Malang Dapat Atensi PPKM, Sekretaris DPD PSI Kota Malang Beri Sorotan dan Solusi

Caption : Sekretaris DPD PSI Kota Malang, Yudha Rachman Winarto, ST. MT.(dok pribadi)

BACAMALANG.COM – Seperti diketahui selain Bali, Malang juga mendapat atensi khusus terkait penanganan Covid karena dinilai Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan masih tinggi.

Hal ini memantik tanggapan dan sorotan dari berbagai pihak, salah satunya Sekretaris DPD PSI Kota Malang, Yudha Rachman Winarto, ST. MT.

“Wilayah Malang Raya mendapat atensi khusus karena Menko Marves Luhut menilai angka Covid masih tinggi. Penilaian ini tentu mempunyai dasar data dan analisa yang bisa dipertanggungjawabkan. Intinya kita harus lakukan evaluasi dan mencari solusi bersama,” tegas Sekretaris DPD PSI Kota Malang, Yudha Rachman Winarto, ST. MT.

ARGUMEN WALIKOTA

Seperti diberitakan media, Wali Kota Malang, Sutiaji mengatakan, angka kematian di Kota Malang tinggi karena rumah sakit rujukan yang ada di kota itu banyak diisi warga asal luar daerah.

Hal ini menyebabkan bed occupancy rate (BOR) atau tingkat keterisian kamar tidur di rumah sakit rujukan di Kota Malang masih tinggi.

Sutiaji mengatakan, total jumlah tempat tidur untuk pasien Covid-19 di rumah sakit rujukan di Kota Malang sebanyak 1.007.

Sementara, warga Kota Malang yang menempati tempat tidur itu hanya 300 orang. Dikatakannya BOR, kalau untuk warga Kota Malang masih di bawah angka 50 persen. Jumlah BOR (tempat tidur pasien Covid-19) 1.007. Warga Kota Malang yang di rumah sakit itu jumlahnya 300. Berarti dibawah angka 50 persen.

Karenanya, Sutiaji mengatakan, rumah sakit rujukan di Kota Malang banyak dihuni oleh pasien Covid-19 asal luar daerah. Itu merupakan bukti bahwa tempat tidur yang disiapkan oleh fasilitas kesehatan (Fakses) di Kota Malang, tujuh rumah sakit rujukan, itu bukan dihuni oleh warga Kota Malang.

Sutiaji mengatakan, angka kematian di Kota Malang tidak bisa dilihat melalui jumlah jenazah yang dimakamkan dengan protokol kesehatan Covid-19. Sutiaji menyebut, angka kematian di Kota Malang harus dilihat melalui data yang ada di new all records (NAR).

Sebab, pasien yang isolasi mandiri belum tentu terdaftar di NAR. Diungkapkannya kalau isolasi mandiri tidak semuanya terkonfirmasi positif. Maka jangan dilihat jumlah kematian itu dari jumlah pemakaman. Jumlah kematian semestinya sesuai dengan NAR itu. Yang NAR itu laporannya yang Dinas Kesehatan.

“Harus diperjelas indikator yang digunakan bahwa penduduk asli Kota Malang yang 300 dibanding kapasitas rumah sakit yang 1007 dalam mengisi BOR rumah sakit rujukan berarti jumlah warga Kota Malang yang sakit hanya sedikit atau menunjukkan ketidakmampuan Pemda untuk menyediakan jaminan perawatan kesehatan bagi warganya. Mengingat masih tingginya jumlah warga yang sakit dan meninggal dalam kondisi terpaksa isoman karena sulitnya mendapat akses ke rumah sakit dan ketidak sinkronan antara data NAR dan realita juga PR tersendiri bagi Pemda karena tidak akan didapat kebijakan yang tepat tanpa data yang akurat,” tegas Yudha.

DATA COVID

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 di Kota Malang, tercatat 812 orang yang meninggal dunia dengan status positif Covid-19.

Di Kabupaten Malang ada 439 kasus kematian, dan 191 orang di Kota Batu meninggal dunia karena terinfeksi Virus Corona.

