Marak Peternak Banting Harga, Dosen Fapet Unisma Beri Imbauan Begini

Salah satu peternak Khoirul, inzet drh Humaidah. (ist)

BACAMALANG.COM – Dikhawatirkan terjadi panic selling dengan banting harga, Dosen Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang (Unisma) drh Nurul Humaidah mengimbau masyarakat tidak panik dalam menghadapi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang merebak di berbagai wilayah di Indonesia.

“Dengan perawatan yang baik dan telaten, dalam waktu sekitar 8 hari penyakit sudah sembuh,” kata drh Humaidah baru-baru ini.

Dikatakannya hewan terjangkit PMK bisa sembuh dalam 8 hari, karenanya peternak diimbau tidak panik.

Diungkapkannya, di tengah jumlah kasus yang terus bertambah, ia berharap pemerintah bisa segera memberikan edukasi merata terkait PMK kepada para peternak agar tidak terjadi kepanikan massal.

“Memberikan edukasi yang betul kepada peternak supaya tidak terjadi panik massal kepada peternak yang pemahaman tentang PMK-nya masih nol,” terangnya.

Menurut dia, kepanikan massal sangat berdampak pada harga jual hewan ternak karena semenjak munculnya penyakit PMK harga hewan ternak menjadi terjun bebas. “Menjual ternaknya dengan harga murah ini tentu membuat peternak semakin rugi,” terang dokter hewan alumnus Universitas Airlangga ini.

Ia menuturkan, tak sedikit peternak yang panik membanting harga jual hewan tersebut menjadi harga sangat murah lantaran khawatir ternaknya bakal mati ketika terjangkit PMK. “Pengalaman saya dan tim dari Fakultas Peternakan Unisma menangani wabah kemarin, peternak banyak yang menjual sapi sakit dengan harga Rp 1-2 juta padahal harga normal di atas Rp 15 juta,” jabarnya.

Maka itu, ia menilai edukasi PMK kepada para peternak menjadi sangat penting. “Edukasi bahwa PMK memang penularannya cepat, tetapi tidak mematikan,” paparnya.

Selain edukasi, ia juga meminta pemerintah memberikan pendampingan pemulihan kepada para peternak. Hal ini guna mengembalikan semangat peternak untuk mau kembali beternak. “Selain itu, juga pendampingan perawatan kuku dan stamina Sapi supaya produksi membaik. Dalam saat seperti ini, harus ada empati kepada peternak sehingga peternak merasa tidak sendiri,” pungkasnya. (*/had)