Malang Retro, Geliat UMKM dan Ekonomi Kreatif di Penghujung Tahun 2021

Nuryadi, salah seorang penyandang disabilitas dari Kupu Sutera saat memeragakan proses pemintalan benang dari ulat sutera dalam pameran Ekonomi Kreatif dan UMKM bertema “Malang Retro, Back to 60s to 90s” di gedung Sarinah Kota Malang, Rabu (29/12/2021). (ned)

BACAMALANG.COM – Forum TSP Kota Malang bekerjasama dengan PT Sarinah, menggelar Pameran Ekonomi Kreatif dan UMKM dengan tema “Malang Retro, Back to 60s to 90s”. Acara yang dihelat pada tanggal 29 hingga 31 Desember 2021 di Gedung Sarinah lantai 2 ini diikuti 34 peserta yang terdiri dari Institusi, Komunitas Ekraf dan pelaku UMKM di Kota Malang.

Salah satu peserta, yakni Koperasi KUPU Sutera atau Koperasi Karya Usaha Petani Unggul Sutera menampilkan sejumlah produk dari ulat sutera eri.
“Produk kami tidak hanya terbatas di kain saja, namun juga tas bahkan sepatu,” ungkap owner Kupu Sutera Arianto Nugroho di sela pameran, Rabu (29/12/2021).

Arianto menambahkan, masa pandemi berdampak pada penjualan produksi dari usaha yang dirintis sejak 2015 ini. Penjualannya langsung drop, padahal saat itu produknya sudah menembus Amerika Serikat, Jepang dan Australia. Namun ia berinovasi dengan membuat produk sepatu yang justru mendapat respon positif. Padahal sepatu dari kain olahan sutera ini dibanderol dengan harga 1,3 hingga 3 juta rupiah setiap pasangnya. “Produk sepatu ini ternyata banyak diminati, meski masih lokal tapi kesannya limited dan ekslusif,” ujar pelaku UMKM di wilayah Lawang, Kabupaten Malang ini.

Budi Fathony dari Arsitektur ITN Malang saat paparan dalam Diskusi Publik bertema ‘Masa Depan Kajoetangan Heritage’ , Rabu (29/12/2021). (ned)

Kesuksesan ini tidak diraih dalam sekejap. Kerja keras Arianto ini ternyata diimbangi dengan upaya memberdayakan warga dengan memberi pelatihan budidaya ulat sutera eri kepada para petani dan anak-anak muda, serta mengajak 250 orang penyandang disabilitas untuk berkarya bersama. “Saya berharap para penyandang disabilitas dapat memanfaatkan ilmu yang diberikan dengan berkarya secara mandiri dan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri,” tuturnya.

Arianto juga bersyukur dapat mengikuti pameran offline atau luring seperti ini. “Memang saat pandemi kita harus siap dengan penjualan secara daring, tapi bagi kami para pelaku usaha tetap merasa lebih efektif dengan mengikuti pameran seperti ini,” tukasnya.

Selain pameran, acara selama tiga hari ini dimeriahkan Parade Musik, Fashion Show Anak dan berbagai Talk Show, salah satunya Diskusi Publik bertema ‘Masa Depan Kajoetangan Heritage’ dengan narasumber Budi Fathony, Tri Iwan Widhianto, Fuad Rahman dan Pokdarwis KJT. (ned)