangan beberapa orang dari internal sekolah,” terang Dyno.

Ia menambahkan, yang bersangkutan diduga terlibat mark up pembangunan gedung sekolah. Karena kualitas dan volume pembangunan tidak sesuai dengan spesifikasinya.

“Jadi kalau sesuai petunjuk teknis, proyek tersebut harus melibatkan pihak lain. Tim Ahli, arsitek, sipil dan pengawas atau konsultan teknis. Namun yang terjadi, malah dikerjakan oleh internal sendiri,” lanjutnya.

Dengan begitu, lanjut Dyno proyek pengerjaan ruang yang terdiri dari dua lantai itu, kualitas dan volume, tidak sesuai. Atas kejadian itu, kerugian negara diperkirakan mencapai sekitar Rp 400 juta. (*/yga/had)