Kontras Anggap Kekerasan Seksual di Kabupaten Malang Adalah Tragedi

ist

BACAMALANG.COM – Komisi untuk orang hilang dan tindak kekerasan (Kontras ) menilai kasus yang menimpa puluhan siswa sekolah menengah di Kabupaten Malang adalah tragedi kemanusiaan apabila pemulihan psikologis tidak segera dilakukan.

Sekjen Kontras, Andik Irfan, mengaku prihatin atas kejadian yang menimpa siswa SMPN tersebut. Ia menilai, seharusnya pihak – pihak terkait segera memulihkan psikis para korban .

“Ya kalau tidak segera diberi pemulihan psikis, berarti para pihak yg berwenang belum paham prespektif perlindungan anak ,” kata Andik Irfan, Senin (9/12/2019).

Penangan dalam kekerasan termasuk kekerasan seksual kepada anak, lanjut dia, tidak cukup dengan penindakan hukum kepada pelaku. Akan tetapi yang sangat penting adalah healing bagi korban dan memastikan tidak berulangnya kejadian.

“Para predator anak, tidak pernah jera memangsa anak oleh karena itu pihak – pihak pemangku harus bisa memastikan kejadian serupa kedepan tidak akan berulang dan itu hanya dapat dilakukan apabila ada evaluasi menyeluruh dan pembenahan skema  perlindungan anak khususnya di lokasi atau lingkungan kejadian,” paparnya.

Dalam perkara ini, seharusnya Pemkab Malang dalam hal ini Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A), pihak sekolah, dan masyarakat sipil yg konsen pada issue anak, harus duduk bersama merespon perkara ini.

“Kontras anggap peristiwa ini adalah Tragedi, apabila sekolah kita bukan tempat aman bagi anak  TKP nya sekolah, korban dah puluhan anak, masih untung Polisi segera menangkap,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana menyampaikan, bukan hanya tersangka yang akan diberi pemulihan psikolog, nantinya juga akan ada pemulihan kepada para korban. “Mungkin dalam waktu dekat ini,” pungkas Yulistiana.

Wanita berkacamata ini menambahkan, pihaknya masih melakukan pengembangan kasus kekerasan seksual yang dilakukan tersangka  terhadap 18 orang siswa.

Sebelumnya diberitakan, pernyataan mengejutkan disampaikan pelaku CH, mantan Guru Tidak Tetap (GTT) yang melakukan kekerasan seksual. Ia bahkan mengaku juga melakukan perbuatan bejatnya terhadap belasan siswa laki-lakinya. (Yon)