Mahasiswi PTN di Malang Bunuh Diri, Akademisi Ini Paparkan Pentingnya Orangtua Sebagai “Sandaran”

Foto : Sakban Rosidi. (Ist)

BACAMALANG.COM – Faktor keberadaan orangtua sebagai “sandaran” untuk memberikan nasihat kepada anaknya, menjadi hal penting dalam konteks kekinian karena akibat dari akumulasi depresi, putus asa, dan hidup tak bermakna (meaningless) mengakibatkan seseorang nekat bunuh diri.

Hal ini dikatakan Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi, mengomentari peristiwa bunuh diri yang dilakukan seorang mahasiswi NWR yang juga selebgram berkuliah di PTN di Malang diduga bunuh diri minum racun dipicu masalah percintaan, ditemukan jasadnya di makam ayahnya di TPU Dusun Sugihan, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Kamis (2/12/2021).

Korban yang diketahui pernah melakukan percobaan bunuh diri pada Rabu (1/12/2021) dan berhasil digagalkan ibu dan keluarganya ini, kemarin ditemukan jasad bersama ponsel dan botol minuman yang dibungkus tas plastik berwarna putih di TKP.

Sebelum meninggal, NWR sering berdiam diri di makam ayahnya (meninggal sudah 100 hari), dan seringkali tidur di makam sang ayah tersebut.

EGOISTIK DAN ANOMIK

Sakban menyimpulkan bunuh diri yang dilakukan adalah kombinasi bunuh diri Egoistik dan Anomik. Ia menjelaskan, ada empat tipe Bunuh Diri menurut Bapak Sosiologi Klasik Emile Durkheim. Yakni 1. Bunuh diri Egoistik ; 2. Bunuh diri Altruistik ; 3. Bunuh diri Anomi dan 4. Bunuh diri Fatalistik.

“Penyebab primernya egoistik, yakni putus cinta, studi cenderung gagal, terus depresi, putus asa, hidup tak bermakna (meaningless),” tutur pria yang juga Penggagas Sekolah Indonesia Bernalar ini.

“Terdahulu sudah pernah mencoba bunuh diri, jadi masalahnya sudah akut. Tetapi mungkin tertolong tidak sampai hopeless dan helpless. Ketiadaan orangtua, menjadikan ia tidak punya sandaran, sehingga terpicu melakukan bunuh diri anomik yang lebih bersifat Sosiologis,” pungkas pria yang juga Direktur Garis Maya School of Research ini. (had)