Laporkan Pencemaran Nama Baik, Ketua DPD Perindo Kota Malang Polisikan 3 Orang

Ketua DPD Perindo Kota Malang, Laily Fitriyah Liza Min Nelly bersama kuasa hukum. (ist)

BACAMALANG.COM – Tidak terima dengan tuduhan sebagai anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam WhatsApp Group (WAG), Ketua DPD Perindo Kota Malang, Laily Fitriyah Liza Min Nelly melaporkan tiga orang inisial AA, SSA, dan DDW atas dugaan pencemaran nama baik ke Polresta Malang Kota, Senin (9/5/2022).

Ia menjelaskan, langkah hukum ini diambil karena merasa sangat dirugikan secara moril maupun materiil, atas unggahan di grup WhatsApp tersebut.

“Saya merasa dirugikan. Karena organisasi ini (HTI) terlarang. Sedangkan saya mempunyai tanggungjawab sendiri terhadap organisasi yang saat ini saya pimpin. Itu kan hal yang latar belakangnya berbeda. Sangat tidak mungkin,” tandasnya.

Ketiga orang yang diadukan ke Polresta Malang Kota tersebut yakni berinisial AA, SS dan DDH. Tuduhan terhadap Nelly sebagai anggota HTI tersebar tersebar di tiga WAG. Yakni WAG GWN Pengaduan Publik Malang, BangkitnyaMalangKucecwara dan MCC.

Nelly mengaku tidak mengenali tiga terduga pelaku yang menuduh dirinya sebagai bagian dari anggota HTI. Maka dari itu, pihaknya juga merasa kaget tiba-tiba dituduh oleh orang yang tidak dikenal dan disebut sebagai bagian dari ormas HTI.

Alasan Nelly baru melaporkan setelah tujuh hari peristiwa dugaan pencemaran nama baik tersebut terjadi, dikarenakan suasana masih di Bulan Suci Ramadan 1443 Hijriah di hari terakhir dan dalam suasana Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah.

“Karena ini Hari Lebaran Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan Kita sebagai umat muslim, saya tentunya harus menghargai hari baik ini. Setelah tujuh hari memang baru rencana hari ini saya mulai. Supaya tidak mengganggu kekhidmatan Idul Fitri,” kata Nelly.

Nelly berharap melalui kasus ini bisa menjadi pembelajaran bagi seluruh masyarakat, agar lebih berhati-hati saat menyampaikan segala sesuatu yang belum diketahui kebenarannya di media sosial (Medsos).

“Karena memfitnah orang itu harus berhati-hati di ranah umum. Harapan saya ini menjadi pelajaran bagi siapapun, mungkin juga bagi saya untuk berhati-hati dalam bermedsos,” tukasnya.

Sementara Kuasa Hukum Nelly, Yassiro Ardhana Rahman, mengatakan dugaan pencemaran nama baik itu dilakukan melalui tiga grup WhatsApp pada Minggu (1/5/2022) lalu.

Di dalam grup tersebut Nelly disebut sebagai agen Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sedangkan organisasi tersebut sebenarnya dilarang di Indonesia sejak tahun 2017 lalu.

“Di grup klien Kami disebut anggota HTI agen Malang. Hal itu membuat klien Kami keberatan, karena Nelly ini selama ada di Malang tidak terdaftar atau tergabung dalam organisasi itu,” terangnya.

Menurut Yassiro dengan disebut memiliki keterlibatan dengan organisasi terlarang di Indonesia itu, membuat kliennya terlihat sebagai sosok yang anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kita disini melakukan upaya hukum terkait adanya dugaan tindak pidana pencemaran nama baik junto fitnah junto pasal 27 ayat 3 UU ITE,” urainya.

Ia menjelaskan kiprah Nelly selama ini.
“Padahal Nelly ini cinta NKRI dan membela Pancasila dan Ideologi Pancasila. Dari situ tiga terduga penggugah dengan inisial AA, SSA, dan DDW Kita laporkan ke pihak kepolisian. Sebagaimana kita ketahui HTI ini kan organisasi terlarang, ketika klien saya dicap HTI sama saja menganggap Bu Nelly ini orang yang anti NKRI padahal itu gak benar,” jelas Yassiro.

Saat menyampaikan laporan kepada petugas kepolisian, pihaknya juga melampirkan bukti berupa screenshoot (tangkapan layar) dari unggahan terduga pelaku di grup WhatsApp itu.(*/had)