Menelisik Patirtan Jolotunda yang Eksis Sejak 1.200 Tahun yang Lalu

Sebuah prosesi ritual di Patirtan Jolotundo. (ist)

Oleh : Pietra Widiadi*

Dua puluh (20) tahun yang lalu, saat terakhir kali penulis sering berkunjung ke Kawasan Gunung Penanggungan sisi Barat, masih berupa kawasan yang penuh dengan pertanian yang subur dan hijaunya pepohonan yang masih berhutan.

Malam kemarin, saat bulan menunjukkan diri dengan malu-malu yang menggambarkan bulan tilem, kawasan ini sudah berubah, nyaris sangat berubah menjadi kawasan urban yang ada di pegunungan.

Bangunan dan jalan rusak karena dilalui truk mengangkut tanah dari punggung Gunung Penanggungan dan kawasan wisata kuliner yang menyajikan keindahan alam yang makin berkurang.

Jolotundo, Patirtan Jolotundo juga berubah. Malam hari namun ramai pengunjung. Kawasan sakral yang selalu dikunjungi pelaku tradisi Jawa yang ingin berjumpa dengan leluhur, dikelola ala kadarnya, sehingga sampah dan tata kelola ruang yang tidak ditata dengan cukup elok, bebatuan tua yang berserakan dan bisa saja dikencingi oleh pengunjung dan kawasan yang hanya ditata sebagai tempat rekreasi tanpa dikembangkan sebagai tempat memuja.

Padahal pada malam hari orang-orang berkunjung dan berkegiatan mandi dimana-mana, menunjukkan sedang beritual dan mengambil berkah dari sumber air yang sudah aja sejak 1.200 tahun lalu pada masa Mpu Sindok berkuasa di Medang.

Jadi habis mandi, ya berganti pakaian sekenanya dimana mereka mau, sementara kamar mandi sangat terbatas.

Tepatnya, Patirtan Jolotundo terletak di Dusun Balekambang Desa Seloliman, Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur tersebut berada di sisi barat Gunung Penanggungan dengan ketinggian 525 Mdpl.

Patirtan ini mulai jadi pada tahun 1815, berawal dari seorang peneliti dari Belanda, Wardener yang pada waktu itu menemukan peripih di tengah kolam yang berisi abu dan lempengan emas yang bertuliskan Dewa Isyana dan Dewa Agni.

Pada tahun 1936, seorang lagi, namanya Domais menemukan arca naga dan garuda di sudut kolam induk.

Lalu, tahun 1937 Stutterheim menemukan dan meneliti pancuran batu yang berbentuk silindris yang merupakan bagian kemuncak dari teras Patirtan Jolotundo.

Patirtan Jolotundo memiliki 2 bilik dan bagian teras dengan dilengkapi pancuran yang melambangkan Gunung Mahameru dan ditemukan juga Lingga Nawa Sangha di bagian puncaknya.

Bagian belakang teras ada tempat yang kemungkinan letak arca utama.
Petirtan Jolotundo yang dibuat pada masa anak Mpu Sindok, pada tahun 899 Saka (977 Masehi) yaitu pada masa Sri Isyana Tunggawijaya.

Kemudian diceritakan bahwa Mregayawati dan raja Sahasranika mempunyai anak bernama Udayana dari Garis Tunggawarma dalam kisah Maha Bali Puram, ada percampuran dengan garis Rudrawarma dari Utara.

Sri Isyana Tunggawijaya menikah dengan Sri Lokapala dari Bali (Prasasti Gedangan). Sri Isyana mempunyai anak Makuthawangsa Wardhana.

Makhutawangsa Wardhana punya anak Mahendradata dan menikah dengan Udayana dari Wangsa Warmadewa (Prasasti Pucangan).

Putra sulung Makuthawangsa Wardana yaitu Dharmawangsa Teguh. Kemudian anak Mahendradata dan Udaya yaitu Airlangga menikah dengan anak Dharmawangsa Teguh.

