Keren, Lokalatih Kepenulisan Lintas Iman Lahirkan Penulis Generasi Z

Caption : Lokalatih Kepenulisan Lintas Agama dan Kepercayaan. (ist)

BACAMALANG.COM – Keren. Setidaknya hal tersebut tercuat dari gelar Lokalatih Kepenulisan oleh FISIP Universitas Brawijaya (UB) untuk memperkuat silaturahmi lintas iman dan mencetak penulis muda pada generasi Z. Penguatan silaturahmi lintas iman dan kepercayaan serta literasi pada generasi Z yang tidak mengalami era reformasi, saat ini menjadi hal yang penting.

“Kami mengadakan lokalatih Kepenulisan. Kegiatan ini semoga bisa jadi sarana penguatan silaturahmi antar pemuda pemudi lintas iman dan kepercayaan. Kami juga ingin menguatkan literasi, mencetak penulis muda, serta menghasilkan tulisan artikel di media dan buku,” tegas Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, M. Yusli Effendi, S.IP, M.A yang juga Ketua Pelaksana.

“Kami ingin merekam pengalaman dan suara Generasi Z (yang tak mengalami orba dan Reformasi 98) dalam melihat keberagaman dan keberagamaan di Indonesia. Juga untuk pengabdian kepada masyarakat sebagai tugas akademisi,” terang Yusli.

“Kegiatan edukatif ini juga diharapkan bisa mensyiarkan narasi positif dan damai. Juga memproduksi kontra narasi terhadap ujaran kebencian dan intoleran,” papar Yusli.

Sekilas informasi, bertempat di EJSC (East Java Super Corridor) Malang, FISIP UB bekerjasama dengan Komunitas Gubuk Tulis menghelat Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk : Gerakan Menulis Keberagaman Lintas Iman, Senin, 21 Juni 2021 kemarin. Menariknya, 30 (tiga puluh) peserta yang hampir semuanya merupakan para belia generasi Z yang lahir tahun 2000-an merupakan perwakilan dari enam agama dan kelompok agama minoritas.

Peserta lokalatih kepenulisan ini selain dari muda-mudi Muslim, Kristiani, Hindu, Budha, Konghucu, juga berasal dari komunitas Syiah, Ahmadiyah, dan penghayat kepercayaan. Dosen FISIP UB, Yusli Effendi, menjadi narasumber pertama yang membuka sesi awal dengan mendiskusikan kondisi keberagaman di Indonesia dan Kota Malang serta tantangan ekstrimisme.

Selain mendedahkan soal kondisi keberagaman dan keberagamaan paska-reformasi, Yusli juga menyoal isu-isu intoleransi. Baginya, sudah saatnya kita tidak sekadar memaknai toleransi sebagai sekadar memberi ijin (permission) terhadap mereka yang berbeda secara pasif, tapi beranjak mengejawantahkannya dalam aksi hidup bersama secara aktif serta meninggikan respek dan marwah kemanusiaan.

“Saat derajat toleransi Kita makin tinggi, mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda bukan hanya dihormati dan direkognisi dalam ranah sosial dan politik secara setara, tapi juga bahwa pandangan keagamaan dan cara hidupnya sama bernilainya dengan keyakinan Kita,” terang Yusli yang juga Alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

MATERI BERNAS, PESERTA ANTUSIAS

Pemateri kedua yang juga koresponden Tempo, Abdi Purmono, menyampaikan teknis penulisan untuk memberi wawasan peserta soal langgam, bentuk, dan ide penulisan isu keberagaman lintas iman. Dengan pengalamannya, ia memberi gambaran bentuk-bentuk penulisan esai, opini, atau human interest yang memudahkan peserta dalam mengisahkan pengalaman keberagamaanya.

Layaknya lokalatih, di sesi ketiga peserta ditugaskan untuk membagi diri ke dalam kelompok dengan anggota lintas agama dan menuliskan amatannya soal isu keberagaman dan kemudian bergantian memaparkannya ke forum untuk mendapatkan umpan balik dan masukan dari pemateri.

Acara ini bertujuan menghasilkan buku dan artikel yang akan merekam suara-suara para belia Generasi Z dalam meneroka wajah keberagaman Indonesia. Untuk itu, pertemuan lanjutan akan diagendakan dua pekan berikutnya untuk berproses menajamkan naskah tulisan.

Salah satu peserta yang merupakan calon pendeta muda dari Gereja Kristen Jawi Wetan, Indra, mengaku sangat berbahagia bisa bersama kawan-kawan mudanya berbagi keresahan. Sementara Ahmad Haddad, peserta dari Ahlul Bayt Indonesia (ABI) Malang menyatakan bahwa ia dan komunitas Syiah sangat menantikan acara-acara seperti ini untuk mengeratkan silaturahmi sebagai sesama anak bangsa dan dengan terbuka mengundang peserta atau komunitas lain yang ingin mengunjungi atau live-in (tinggal bersama beberapa hari) untuk saling mengenal lebih baik.

Pemilihan tempat di EJSC Malang juga bukanya tanpa maksud. Tempat yang dulunya dikenal sebagai Kantor Bakorwil III Malang di Jalan Simpang Ijen ini telah menjelma menjadi wadah para muda milenial dan Gen Z untuk bertemu dan berkarya. Tak hanya menyediakan kafe yang kekinian dan asyik buat berselancar di dunia maya, tempat ini juga memiliki Millenial Job Center (MJC) yang memberi fasilitasi bagi pelaku bisnis kecil atau UMKM untuk lebih memanfaatkan dunia digital untuk mengembangkan bisnisnya. (*/had)