Mahasiswa FTP Inovasi Pembuatan Minyak Cacing

Hasil olahan minyak cacing. (Ist)

BACAMALANG.COM – Lima orang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam Tim PKM Penerapan IPTEK Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya bekerjasama untuk membantu menyelesaikan permasalahan rumah organik melalui teknologi ekstraksi bernama HI-CC.

Angky Wahyu Putranto, Dosen Pembimbing program PKM menjelaskan, bahwa teknologi High Intensity Cold Corona (HI-CC) merupakan alat ekstraksi menggunakan prinsip kerja elektroporasi sel pada sistem radiasi tegangan tinggi. Kata Cold Corona sendiri berarti bahwa adanya lecutan listrik yang berpindah dari satu elektroda ke elektroda lainnya tanpa menghasilkan panas sehingga tidak merusak produk.

Teknologi ini memiliki 2 chamber utama dan alat distilasi. Chamber tersebut meliputi Chamber HI-CC dan press chamber. Pada chamber pertama akan dilakukan elektroporasi pad radiasi tegangan tinggi dengan tegangan input sebesar 15-20V dan tegangan output 43-50kV selama 30 detik dan frekuensi 1 Hz. Press Chamber berfungsi sebagai chamber penyaring untuk memisahkan minyak dan ampas cacing.

“Cacing tanah atau yang berbahasa Latin Lumbricus rubellus adalah cacing yang memiliki kelebihan berupa tidak berbau, cepat berkembang biak, tumbuh subur, dan mudah beradaptasi. Cacing ini memiliki manfaat yang besar baik dibidang kesehatan dan kosmetik sehingga memiliki daya jual yang tinggi”, katanya, Jumat (6/8/2021).

Angky menambahkan, budidaya cacing ini dimanfaatkan oleh salah satu rumah organik yang berlokasi di Kecamatan Sukun Kota Malang. Rumah organik ini telah berhasil memproduksi olahan cacing setiap harinya mencapai 1-2 ton cacing segar, dengan produk olahan cacing unggulan salah satunya yaitu minyak cacing.

Permintaan minyak cacing khususnya di bidang kesehatan, industri sabun dan kosmetik selalu mengalami kenaikan yang signifikan terutama di era pandemi. Namun, permasalahan pada produksi minyak cacing yang belum dapat teratasi sehingga tidak bisa memenuhi pasar dan kualitas minyak cacing yang belum baik.

“Permasalahan tersebut meliputi nilai rendemen yang rendah hanya sebesar 5 persen, proses produksi yang tidak optimal dan waktu produksi yang lama sehingga memerlukan energi yang besar dalam satu kali prosesl”, imbuh Angky.

Sementara itu Clara, salah satu mahasiswa dalam program PKM itu mengungkapkan cara kerja dari alat ini dengan mencampurkan tepung cacing dan minyak coconut oil sebagai pelarut pada chamber pertama. Selanjutnya di dalam chamber ini akan dilakukan proses elektroporasi sel selama 30 detik pada suhu 400 derajat Celcius serta diberikan pengadukan menggunakan stirrer yang bertujuan untuk menghomogenkan bahan dan mengoptimalkan proses radiasi tegangan tinggi.

“Kemudian hasil ekstraksi dituangkan pada chamber pressure yang terdapat jaring-jaring halus bertujuan untuk menyaring antara ampas cacing dan minyak. Setelah itu, minyak hasil penyaringan akan didistilasi agar menghasilkan minyak cacing murni”, terang Clara.

Menurutnya, sebagai koordinator tim, teknologi HI-CC ini memiliki keunggulan diantaranya mampu mengekstrak cacing yang dapat mempertahankan kandungan minyak cacing, menghasilkan rendemen yang tinggi dari 5 persen menjadi 23 persen dengan proses yang singkat yaitu selama 4 jam dan pengunaan energi yang jauh lebih murah.

Teknologi ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan khususnya pada produksi minyak cacing agar memiliki kualitas tinggi, waktu yang cepat dan biaya proses yang terjangkau. (Lis/red)