Makrifat Radikal

Caption : Dr Riyanto M Humaniora. (ist)

Oleh : Dr Riyanto M Humaniora

Bharatayuda mencapai puncaknya.
Dengan tegas, Bung Basukarno menjawab pertanyaan Sri Kresna; “Biarlah saya gugur dalam rengkuhan pihak yang salah,”.

Bung Soekarno; “biarlah aku tenggelam, asal engkau bersatu.

Bung Widodo; “biarlah, kalau bapak mati, hya jalannya disitu ……

Kemuliaan tidak akan pernah terjadi, bila Basukarno tidak disisi Kurawa. Artinya, unggulnya sifat baik tidak akan pernah muncul, karena angkara murka tetap merajalela.

Di awal perjuangan, dan akhir-akhir perjalanan, Bung Karno menerawang jauh. Merelakan jiwa raga. Satrio Kinunjara murwa kuncara, presiden terpenjara, mengangkat derajat bangsa di mata dunia.

Bung Widodo, masih berjalan, dan terus berjalan. Bukan hanya caci maki, ancaman senjatapun bukan halangan untuk dapat menghadirkan keadilan, tanpa baju anti peluru “Antakusuma”.

Membersihkan batang-batang padi diantara Gulma. Berfikir sampai pada akar-akar, dan pucuk-pucuk kehidupan bangsa dan negara.

Mulut terkunci, tangan “merenggut satu demi satu virus dari pangkal batangnya”.

Marahnya tanpa amarah, tawanya bukan mentertawakan. Meraba gelombang denyut kehidupan.

Ilmunya membawa pada kesadaran, anak bangsa tidak ada yang salah.

Langkah- langkahnya untuk membenarkan. Musuh negara adalah palu godam yang ikut menguatkan bangsa, menjemput kemakmuran.

Makrifatnya, tidak hanya di Satrio piningit hamong tuwuh, tapi menghantar merengkuh tahta Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu Jadmiko.

Adakah radikal yang menyengsarakan ?
Mengejek, melecehkan, menghinakan, sampai saling membunuh satu dengan lainnya.

Analogi si buta meraba gajah. Pertama, Gajah itu seperti papan luas, tipis melebar, halus seperti kipas perapian.

Kedua, mengatakan, seperti “bumbung”, bulat, tegak agak memanjang, ada ruas ruas.

Ketiga, juga seperti “bumbung”, tapi lentur, ada lubang di ujungnya.

Si buta butuh bantuan, memahamkan apa Gajah yang sebenarnya.

Tidak saling bertengkar karena kipas, bumbung beruas, dan bumbung berlubang di ujung.

Mengapa radikal menjadi istilah menakutkan ?

Tentu tidak luput dari pengalaman, cara berfikir pelaku, seperti si buta.

Spekulasi mendalam, berebut menang dalam memenuhi angan-angan panjang.

Tidak meresapi baik-buruk, benar-salah, bahagia dan sengsara.

Apa bedanya ?

Sedikit bedanya. Yang satu radikal mendalam, yang lainnya radikal mendalam universal.

Bagaimana dengan kita ?

Sekuat-kuat yang merusak, masih kuat yang memperbaiki, dan terus bersyukur.

Pembukaan Undang-undang Dasar seribu sembilan ratus empat puluh lima, tidak dihapus.

Indonesia masih tetap, merdeka berkat rahmat Allah Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur.

Penulis : Dr Riyanto M Humaniora, Akademisi Universitas Brawijaya (UB) Malang, yang juga Budayawan.