Masa Pandemi, Produksi Mainan Anak ini Justru Meningkat 100 Persen

Proses pembuatan mainan edukasi Wuffyland Malang, belum lama ini. (ned)

BACAMALANG.COM – Era digital seperti sekarang ini membuat semua sektor kehidupan menjadi terkait dengan teknologi, termasuk perkembangan anak usia dini. Namun bagi Ghea Safferina Adany, teknologi tidak menjadikan anak harus selalu berhadapan langsung dengan gawai. Wanita berusia 26 tahun ini justru mencoba berbisnis mainan edukasi anak berbasis kertas.

“Awalnya saya membuat mainan untuk anak saya pada awal tahun 2019 lalu,” ungkapnya saat ditemui di rumah produksinya di kawasan Jalan Kalimasodo Kota Malang awal pekan lalu.

Ghea memilih bahan kertas karena menurutnya kertas dibuat menjadi apa saja. Alumnus SMK Telkom Malang pun mulai mengutak-atik desain mainan lewat komputer, hingga terciptalah mainan edukasi pertamanya, yang diberin nama Contrast Card.

“Kartu ini adalah mainan edukasi untuk simulasi melihat buat anak saya, dan ketika saya posting di media sosial ternyata banyak orang yang suka,” ujar ibu dua anak ini.

Ghea Safferina Adany bersama anaknya menunjukkan beberapa mainan edukasi produksinya. (ned)

Awalnya permintaan akan mainan tersebut ia penuhi dengan memberikan dalam bentuk soft file, namun semakin lama para customer banyak yang ingin dalam bentuk jadi.

Dari sini Ghea mulai mengembangkan usaha ini. Bersama suaminya, ia mengusung nama Wuffyland Malang, yang menyasar anak-anak usia 6 bulan sampai enam tahun.

“Pada usia tersebut mainan anak belum mengacu pada kurikulum tertentu, sehingga saya mencoba merancang secara sederhana dari lingkungan sekitar dan kehidupan sehari-hari, dan yang lebih baik tentunya jika anak bisa bermain sambil didampingi orang tua,” jelasnya.

Ia memberi contoh, salah satunya mainan dengan gambar belanja, dimana sang ibu dapat memberi pilihan daftar belanja pada anaknya, sedang anak bisa memilih gambar sesuai daftar belanja dan hasilnya ditempelkan di gambar keranjang tersebut.

Sementara jenis mainan lainnya ada yang menata potongan gambar (puzzle) menjadi satu gambar utuh, mengenal angka, huruf maupun benda hingga belajar menulis dasar.

Ghea sadar bahwa anak kecil pada dasarnya akan tertarik pada benda dengan penampilan menarik. Berbekal pendidikan dengan latar belakang IT yang dimilikinya, Ghea pun mencoba mendesain mainan-mainannya agar tampak ‘eye catching’. Saat ini sudah sekitar 90-an jenis mainan edukasi yang dihasilkan Wuffyland Malang dengan kisaran harga mulai Rp 15.000,- sampai Rp 80.000,-.

Ia juga menyertakan plastik di setiap mainan, yang dapat digunakan untuk menyimpan kembali bagian-bagian mainan setelah dipakai. “Supaya praktis dan dapat dipakai berulang kali,” ujarnya.

Ghea mengaku mengembangkan usahanya dengan penjualan lewat media sosial. Bahkan pada masa pandemi ini penjualannya malah naik 100 persen.
“Alhamdulillah, mungkin karena banyak anak yang belajar dan beraktivitas bersama orang tuanya di rumah,” tukasnya.

Namun ia tetap optimistis mainan ini tetap menarik minat orang tua. Selain harganya terjangkau, mainan ini dapat lebih menguatkan ikatan batin anak dan orangtua dengan bermain bersama. Apalagi saat ini produknya banyak yang sudah terjual ke luar Malang juga, seperti Jakarta, Bandung, bahkan untuk produk digital sudah banyak pesanan dari luar negeri, salah satunya Amerika.

Mainan-mainan ini digarap bersama tim tetapnya yang berjumlah 15 orang, seperti pekerjaan menggunting kertas, menempel stiker dan magnet hingga pengemasan. Namun untuk beberapa pesanan tertentu, Ghea menyerahkan penggarapannya pada warga di sekitar rumahnya.

“Saya mencoba memberdayakan potensi para tetangga, agar tetap produktif berkarya dan sama-sama menghasilkan uang,” ungkapnya.
Ghea mengaku tantangan usaha ini adalah semakin banyak orang yang mencoba dengan produksi mainan miliknya.

“Dulu awalnya masih single fighter, sekarang banyak usaha yang sejenis, bahkan ada yang mirip, sehingga saya harus dituntut tetap berinovasi dan membuat ide-ide baru,” tandasnya. (ned)