Masa Tanggap Darurat Bencana Berakhir, LPBI NU Jaring Aspirasi Solusi

Rurid Rudianto (tengah). (ist)

BACAMALANG.COM – Seiring dengan berakhirnya masa tanggap darurat bencana gempa bumi Malang pada 7 Mei 2021 lalu, LPBI (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim) NU menjaring aspirasi untuk solusi agar dapat menangani secara humanis, sistematis dan berkeadilan.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Malang telah mengakhiri status masa tanggap darurat bencana gempa Malang pada tgl 7 Mei 2021 kemarin. Selanjutnya status diubah menjadi transisi darurat ke pemulihan terhitung sejak tgl 8 Mei 2021 sampai dengan tanggal 31 Desember 2021,” terang Rurid Rudianto Ketua LPBI Kabupaten Malang.

“Status transisi darurat ke pemulihan sejatinya masih dalam status darurat bencana, hanya yang membedakan adalah pola respon bencananya saja. Untuk status transisi ini rencana yang disusun adalah lebih fokus kepada early rocovery (pemulihan dini),” paparnya.

“Berikut upaya-upaya ideal yang dilakukan dalam early recovery setidaknya meliputi: G = governance: pemerintahan, L = livelihood: mata pencaharian, I = inclusion: ketercakupan, D = Debri Clearance: pembersihan, E = Environment: lingkungan, dan R = Risk Reduction: pengurangan risiko,” tuturnya.

“Untuk itu kami mohon masukan tentang program dan kegiatan yang seharusnya dilakukan NU Peduli. Tentunya dengan pertimbangan kapasitas yang kita miliki untuk menyelesaikan persoalan masyarakat yang terdampak gempa. Tentunya tidak harus semua persoalan tersebut kita yang harus menyelesaikannya,” terangnya.

“Jadi prinsip kalau tidak bisa mampu menyelesaikan semuanya kita ambil beberapa persoalan yang jika itu diselesaikan membawa manfaat yang paling besar. Dan pertimbangan memberikan bantuan wajib menambah kapasitas masyarakat terdampak gempa, bukan malah sebaliknya mengakibatkan masyarakat semakin rentan, tergantung oleh bantuan dan memiliki kecenderungan berperilaku iri satu sama lain dalam menyikapi bantuan,” tukasnya.

“Dalam kondisi tersebut apabila terus terjadi dapat berdampak pada konflik antar masyarakat dan lamanya proses pemulihan,” imbuhnya.

“Pada prinsipnya pemulihan itu dalam membangun yang lebih baik dan lebih aman (build back better and saver), mengingat ancaman gempa bumi masih akan terus berlangsung dan bencana lain juga masih berpotensi terjadi,” urainya.

“Sehingga harapan kami pemulihan kondisi masyarakat tidak hanya tergantung pada pemilihan sarana dan prasarana fisik saja tetapi kondisi sosial, pendidikan, agama dan kebudayaan juga berjalan normal karena ini yang akan mempercepat proses pemulihan. Sekali lagi kami mohon masukan dan saran agar respon NU Peduli ini menjadi semakin bagus dalam membantu masyarakat yang terdampak gempa,” pungkas Rurid. (*/had)