KLB Batuk Rejan di Malang Meningkat, Ketahui Gejala dan Cara Penanganan

Sekretaris Dinkes Kota Malang dan Wakil Ketua Satgas Covid 19 Malang Raya, dr Umar Usman MM. (ist)

BACAMALANG.COM – Setelah beberapa tahun tanpa kasus, pada pertengahan tahun 2023 terkonfirmasi enam (6) kasus penyakit pertusis (Batuk Rejan) di Kota Malang, sehingga menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Masyarakat wajib mengetahui gejala Batuk Rejan, dan antisipasinya,” tegas Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang dr Umar Usman MM, kepada BacaMalang.com, Senin (7/8/2023).

Batuk Rejan adalah infeksi bakteri pada saluran pernapasan dan paru-paru yang sangat mudah menular dan bisa mengancam nyawa, terutama bila menyerang bayi dan anak-anak.

Batuk Rejan dapat berbahaya bagi bayi yang belum divaksinasi atau bayi di bawah usia satu tahun dan komplikasi yang mungkin terjadi meliputi infeksi telinga tengah, pneumonia, kejang, kerusakan otak, dan bahkan kematian.

Pria alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini menuturkan, Gejala utama batuk rejan meliputi tiga tahap: Tahap catarrhal, mirip pilek biasa, dengan gejala seperti hidung tersumbat, bersin, batuk ringan, dan demam rendah, berlangsung selama satu hingga dua minggu.

Tahap paroksismal, ditandai serangan batuk yang parah dan berulang-ulang. Batuk dapat berlangsung selama beberapa menit, dan sering kali disertai dengan “serangan napas” atau suara mengi yang keras ketika penderita mencoba bernapas setelah serangan batuk.

Batuk pada tahap ini bisa sangat kuat dan berat, menyebabkan kelelahan dan mungkin muntah, berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Tahap konvalesen, merupakan tahap pemulihan, gejala batuk perlahan-lahan mulai membaik, meskipun batuk ringan masih mungkin terjadi selama beberapa minggu

Pria yang juga Wakil Ketua PC NU Kabupaten Malang ini mengungkapkan, pencegahan Batuk Rejan adalah melalui imunisasi rutin menggunakan vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus) yang diberikan dalam serangkaian dosis saat bayi dan anak-anak masih muda.

Vaksinasi juga dapat membantu melindungi ibu hamil dan anggota keluarga lainnya dari penularan penyakit.

Lelaki yang dijuluki Dokter Rakyat ini menguraikan, penting pula diketahui ada tujuh (7) makanan yang harus dihindari saat batuk agar cepat sembuh, meliputi makanan yang digoreng (gorengan), makanan pedas, makanan manis, Susu dan produk olahannya, makanan olahan, makanan pemicu alergi dan minuman berkafein.

Sementara untuk pantangan saat batuk antara lain merokok, berbaring setelah makan, dan tidur dengan posisi telentang.

Penanganan yang dapat ibu lakukan saat Si Kecil mengalami batuk rejan adalah dengan memberikan obat antibiotik untuk melawan penyebab infeksi seperti Kortikosteroid untuk mengatasi peradangan pada saluran pernapasan yang dapat diberikan melalui infus.

Untuk lama penyembuhan membutuhkan waktu 4—8 minggu, sehingga dikenal juga dengan sebutan batuk seratus hari. Tanda Pertusis juga disertai dengan tarikan napas mengi (berbunyi ngik-ngik).

Selain melakukan imunisasi, perlu dilakukan upaya penunjang lainnya agar terhindari dari PD3I, seperti menjaga asupan gizi, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, dan menerapkan protokol kesehatan lainnya seperti menerapkan etika saat batuk dan memakai masker ketika sakit.

Penting juga untuk menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi batuk rejan, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi seperti bayi dan anak-anak kecil yang belum divaksinasi sepenuhnya.

“Selain itu, menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan secara teratur dan menutup mulut saat batuk atau bersin dapat membantu mencegah penyebaran penyakit ini,” pungkasnya.

Pewarta : Hadi Triswanto
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki