Loper Koran Ingin Ramaikan Bursa Pilkades di Bululawang, Begini Kisahnya

Caption : Cakades Pilkades. (ist)

BACAMALANG.COM – Menjadi loper koran membawa manfaat tersendiri bagi warga Jalan Sidodadi Raya Desa Wandanpuro Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Harianto, yang sehari-harinya menjadi loper koran.

Dari pekerjaannya setiap hari menjajakan koran, ia bisa blusukan dan memotret langsung denyut nadi kehidupan rakyat mulai dari yang berstatus ekonomi tinggi hingga bawah.

Sekilas cerita ia mampu merekam berbagai dinamika dalam geliat kehidupan secara langsung dan nyata yang hal ini sangat dibutuhkan sebagai bekal menjadi seorang pemimpin semisal Kepala Desa (Kades).

“Saya hanya seorang loper koran, mas. Tetapi saat ini, saya sudah mantap untuk mengabdikan diri kepada masyarakat melalui pencalonan Kepala Desa,” kata Harianto.

Sebagai gambaran, Pilkades serentak bakal digelar di Kabupaten Malang. Salah satu desa yang akan turut meramaikan pesta demokrasi itu, yakni Desa Wandanpuro, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Dari beberapa Cakades (calon kepala desa) yang bakal maju di desa itu, ternyata ada seorang yang berlatar belakang dari loper koran. Adalah Harianto, warga Jalan Sidodadi Raya No 130 RT 10 RW, Desa Wandanpuro-Bululawang, yang mengaku siap mengabdikan dirinya, untuk menjadi bagian terpenting di desa dan lebih memakmurkan Desa Wandanpuro.

Harianto atau biasa disapa Hari, mengatakan bahwa pengalamannya selama masuk dari satu ke desa lain di Kabupaten Malang, diharapkan bisa membantunya untuk mengembangkan desa.

Karena, dalam kesehariannya menjadi loper koran, juga belajar dan mempelajari cara melakukan pengembangan potensi suatu desa.

Mulai usaha kecil dan mikro yang harus diangkat dan cara pengembangannya, termasuk ketika harus melakukan pemasaran produk jadi. Termasuk, pengembangan potensi-potensi desa yang bisa dioptimalkan dan dikerjakan bersama-sama dengan masyarakat.

Terkait pembangunan desa, Hari mengatakan, bahwa semua harus dimusyawarahkan dengan warga. Artinya, jangan sampai apa yang dibangun, justru tidak membawa dampak positif kepada warga desa.

“Selain perencanaan pembangunan yang harus dimusyawarahkan, pastinya pada saat pembangunan, pun juga harus melibatkan warga. Sehingga, semua diberdayakan. Dari hal yang sifatnya kecil ini, nantinya bisa dipastikan akan membantu perekonomian untuk warga,” paparnya.

Hal yang tidak kalah pentingnya, kata Hari, yaitu tranparansi pengelolaan keuangan desa. Termasuk, skala prioritas dan penting dalam suatu pembangunan, atau non prioritas.

“Yang paling penting, saya ingin teman-teman bekerja semua. Jika terdapat pembangunan di desa, tidak lagi mengandalkan tenaga kerja dari luar. Akan tetapi, bisa memanfaatkan warga sendiri,” terangnya. (*/had)