Marak Perangkap Medsos Berujung Pencurian Data, Budayawan Malang Ingatkan Netizen

Caption : Akademisi UB dan Budayawan, Dr. Riyanto, M.Hum. (ist)

BACAMALANG.COM – Saat ini marak perangkap medsos berujung pencurian data yang merugikan ribuan Netizen. Secara ringkas modus yang dipergunakan pelaku adalah dengan mengiming-imingi netizen hadiah dalam sebuah kuis, namun harus terlebih dahulu mencantumkan data pribadi.

Nah ternyata berbekal data personal tersebut, pelaku memanfaatkan untuk bertindak kriminal yang merugikan netizen. Adanya fenomena ini memantik Akademisi Universitas Brawijaya (UB) yang juga Budayawan Malang, Dr. Riyanto, M.Hum. memberikan peringatan kewaspadaan untuk warganet. Berikut pengingat kewaspadaan tersebut selengkapnya :

JEBAKAN MEDIA SOSIAL
Kalian belum pintar …..

Bahasa adalah raja. Menguasai pikiran manusia. Beranak pinak, masuk di relung relung mencipta makna. Bak “ajian Bolosewu”, memecah diri, satu, sepuluh, seratus, dan seribu, di medan Kuru. Teknologi anak globalisasi yang sempurna.

“Terimakasih Bib, kita menang !
Pak Prabowo kontak Habib Rizik di Arab Saudi. Mereka yakin menang pilpres. Lembaga survei, mengumumkan, Jokowi unggul lagi.

Luar biasa. Bahasa yang keluar dari mulut pak Prabowo, memutihkan Monas. Pasukan partikelir unjuk gigi. Front Pembela Islam, “ampyak awur-awur”, menuntut pak Jokowi mundur. Berita tidak dikritisi, memakan korban anak sendiri.

Semakin lebar, tak berdaya. Ikan-ikan lapar terjerat jaring nelayan. Makanan itu membawa malapetaka.

Media sosial teknologi serba bisa. Menguntungkan, berguna, bermanfa’at, lupa, itu berbahaya. Ibarat teks, lupa dengan konteksnya. Bahasa lupa dengan maknanya. Jaring lebar telah ditebar. Ikan asyik makan, kini menggelepar.

Gegar budaya. Bangsa ini masih “kemaruk” teknologi. Belum hilang dari ingatan, “amalillah, investasi kurma, penawaran umroh, money game, dan banyak lagi yang lainnya, terus berulang.

Jayabaya wanti wati, “bumi bakal mengkeret, bumi akan mengkerut. Dunia tanpa batas. “Wong edan sak dalan-dalan, orang gila sepanjang jalan.
Teknologi mendekatkan yang jauh, membangunkan yang lagi mimpi. Termasuk iming iming meng-kaya-kan yang papa terlilit keinginan. Ibarat sakit, tidak ada obatnya. Hanya kesadaran untuk sensitif, belajar dan belajar.

Tidak ada yang salah, kalian belum pintar ………

JEJAK DIGITAL KRIMINAL

Berdasar fakta, Facebook pernah menuntut dua pembuat kuis Sluchevsky dan Gorbachov yang mencuri data pengguna karena membujuk pengguna memasang sebuah plug-in jahat pada browser mereka yakni empat aplikasi web, termasuk kuis “Supertest” dan “FQuiz”, yang memancing pengguna memberikan data pribadi.

Aplikasi-aplikasi kuis tersebut menggunakan fitur login Facebook dan mengklaim hanya mengumpulkan informasi secara terbatas, walaupun sebenarnya tidak demikian. Informasi pribadi itulah yang digunakan untuk bermain kuis dan membaca karakter pengguna. Pada kenyataannya, aplikasi kemudian mengarahkan pengguna untuk memasang ekstensi web browser yang kemudian membuka akses ke akun pengguna Facebook.

Tragisnya pelaku bisa mencuri data dari akun media sosial lainnya. Aplikasi jahat itu menarget pengguna Facebook yang berada di wilayah Rusia dan Ukraina. Kini fenomena kejahatan IT ini telah merambah ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. (*/had)