Menelusuri Jejak Ali Kalora, Peran Uighur dalam MIT dan Terorisme di Indonesia (1)

Foto: Dr. Amir Mahmud, S.Sos.,M.Ag. Direktur Amir Institue.(ist)

BACAMALANG.COM – Peristiwa pembantaian yamg menewaskan 4 orang di Desa Lembatongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulteng, Jumat (27/11/2020) oleh Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora menggemparkan tanah air.

Kepala (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan Satgas Tinombala berhasil melumpuhkan sebagian anggota teroris dan terus memburu Ali Kalora cs.

Berikut hasil wawancara dengan Direktur Amir Institue Dr. Amir Mahmud, S.Sos.,M.Ag. mengupas tentang penelusuran jejak Ali Kalora, peran Uighur dalam MIT dan Terorisme di Indonesia.

1. Kita mengetahui hingga hari ini 11 teroris kelompok Ali Kalora belum berhasil ditangkap oleh Densus 88, bagaimana pandangan Anda? Sesulit itukah?

Sebenarnya itu tidak terlalu sulit Namun karena memang penangkapan itu membutuhkan situasi dan kondisi khusus. Hal ini karena masyarakat juga secara ideologis menerima. Bisa dikatakan masyarakat memback up mereka. Kesimpulannya faktor masyarakat juga berpengaruh. Memang butuh pemahaman situasi dan kondisi karena kendala di medan (geografis) yang sulit. Hal ini bisa dilihat dari peta, kecuali warga asli yang paham betul kondisi disitu. Mereka (teroris) menjalankan Gerakan hutan atau gerilya hutan. Masyarakat bersimpati karena mereka punya pendekatan awal awal mulai digaungkan gerakan Poso oleh Santoso kondisinya sudah seperti itu, kultur sudah ada. Secara sosiologis-kultural, masyarakat di wilayah sana mereka tidak suka dengan pemerintah (rejim) Indonesia mereka sudah teriklim (terbiasa). Maka jika iklim sudah terbentuk tinggal memasukkan ideologi, akhirnya mereka (teroris) mudah menghilangkan jejak (kabur/lolos). Adanya berita pembantaian mereka oleh Ali Kalora itu semua mereka sudah membidik sasaran spesifik mempelajari dengan seksama. Teroris sudah mempelajari dan mempersiapkan sasaran sejak lama.

2. Bagaimana kondisi atau keberadaan Uighur yang bergabung dengan teroris di
Indonesia saat ini?

Kelompok ini (Uighur) sudah mengenal nilai-nilai yang hendak dicapai secara global internasional. MIT sebenarnya sudah ada sebelum JAT, dan JAD, karena mereka produk JI (Jamaah Islamiyah) di Asia Tenggara. Mereka memilih Poso karena terkait lokasi dan posisi yang strategis. Salah satunya jika menyeberang Utara sedikit bisa ke Philipina. Anda bisa buktikan dengan berkunjung ke Nusakambangan akan melihat beberapa tahanan teroris dari Uighur tertangkap karena ikut di Poso.

3. Bagaimana kondisi atau keberadaan Uighur yang bergabung dengan teroris di
Indonesia saat ini? Bagaimana sejarah Uighur di Indonesia?

Uighur adalah separatis di Xinjiang ya seperti di Aceh ingin memisahkan dari China, mereka mirip gerakan Islam di Turki. Ada beberapa orang saja di Poso, mereka lewat jalur ilegal bersama Santoso, mereka ingin Indonesia dikonflikkan, kalau sudah berkonflik maka akan bisa dibuat seperti Filipina basis penyebaran sayap dan ada permainan internasional. Kelompok jihadis Indonesia mengangkat isu etnis Uighur sebagai pemicu, propaganda dan semangat perjuangan. Isu Uighur dimainkan di Indonesia untuk perlawanan kepada rejim Indonesia. Karena sebagian kelompok tidak suka dengan Jokowi. Dulu sebelum ini diisukan, diisukan Suriah. Saya menyuarakan di Solo Raya dan Jateng. Jangan Suriahkan Indonesia. Karena akan memicu tragedi besar kemanusiaan. Lahirnya ulama, dan lain-lain ada di Suriah. Ketika isu Suriah tidak mempan, muncul isu Uighur untuk menyulut semangat dan ideologi perlawanan kepada rezim. Untung kecerdasan masyarakat Indonesia lumayan sehingga bisa dinetralisir.