Jas Merah, kata bung Karno, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Ini adalah ungkapan yang dalam bagaimana Kita bertumbuh menjadi manusia Indonesia saat ini.

Harus tidak sekalipun, melupakan sejarah. Sejarah dimana leluhur Kita memberikan bukti dan menggoreskan banyak karya yang patut Kita lakukan, dan tidak sekedar dikenang, seperti lagu kenangan.

Dengan demikian, maka tuntutannya adalah laku, melakukan sebagai pelaku, bukan sebagai penikmat dan pemerhati dalam kajian local knowledge.

Dalam perspektif ini, laku dan para pelakunya adalah bagian dari perjalanan sebagai pelaku dalam local wisdom, yaitu mereka yang menjalankan kearifan lokal yang berkembang sejak ribuan tahun yang lalu.

Malam Sabtu Legi, kegiatan mecaru atau caru dilakukan, dimulai dengan pembukaan yang dipimpin seorang mangku, Kang Potro Wanto.

Pecaruan alias Mecaru sejatinya memiliki makna sebagai upaya Niskala memohon kepada Hyang Widhi agar dikaruniai keselamatan alam semesta dan dijauhkan dari hal-hal yang bersifat negatif.

Makna dari mecaru secara spiritual adalah sebagai sarana untuk menyeimbangkan kekuatan buana agung (alam luas) dan buana alit (alam yang ada di tubuh).

Selain itu upacara mecaru juga dimaknai sebagai sarana untuk menetralisir mala atau sifat-sifat negatif yang ada di bumi agar menjadi positif dan berguna dalam setiap kehidupan manusia.

Mencaru atau caru adalah kekuatan bhuta kala menjadi somya, kembali kepada unsur kebaikan, artinya dalam kehidupan di bumi, adalah hutan agar betul-betul berfungsi sebagai sumber kehidupan dan kesejahteraan hidup.

Alam semesta adalah suatu kesatuan dan saling bergantung satu sama lain. Tidak ada benda mengada sebagai eksistensi yang terpisah dari yang lainnya.

Setiap orang bergantung kepada yang lain atas kelahiran fisik, eksistensi, pengetahuan dan kebudayaan dan keperluan-keperluan hidup lainnya.

Melalui upacara tersebut diharapkan dapat menjalin keharmonisan sesama umat manusia, hal ini dibuktikan bahwa pada saat upacara berkumpullah para pelaku untuk saling berinteraksi memupuk kebersamaan menjaga keharmonisan hidup sesama umat manusia.

Makna mendalam yang diharapkan adalah kecintaan umat manusia kepada lingkungan hidup. Makna dari upacara ini yaitu suatu korban suci kepada unsur-unsur alam baik yang berwujud nyata maupun tidak nyata yang dilaksanakan di hutan untuk menghilangkan atau melenyapkan pengaruh-pengaruh negatif dari alam gaib, sehingga para bhuta akan somya sesuai sifat dan tempat yang dimilikinya dan bhuta kala tidak akan mengganggu kehidupan di dunia.

Sedang dalam perspektif Jawa kuno (Jawi Kawi) terdapat ada 2 caru, yaitu caru adalah sebuah persembahan kepada Sang Dewata dan manusia juga.

Yang sesembahannya terdapat nasi ditanak dalam kuali, bubur nasi, gula, susu Sapi, mentega dan makanan lainnya yang tidak berbau darah.

Yang kedua berdasarkan Kakawin Arjunawijaya, dan Sutasoma, yang dipersonifikasikan oleh Calon Arang yang menyebut persembahan setidaknya berbau darah, yang berupa korban binatang atau darah manusia (pada masa itu).

  • Penulis adalah Founder Dial Foundation dan Owner Pendopo Kembangkopi Wagir (http://www.dial.or.id) serta penggagas Pelaku Jawi Kawi yang bekerja bareng dengan teman-teman Sabtu Legen dari Giritoyo Mataya.
  • Tulisan ini adalah menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari penulis.