Menangkal Maraknya Radikalisme di Lingkungan Sekolah, Akademisi UB Tekankan Pentingnya Literasi Digital

M Fajar S Ramadlan saat memberikan pemahaman pencegahan radikalisme melalui media sosial ke siswa SMAN 5 Malang bertempat Di DW Coffe Shop Malang. (why)

BACAMALANG.COM – Guna menangkal maraknya radikalisme di Lingkungan Sekolah yang disebarkan lewat medsos, Akademisi UB (Universitas Brawijaya) menekankan pentingnya literasi digital.

Informasi yang disediakan oleh media sosial saat ini sangatlah kencang, dan masyarakat kini dihadapkan dengan kegiatan virtual yang diharuskan terhubung dengan internet secara langsung dan terus menerus.

Media sosial dapat menjadi pintu awal mengenai paham radikalisme, masalah ini di lingkungan sekitar bukan semata-mata problem yang mudah diselesaikan.

“Media sosial itu kalau dilihat dari data BNPT itu memang salah satu pintu masuk narasi-narasi tentang ekstremisme bahkan sampai terorisme. Konten media sosial itu kan tidak semua masyarakat memiliki kemampuan literasi digital yang baik, sehingga kemampuan untuk menyaring informasi memilih dan memilah itu masih bermasalah,” tutur Dosen Ilmu Politik Fisip Universitas Brawijaya (UB), M Fajar S Ramadlan, Sabtu (18/9/2021).

Menurut Fajar, Lingkungan keluarga juga turut andil dalam membangun sistem deteksi dini untuk mencegah menyebarnya paham-paham radikal berbasis SARA.

“Tapi kalau kita melihat dari kecenderungan banyak masyarakat yang menjadi ke arah radikal ekstrem bahkan dibawa ke terorisme salah satu persoalan itu tekanan hidup dan stres. Masyarakat sekarang itu kan masyarakat yang relatif lebih dekat dengan media sosial daripada orang terdekatnya, sehingga terkadang persoalan-persoalan tentang hidup dicari jawabannya lewat media sosial. Mungkin diantara mereka terkoneksi dengan akun-akun yang kemudian bisa menggiring ke arah radikalisme atau ekstremisme itu,” ungkapnya.

Deteksi dini menjadi solusi awal untuk melawan persemaian paham-paham jihadis di lingkungan sekolah-sekolah tersebut. Untuk menyelesaikan problem itu, pelibatan kelompok masyarakat sipil (civil society) menjadi penting.

“Pola umumnya yang sering terjadi gerakan ekstremisme yaitu intoleransi, kita memahami kultur lain terlalu mentah dan kemudian kurangnya pemahaman mengenai ilmu agama itu kemudian dimanivestasikan ke dalam bentuk menyalahkan pandangan orang lain terhadap agama yang sama atau berbeda yang menjadi berbahaya,” ujar
Dosen Ilmu Politik Fisip UB, Ahmad Hasan Ubaid.

“Kemudian formulasi pemikiran itu diaktivasi dalam bentuk pergerakan itu yang mungkin berbahaya,” lanjut Hasan.

“Pranata sosial adalah ujung tombak untuk mendeteksi ancaman teroris. Selain itu, negara juga harus hadir untuk melakukan pengawasan dan counter-wacana ke lingkungan sekolah-sekolah,” pungkasnya. (Why)