Kisah Perempuan Pendaki, Puas Taklukkan Gunung Rinjani

Caption : Luky Nuraini Rosyidah mengenakan baju Korpri merayakan harlah Pancasila di Puncak Rinjani. (dok pribadi)

BACAMALANG.COM – Jika di dunia ini ada pendaki gunung laki-laki, itu sudah lumrah dan biasa. Namun kisah dan kesannya jadi berbeda, jika pendaki gunung tersebut adalah perempuan alias kaum hawa. Seperti kisah Luky Nuraini Rosyidah, pendaki gunung asal Mojokerto.

Ia mengaku hobi mendaki dalam 1 tahun terakhir ini. Dasarnya adalah kecintaannya dengan alam. Selain itu, mendaki juga dinilai sebagai jenis olah raga murah dan penuh tantangan.

“Pertama kali saya naik Gunung Manglayang. Karena kebetulan saya pendidikan di STPDN, Jatinangor. Itu treknya lumayan untuk pendaki pemula. Ketinggian 1818 MDPl. Waktu itu Kita mendaki bersama teman 1 angkatan, purna praja STPDN 17 tahun 2006,” terang perempuan yang juga Kasi Usaha Jasa Pariwisata Disbudpar Provinsi Jatim ini.

Ia menceritakan jika dirinya bergabung dengan komunitas. “Komunitas terbentuk secara tidak sengaja, karena sering bersama-sama memiliki hobby mendaki. Kami menamai komunitas kami Sasuh Pena Yaitu Saudara Asuh Pecinta Alam. Anggota dari seluruh Indonesia, awalnya dari gabungan purna seluruh angkatan, tapi terus melebar. Karena ada saudara-saudara dari TNI AL, dan profesi umum ikut bergabung,” urai perempuan lulusan STPDN tahun 2009 ini.

Ia mengatakan sebelumnya tidak punya perlengkapan pendakian. “Awalnya tidak punya sama sekali perlengkapan mendaki. Saya sering mendaki memakai sepatu kets. Bahkan saat mendaki di Rinjani saya masih memakai sepatu kets, tapi ternyata itu sulit dan sangat tidak recommended untuk safety kita. Sekarang Alhamdulillah perlengkapan mendaki sudah lumayan lengkap. Keadaan mengajarkan kita tentang keselamatan. Betapa pentingnya sepatu mendaki, treking pole, sleeping bed, carier, jas hujan ponco, bag cover dan perlengkapan mendaki lainnya untuk keselamatan kita,” tukasnya.

Atas hobi kerasnya tersebut, kerapkali Luki mendapat reaksi dari ibunya. “Paling keras reaksi Ibu. Karena saat mendaki bisa dipastikan sering tidak ada sinyal. Dan Beliau pasti sangat khawatir,” paparnya.

Diungkapkannya, mendaki adalah salah satu jenis jalan-jalan yang memiliki banyak manfaat. Beberapa faedah tersebut meliputi : melatih fisik karena merupakan salah satu olah raga minat khusus yang berbonus keindahan alam, melatih mental. Seorang pendaki akan mudah menyerah jika dia tidak memiliki kekuatan mental, bisa menikmati keindahan alam tanpa berkerumun dan
refresh jiwa, sejenak keluar dari rutinitas.

Ia mengungkapkan ada kendala sebelum mendaki. “Kendalanya ya kadang sulit untuk mendapatkan ijin keluarga. Jadi harus pelan-pelan pendekatan dengan keluarga,” sambungnya.

Ia menyebutkan pentingnya bisa membagi waktu. “Karena kita jarang mendaki sendiri, jadi kita harus bisa membagi jadwal kita dengan baik. Antara waktu mendaki, keluarga dan pekerjaan. Tapi selama ini masih bisa ditemukan jalan tengahnya karena seringnya kita mendaki saat weekend,” imbuhnya.

“Saya mendaki paling lama saat di Rinjani, treking jauh, 3 hari 2 malam untuk perjalanan saja. Karena waktu itu kita sama-sama memiliki impian untuk merayakan hari lahir Pancasila 1 Juni di puncak Rinjani. Karena bagi kami, Rinjani adalah gunung impian. Menariknya, waktu itu kami janjian memakai baju Korpri, dan ada saudara dari TNI AL ikutan,” terangnya.

Saat yang menurutnya paling mengesankan adalah ketika 1 Juni 2021 lalu ia bisa sama-sama mencapai puncak Rinjani merayakan hari kelahiran Pancasila. Ia menceritakan, peristiwa berkesan lainnya adalah ketika bisa barbequean diatas gunung, waktu mendaki di Gunung Andong, Jateng. Sebelum adanya PPKM, ia juga sempat mendaki Gunung Ijen.

“Harapannya, hobby mendaki gunung bisa menjadi salah satu Trend di masyarakat. Karena sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Walau juga tidak bisa dianggap enteng. Karena safety kita harus tetep terjaga. Saat ini apalagi pandemi, olah raga menjadi kebutuhan wajib, dan mendaki menjadi salah 1 alternatif pilihan. Karena selain olah raga, menikmati keindahan alam, menyehatkan jiwa, masa pandemi mengharuskan kita untuk mengurangi olah raga di tempat tertutup. Yang pasti jangan pernah merusak alam, atau mengotori alam dengan sampah,” tandasnya.

“Tiap kali mendaki, kami sering miris ketika masih banyak sampah berserakan. Tapi komunitas kami selalu mewajibkan kurvey (bersih-bersih) setelah camping, jadi kami selalu membawa sampah turun dan membuang di tempat sampah,” paparnya.

Bagi pembaca yang ingin bersilaturahim serta mengetahui info lebih jauh bisa berkunjung di Instagram (IG) : IG @luckyrosyidah, dan IG @sasuhpena. (had)