Mahasiswa UB dan SALAM Tanam Pohon Rimba Campuran, Selamatkan Hutan Rimba

Caption : Mahasiswa UB dan SALAM tanam pohon rimba campuran. (ist)

BACAMALANG.COM – Selama ini upaya penguatan benteng hijau di daerah-daerah terdegradasi, selalu yang ditanam pohon-pohon yang sifatnya homogen seperti bakau, cemara udang, pohon buah dan sejenisnya. Jarang sekali menanam pohon jenis rimba campuran seperti Myristica teijsmannii (pala jawa), pluncing (kedondong hutan), kepuh, sapen, bulu, nendo, hingga keben.

Hal ini dikarenakan jarang sekali pihak-pihak melakukan persemaian atau yang menyediakan bibit pohon rimba campuran karena tidak ada nilai ekonomisnya secara langsung. Padahal pohon jenis rimba campuran ini terancam punah seiring dengan hilangnya habitat alaminya, mulai dari perambahan hutan, alih fungsi lahan dan lain-lain. Jenis- jenis pohon hutan rimba bagian dari penyeimbang ekosistem, sumber pakan satwa liar sehingga upaya penyelamatan dan pelestariannya juga perlu menjadi perhatian.

Untuk itu, Himpunan Bahasa dan Sastra Prancis, Universitas Brawijaya (Cercle des Étudiants en Français) melakukan kegiatan menanam pohon hutan rimba dan Mangrove yang dipimpin oleh Ketua Himpunan Aulya Nurulita dan Ketua Pelaksana Naufal Almira, pada Minggu (28/11/2021). Kegiatan ini diawali dengan sharing isu-isu lingkungan bersama sahabat alam Indonesia, dimulai dengan ancaman-ancaman kebun sawit, tambang pasir besi, perambahan hutan, kasus-kasus perusakan laut dan kasus-kasus lain.

Dalam diskusi ini, disampaikan akan pentingnya peran pemuda dalam  kontribusi terhadap penguatan literasi konservasi dalam upaya mitigasi dan adaptasi daerah rawan bencana, serta upaya pelestarian lingkungan khususnya kawasan pesisir. Selain itu, juga menguatkan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, sehingga tergerak, bergerak kemudian menggerakkan, berkontribusi terhadap upaya-upaya kelestarian lingkungan secara berkelanjutan, tidak sekedar formalitas dan terjebak kegiatan menyenangkan diri sendiri.

“Pesan dan kesan dari saya selalu ketua pelaksana LGF (Les Generations Futures) yaitu, saya sebagai perwakilan dari mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis UB sangat berterima kasih sekali dengan SALAM karena telah mau menerima kami dalam melakukan aksi kecil untuk merawat alam,” tegas Ketua Pelaksana, Naufal Almira.

Meskipun kegiatan ini belum sepenuhnya dapat dibilang sudah berkontribusi dalam merawat alam, tetapi setidaknya sudah ada niat untuk ingin terus menjaga dan merawat alam. “Ilmu yang didapat saat diskusi kemarin dengan SALAM, telah membuka wawasan baru bagi Kami semua dan Kami setuju sekali dengan statement bahwa Kamilah pemuda-pemudi penerus bangsa, jika bukan Kita yang lakukan perubahan. Siapa lagi? Jika bukan Kita yang memulai. Siapa lagi? Small things does matter,” tandasnya.

Pihaknya berharap, dapat terus bekerja sama dengan SALAM agar selalu dapat berkontribusi untuk memerangi isu-isu yang selama ini masih menghantui dan tidak akan ada habisnya. “Banyak ilmu baru yang didapat, seperti menanam mangrove harus dari belakang baru ke depan. Kemudian informasi jika hutan lindung tidak boleh ditanami selain pohon endemik, realita masyarakat yang tinggal di Kondang Merak, dan sebagainya. Selain itu, Kami dapat turun langsung mengetahui isu-isu yang terjadi di sekitar Kita dan tidak tercium dan jarang sekali di publikasikan oleh media,” pungkasnya. (*/had)