Landaikan Kurva Covid, dr Umar Sampaikan Tiga Jurus

Foto: dr Umar Usman. (ist)

BACAMALANG.COM – Genderang perang melawan pandemi Covid 19 belum mereda, namun menariknya seluruh komponen bangsa Indonesia kompak melakukan upaya Flattening the Curve (melandaikan kurva) pandemi secara massif dan bersamaan.

“Perang melawan Covid jangan kasih kendor. Setelah banyak membaca, diskusi dan terjun ke lapangan, saya melihat ada tiga jurus untuk menciptakan Flatening Curve. Yaitu menjalankan Triangle Epidemiologi, PPKM Mikro, dan Penguatan Puskesmas,” tegas Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM, Selasa (9/2/2021).

Flattening the Curve

dr Umar sepakat kebijakan Kementerian Kesehatan RI merombak strategi testing tracing (penelusuran) kasus Covid-19 saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro yang mulai diterapkan pada 9-22 Februari 2021.

Perubahan strategi itu bertujuan mencapai target pemerintah dalam flattening the curve alias melandaikan kurva transmisi kasus Virus Corona (SARS-CoV-2) di Indonesia.

“Kita akan melakukan pemeriksaan rapid antigen yang tentunya lebih memudahkan dalam mendiagnosis, jadi tidak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk semua kasus suspek maupun kasus kontak. Kalau yang sebelumnya itu tidak semua kasus kontak Kita lakukan pemeriksaan laboratorium,” tambah pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang itu.

Diketahui, Kemenkes bakal berupaya memenuhi target telusur alias tracing 1:30 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Artinya ketika seorang dinyatakan terpapar Covid-19, maka 30 orang terdekatnya juga harus diperiksa baik melalui rapid test antigen maupun swab test metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Juga bakal dilakukan treatment atau perawatan berupa isolasi yang responsif dan masif. Dengan begitu, kasus-kasus bergejala ringan maupun sedang akan lekas membaik serta tak mengalami perburukan kondisi hingga harus dirawat di rumah sakit maupun Intensive Care Unit (ICU).

Pemerintah akan fokus di 98 kabupaten/kota di provinsi Jawa-Bali, dimana nanti untuk proses pelacakan kasus harus sudah bisa pelacakannya kurang dari 72 jam kasus kontak kasus positif.

Terkait itu, akan dilakukan penambahan jumlah tenaga relawan untuk upaya penelusuran atau tracer yang bakal membantu tenaga kesehatan di lapangan. Saat ini, telah disiapkan penambahan 80 ribu tracer untuk memenuhi upaya telusur yang optimal di Tanah Air.

Triangle epidemologic (segitiga epidemologi)

dr Umar menuturkan, salah satu hal yang sekiranya tepat diterapkan menurunkan kurva Pandemi adalah triangle epidemologic (segitiga epidemologi). Dimana ada tiga unsur yang diperhatikan dalam pengendalian Covid-19 yakni mutasi virus, kesadaran protokol kesehatan pada masyarakat, dan program dari pemerintah.

“Jadi penyakit apapun itu kalau bisa dicegah maka dicegah, tapi kalau enggak bisa dicegah paling tidak bisa ditemukan sejak awal, kalau enggak bisa juga baru diobati,” kata pria yang juga alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Adanya berbagai kebijakan pemerintah Indonesia yang saat ini membatasi mobilitas warga layak didukung. Pembatasan mobilitas dan testing sedini mungkin Covid-19 dianggap dapat menjadi jalan keluar sambil menunggu keefektivan vaksin Covid-19.

Dukungan Dunia Usaha

Sementara itu dalam forum 100 CEO diketahui jika mereka berharap vaksin yang sudah mulai didistribusikan di Indonesia dapat memulihkan kembali keadaan Indonesia khususnya dalam bidang ekonomi. Dengan keterlibatan berbagai pihak dalam distribusi vaksin diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan ekonomi Indonesia.

“Semakin cepat vaksin diserap oleh masyarakat, maka semakin cepat masyarakat dapat bergerak sehingga perputaran ekonomi juga akan semakin cepat,” urai dr Umar.

Peta Valid

dr Umar menilai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Skala Mikro di Jawa-Bali akan efektif jika memiliki PETA VALID. Hal ini karena beberapa poin pembatasan mobilitas pada PPKM mikro lebih longgar dari PPKM sebelumnya.

“Kita selayaknya berjalan dengan peta valid. Karena testing masih minim. Semakin kecil kemampuan testing seharusnya semakin makro,” terang dr Umar.

PPKM mikro yang bakal diterapkan mulai Selasa (9/2) mengklasifikasikan RT/RW berdasarkan zonasi atau pemetaan risiko wilayah terpapar Covid-19. Dengan kondisi tes deteksi Covid-19 di Indonesia yang masih minim menurutnya, zonasi skala mikro itu masih relevan.

Nantinya dilakukan upaya mengoptimalkan peran RT/RW dalam ikut serta mencegah sebaran Covid-19 di kampung. Sebab, peran masyarakat memang sangat penting membantu pemerintah melakukan pemantauan skala kecil. “Diharapkan dioptimalkan kampung tangguh dan jogo tonggo,” urai dr Umar.

Beberapa negara yang berhasil melandaikan grafik kasus Covid-19 setelah benar-benar memilih memperkuat upaya di hulu seperti tes, telusur, dan tindak lanjut (3T) dibandingkan yang lain.

Hongkong misalnya berhasil melakukan tes dan telusur terhadap 87 persen penduduknya. Kemudian Singapura 90 persen penduduknya. Dengan kondisi itu, maka peta zonasi benar-benar akurat. Bahkan India yang memiliki jumlah penduduk 1,3 miliar berhasil melakukan tes dan telusur terhadap 15 persen total penduduknya.

Gagasan PPKM secara masif dan keseluruhan itu harus segera dilakukan secara terpusat. Sebab 11 bulan pandemi sewajarnya menjadi media pembelajaran yang hebat bagi pemerintah dan warga.

Bahwa penyebaran Covid-19 masif terjadi akibat mobilitas warga, sehingga pengetatan mobilitas warga dengan tidak membuka sektor non-esensial, serta upaya 3T yang masif. Maka ketika upaya itu dilakukan, menurutnya, baru akan terlihat pelandaian kasus Covid-19 terjadi dalam beberapa pekan setelahnya.

“PPKM yang dilonggarkan selayaknya ada penguatan signifikan, testing, tracing dan isolasi karantina di semua wilayah karenanya kebijakan harus berbasis sains dan data epidemiologi terkini,” tutur dr Umar.

Penguatan Puskesmas

Penguatan puskesmas dapat menjadi ujung tombak kunci percepatan penanganan kasus Covid 19 namun beberapa aspek harus diperbaiki (diperkuat). Yaitu sumber daya tenaga medis, insentif bagi nakes, sarana kesehatan lain, hingga kecukupan obat-obatan.

“Meski di lapangan puskesmas kewalahan dan hampir kolaps dalam memutus penularan di level paling bawah yakni komunitas masyarakat, namun Kita harus optimis apa yang terjadi, apa yang perlu dioptimalkan, agar beban berat yang dipikul puskesmas bisa lebih ringan cepat ditangani,” terang dr Umar mengakhiri. (had)