“Gerak cepat itu kata kunci yang harus diperhatikan Pemda selaku pemegang kendali penanganan di daerah. Karena hilangnya nyawa korban Covid sudah bukan hitungan Minggu atau hari tapi sudah hitungan jam saat ini,” tutur Yudha.

INTERVENSI SOLUSI

Untuk menurunkan angka kematian, perlu dilakukan beberapa langkah. Salah satunya, mendorong pembukaan tempat isolasi terpusat di berbagai wilayah.

Kemudian, mendorong peran TNI-Polri dan Pemda untuk terlibat aktif melakukan pelacakan, pengetesan dan perawatan, juga membawa masyarakat ke tempat isolasi terpusat.

Isolasi terpusat sangat dianjurkan untuk orang berisiko tinggi, atau yang di rumahnya ada ibu hamil, orang tua, dan orang dengan komorbid.

Pasien semestinya mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Karena, di fasilitas isolasi terpusat ada dokter, perawat, obat-obatan, oksigen, dan konsumsi pasien.

Selain itu, perlunya dilakukan pemberian pasokan oksigen dan obat di beberapa daerah yang kasusnya masih tinggi, serta meningkatkan kapasitas layanan di rumah sakit.

Data kasus Covid Malang mengutip laporan Data COVID-19 Kota Malang per 8 Agustus 2021, ada tambahan 67 kasus positif COVID-19. Sementara angka kesembuhan bertambah sebanyak 59 orang. Di hari yang sama, dilaporkan ada 15 kasus kematian.

Dengan tambahan tersebut, Kota Malang melaporkan total 12.450 kasus positif, 887 kasus kematian, dan 8.149 kesembuhan COVID-19.

MANAJEMEN DATA DAN SOLUSI

Kompleksnya manajemen data Covid-19 Indonesia telah menyebabkan masalah tersebut. Pemerintah Indonesia telah menerbitkan instruksi presiden untuk mengintegrasikan banyak sumber data untuk meningkatkan kebijakan dan pengambilan keputusan.

Tapi regulasi ini masih kurang diimplementasikan. Untuk menghadapi suatu pandemi, pemerintah seharusnya mempersiapkan sebuah sistem yang ringkas dan jelas untuk mengatur arus data dari pemerintah daerah ke pusat.

Pemerintah seharusnya mengelola kembali jumlah besar data dari aplikasi manajemen data dan sistem informasi untuk membuat mereka lebih efektif. Semua entri data dari pemerintah daerah harus sesuai dengan data Covid-19 nasional dan standar meta-data.

Artinya, data dari daerah dapat dikirim langsung dari aplikasi lokal yang saat ini digunakan ke aplikasi pusat melalui integrasi data. Ini juga berarti sistem harus memfasilitasi komunikasi antara berbagai sistem dan layanan yang ada.

Dengan demikian instansi pusat dan instansi daerah dapat dengan mudah mengakses dan berbagi data. Upaya Kemenkes fokus terhadap data valid jumlah kasus Covid-19 itu sudah bagus. Hal itu karena dengan data yang valid dan terverifikasi dengan benar, akan berpengaruh terhadap kebijakan yang tepat.

Satu data yang terverifikasi antara daerah dan pusat harus benar-benar dilakukan yang sifatnya interpopabilitas. Karena sistem yang dipakai sekarang, beda-beda antara daerah dan pusat. Dengan sistem propabilitas, kalau semisal memasukan data Jateng maka dipusat akan langsung tampil.

Tidak hanya jumlah kasus Covid-19 yang masih amburadul, data keterisian rumah sakit pun masih menjadi salah satu problem.

Hal itu tidak lepas dari ketertiban faskes dalam melaporkan data. Sehingga bisa jadi, yang seharunya rumah sakit itu sudah kosong, namun karena ada keterlambatan input data, akhirnya dalam laporan rumah sakit masih penuh. Sekarang terkait ini sudah bisa dicek melalui aplikasi SINARAP.

“Kita harus kompak dalam menangani persebaran Covid-19. Selama Kita semua solid pasti bisa. Semoga Nusantara sehat, ekonomi tumbuh kembali. Aamiin YRA,” pungkas Yudha. (had)