Masih Pandemi, Begini Pembelajaran di SDN Tamanasri 01 Ampelgading

Foto: Guru SDN Tamanasri 01 Ampelgading saat menerima tugas yang dikerjakan dirumah dari siswanya. (ist)

BACAMALANG.COM – Di massa pandemi Covid-19 saat ini, ternyata tidak menyurutkan semangat tenaga pengajar di Kabupaten Malang dalam melaksanakan tugasnya dengan memberikan pembelajaran secara online atau offline demi mencerdaskan anak bangsa .

Seperti yang dilakukan oleh Eko Ratri Juliandini, S.Pd.MM. di SDN Tamanasri 01 Ampelgading. Ditengah pandemi seperti ini, ia memang masih harus menerapkan pembelajaran dalam jaringan (daring).

Beberapa Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran daring, kata dia, mulai dari sinyal yang sulit dan siswa yang tidak memiliki HP android harus bergantian dengan orang tua. “Ada aja, biasanya terkendala sinyal. Ada pula siswa yang gak punya HP,” ungkapnya.

Demi proses belajar mengajar tetap berjalan dan tetap mematuhi protokol kesehatan, teknik belajar peserta didiknya secara berkelompok maximum 4 orang.

Sementara gurunya online dari sekolah sampai anak- anak selesai dan mengumpulkan tugasnya sebagai pengawasan dan tanggung jawab terhadap siswa untuk mengetahui masih mengikuti belajar atau tidak .

“Ada saja habis nongol kemudian offline, main game. Ya namanya anak-anak, masih perlu dipantau dan diawasi,” ujarnya.

Ia mengatakan, tidak semua dari siswanya yang kebanyakan anak dari petani memiliki ponsel. Karenanya, ia harus mengunjungi rumah siswa-siswanya untuk mengajar secara langsung, hal yang dilakukannya secara sukarela meski dikatakannya “belum mendapatkan insentif”.

Meski begitu, ia mengatakan tak mungkin kurikulum yang normal bisa diterapkan dalam PJJ. Jika sekolah baru dibuka akhir tahun atau awal tahun depan, dampaknya sangat besar bagi siswa.

Maka itu, ia berpendapat, jika situasi sudah aman dan memungkinkan, sekolah mestinya dapat dibuka kembali. Selain keterbatasan fasilitas, sistem PJJ juga dinilai belum efektif karena ketidaksiapan siswa belajar di rumah.

Salah satu orang tua siswa kelas V yang enggan disebutkan namanya menceritakan apa yang diamatinya. “Berantakan belajarnya, ya anak berpikirnya main saja. Yang jelas, anaknya nggak siap untuk belajar di rumah. Kalau ujian yang jawab malah ibunya. Saat ujian, minta jawaban dari Mbah Google, jadi nggak murni itu.” tukasnya. (yon/red)