Kisah Unik Perempuan Muda Pendaki Gunung, Termotivasi dari Lansia Tuntaskan Perjalanan ke Puncak

Caption : Eliza Zuraida Zen. (dok pribadi)

BACAMALANG.COM – Emansipasi dan pandemi memang tak punya relasi khusus. Namun pastinya adanya pandemi memaksa orang untuk mentaati aturan pembatasan demi keselamatan bersama. Hal ini menjadikan komunitas perempuan pendaki gunung bersabar menunggu adanya semacam relaksasi aturan agar bisa traveling dan hiking kembali.

“Saya suka mendaki gunung karena adanya rasa kebersamaan ketika mendaki. Muncul kepuasan setelah mendapat summit. Bisa menikmati suasana yang menyenangkan serta pemandangan yang indah,” tegas Perempuan penghobi mendaki gunung,
Eliza zuraida Zen.

Ia mengaku hobi mendaki gunung sejak tahun 2020. Kali pertama mendaki Gunung Pundak di Mojokerto. Bersama suami, dan teman-teman komunitas (Sasuhpena) pada Oktober 2020,” terang perempuan yang menetap di Kabupaten Bojonegoro ini.

Selanjutnya ia menceritakan sekelumit tentang komunitas Sasuhpena. “Kami hanya kumpulan orang-orang yang suka menikmati alam. Mungkin belum bisa dikatakan komunitas. Siapapun adalah saudara kami sesama penikmat alam. Setiap bulan sekali kami ada jadwal untuk naik gunung Tapi saya terkadang tidak ikut. Maklum ibu-ibu. Adakalanya kegiatan rumah / anak tidak dapat diganggu gugat,” urai perempuan alumnus STPDN tahun 2009 ini.

Ia mengatakan memiliki beberapa perlengkapan dan peralatan untuk hiking. “Saya punya tenda, matras, matras angin, kompor, nesting, tas carier, sepatu mendaki, trekking pole, senter tenda, dan headlamp Ya itu sudah cukuplah untuk peralatan dan perlengkapan standar mendaki gunung,” ungkap perempuan yang sehari-harinya bekerja di Bagian Pemerintahan Pemkab Bojonegoro, Kasubag Kerjasama dan Otda ini

Ia mengungkapkan reaksi keluarga (suami dan anak) terhadap hobi ini. “Suami mendukung, soalnya hobbynya sama (traveling, hiking, fotografi). Orangtua kurang mendukung. Karena kalau anak-anak pas gak diajak naik gunung beliau yang direpotin, dititipin anak-anak,” imbuhnya.

“Terakhir mendaki bulan Juni 2021 di Rinjani. Setelah itu PPKM belum mendaki lagi. Rencana Agustus ke gunung Prau Jateng,” terangnya.

LANSIA PENDAKI GUNUNG

Berikutnya ia mengungkapkan tentang pengalaman paling mengesankan. “Pengalaman paling mengesankan yaitu waktu summit di Rinjani. Dengan trek yang bikin orang putus asa. Kami bertemu ibu-ibu satu kelompok dengan kami. Bisa dibilang nenek-nenek usia 64 tahun. Kami panggil Omi. Dia sanggup sampai puncak, bahkan menjadi semangat kami untuk tidak putus asa. Akhirnya kami semua bisa mencapai puncak semua dengan melihat Omi yang sudah jauh di depan kami. Benar-benar amazing,” imbuhnya.

Ia menjelaskan manfaat mendaki banyak sekali. “Manfaatnya Lebih menghargai alam, Mendapatkan banyak saudara. Jadi tidak mudah putus asa,” tuturnya.

Dikatakannya, untuk kendala cukup beragam. “Kalau ibu-ibu macam saya, pasti paling susah ninggalin anak, apalagi anak saya yang kecil masih belum sampai 2 tahun umurnya. “Selama ini kalau saya naik gunung, anak saya ajak naik gunung, atau dititipkan ke orangtua, tapi tetap ada ART (asisten rumah tangga) yang bantu jaga anak biar gak terlalu capek orangtua,” terangnya.

Bagi pembaca yang ingin bersilaturahim serta mengetahui info lebih jauh bisa berkunjung di Instagram (IG) : @rida_zen dan IG @sasuhpena. (had)