Larangan Mudik dan Antisipasi Klaster, Ini Telaah dr Umar

dr Umar Usman MM. (Ist)

BACAMALANG.COM – Memasuki Minggu pertama Bulan Suci Ramadhan, dunia digegerkan oleh adanya ledakan kasus Covid-19 di berbagai negara seperti di India.

Selain itu, di tataran lokal (Malang Raya) juga ada peristiwa memprihatinkan yakni Gempa 6,1 SR yang menimbulkan banyak korban rumah rusak dan korban jiwa, namun kini sudah dalam tahap recovery.

Satu hal khusus yang perlu diperhatikan adalah perlunya dilakukan penanganan tanggap darurat bencana sesuai prokes (protokol kesehatan) agar Covid tidak meluas dan menciptakan klaster baru.

“Alhamdulillah. Saya menilai upaya yang telah dilakukan pihak terkait sudah tepat terkait penanganan korban bencana gempa jika dihubungkan dengan antisipasi persebaran virus Covid. Salah satunya seperti membuatkan huntara (hunian sementara) guna menghindari kerumunan atau physical distancing warga,” tegas Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM, Sabtu (17/4/2021).

Sementara itu diketahui pula Tim medis puskesmas Pamotan Dampit dalam mengantisipasi penyebaran Covid-19, pihak posko kesehatan setiap hari juga membagikan masker kepada warga. Petugas medis mengatakan pihaknya tetap melakukan protokol kesehatan ketat dengan membagikan masker ke warga.

Bantuan Huntara Korban Gempa

dr Umar mendukung upaya Gubernur Jawa Timur memberikan bantuan hunian sementara untuk korban gempa bumi yang diharapkan dapat mencegah munculnya klaster baru dalam kondisi pasca gempa selama pandemi COVID-19.

Bantuan diberikan karena dikhawatirkan jika masyarakat berkumpul dalam satu tempat pengungsian akan meningkatkan potensi penyebaran COVID-19.

“Dikhawatirkan muncul klaster pengungsi. Makanya adanya bantuan hunian sementara diharapkan masyarakat tidak berkerumun di pos pengungsian karena saat ini kondisi pandemi,” terang pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang ini.

dr Umar mendukung upaya Pemerintah Kecamatan Ampelgading tidak mendirikan tenda pengungsian besar untuk mencegah penularan Covid-19 klaster pengungsi korban gempa Malang.

Tidak didirikan tenda besar untuk pengungsi. Tenda ada di depan rumah masing-masing warga. Namun untuk tenda besar tetap disiapkan khusus untuk kegiatan seperti trauma healing.

“Itu semua adalah upaya untuk antisipasi salah satu dari 3 M yaitu Menjaga Jarak, dengan mendirikan tenda di depan rumah masing-masing,” imbuh pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

Waspada Covid naik jika nekat mudik

Berdasar informasi, Tim Pakar Satgas Covid-19/Ahli Biostatistik, FKM Universitas Indonesia (UI), diprediksi, akan terjadi lonjakan kasus covid-19 jika masyarakat tetap nekat untuk mudik 2021. Kenaikan kasus akan terjadi di DAERAH TUJUAN para pemudik.

Dampak dari pergerakan penduduk yang masif pada saat bersamaan ketika mudik nanti kalau seperti mudik tahun lalu juga akan ada peningkatan kasus di daerah-daerah tempat mudik tersebut

Apabila masyarakat tetap memaksakan untuk mudik ke daerah, maka dikhawatirkan akan terjadi penyebaran kasus Covid 19 di DAERAH ASAL MUDIK. Lantaran, terjadi resiko tertular ketika DALAM PERJALANAN menuju daerah mudik.

“Perlu diwaspadai juga, penularan dipicu oleh varian-varian mutasi virus Covid 19 yang penularannya lebih cepat. Ke daerah asal juga akan meningkat karena mereka punya resiko tertular dalam perjalanan,” tukas pria yang juga senior KAHMI ini.

dr Umar meminta agar masyarakat atau calon pemudik tidak melaksanakan mudik tahun ini. Hal itu dilakukan untuk mencegah pergerakan penduduk yang masif ke berbagai daerah.

Lansia rawan tertular

Jika calon pemudik tetap memaksakan mudik ke daerah asalnya, hal itu dikhawatirkan berpotensi menularkan pada anggota keluarga yang sudah uzur (lansia).

“Perlu dicermati jika lansia mudah tertular (rentan). Kasihan karena bagi orangtua yang di daerah mudik, resiko dan tingkat kematiannya lebih tinggi,” jelasnya.

Padahal kini laporan kasus covid-19 cenderung menurun transmisinya. “Sangat disayangkan jika nanti banyak masyarakat yang mudik maka pengendalian Covid-19 yang sudah berjalan baik ini akan sia-sia kembali karena adanya lonjakan kasus di daerah. Padahal kita ingin supaya pandemi terkendali, sehingga Indonesia aman, ekonomi gampang,” jelas pria Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Berdasarkan data, setiap libur panjang angka kasus penyebaran Covid-19 naik tajam. Setiap libur panjang angka penyebaran kasus Covid-19 melonjak antara 30 sampai 50 persen. (had)