4. Selain bergabung dengan MIT apakah mereka juga bergabung dengan kelompok
teroris di Indonesia atau ASIA?

Uighur juga menyintas ke Philipina dengan isu dan tujuan sama, menciptakan imperium. Perjuangan mereka dinilai di Indonesia gagal. Tidak ada tempat yang bisa ditempati. Di Aceh gak bisa ditempati. Di Philipina sukses karena ada otoritas dan lokasi strategis, misal di Moro Komunitas Abu Sayyaf. Densus menggerebek Santoso ditemukan ada Uighur. Ini indikasi ada jaringan ke Uighur. Orang orang yang memainkan isu Uighur adalah pihak pihak-pihak (Jaringan) yang sama tapi memakai media (wahana) yang tidak galak. Kemampuan penanganan teroris di Philipina cukup baik. Namun keberadaan Noor Misuari dan Slamet Ashim masih eksis. Hal ini karena disana cukup kondusif. Bahkan mereka bersenjata. Mereka (teroris) ingin kemerdekaan seluas-luasnya.

5. Menurut informasi dari Anda di beberapa forum akademis, sudah dua kali Anda berangkat ke China, bagaimana pengalaman Doktor Amir melihat Muslim Uighur disana?

Saya sudah kesana dua kali. Yakni ke Beijing dan Shanghai. Saya mengadakan aproach masyarakat muslim disana, mempelajari perkembangan ajaran agama, dan syiar agama. Ya biasa-biasa saja tidak seperti isu yang berkembang selama ini. Islam disana minoritas, maka harus mempunyai etika kebangsaan dan nasionalisme China. Saya juga ke Xinjiang (Uighur). Mereka ya hanya satu komunitas saja. Tidak seperti pemberitaan yang banyak hal negatif. Masjid banyak. Tidak ada pembongkaran. Camp yang disebutkan disana adalah tempat rehabilitasi alias deradikalisasi. Saya juga bertanya kepada napi, kronologi mereka tertangkap. Salah satunya mengaku sebagai pekerja di pabrik. Ia mendapatkan video dari ISIS, lalu dishare, kepergok dan ketangkap Pemerintahan China. Sebenarnya tidak ada penyiksaan. Misalnya Aparat menangkap ada standar. Kapan melumpuhkan kapan menangkap, aparat sudah paham. Karena jihadis adalah orang siap mati, maka petugas meski responsif namun harus memenuhi SOP. Pemberitaan negatif banyak direpetisi (diulang-ulang). Penyiksaan dan sebagainya. Semisal ada aparat menyuruh makan, tidak boleh puasa. Aparat membawa senjata saat buka puasa. Mereka napi Teroris bukan disandera, mereka (petugas) malah melindungi dan mengawasi saat di jalan. Disini banyak salah menangkap. Mereka (jihadis) memakai google, google kan buatan AS. Pernah ada kasus, orang Solo datang kesini (Xinjiang). Namun tidak memenuhi prosedur yang lumayan ketat. Ya akhirnya ditolak masuk. Akhirnya ia membuat berita salah terkait hal ini. Katanya terlalu ketat ada cctv dan segala macam. Termasuk adanya berita redesain penjara adalah berita gak benar.

6. Apakah benar, bahwa selama ini mereka ditahan dan disiksa di dalam kamp-kamp konsentrasi dengan alasan deradikalisasi?

Camp konsentrasi untuk penyiksaan itu tidak ada. Persatuan umat Islam di Xinjiang cukup kuat. Saya kan datang bukan sekedar meninjau dan tamasya. Saya punya kata kunci karena misi saya riset mengenal secara empiris. Kalau saya kan obyektif netral independen prosedural. Datang jika tidak prosedural ditolak. Maka orang radikal yang datang kesana, info ditelan mentah-mentah. Umat Islam disana juga banyak. Di Shanghai juga banyak. Kalau di Uighur itu mereka adalah separatis. Mana ada negara yang boleh ada separatisme. Saya pakai pendekatan budaya. Jangan sampai tekesan orang takut (phobia) karena kehadiran saya. Salah satunya yang saya tanyai ya pekerja yang tadi itu. Yang melakukan teror di China adalah sebagian suku Uighur. Sebelum saya datang kesana, saya pelajari dulu berbagai hal. Kami disana memakai bahasa Inggris dan Arab dan dibantu guide. Kultur disana orangnya suka menyanyi. Saya menyanyi bersama, bahkan mendemokan main kungfu sendirian di hadapan mereka. Saya bilang Jacky Chan mereka menyahut bilang Bruce Lee. Mereka ketawa menyiratkan tidak ada beban atas kedatangan Kami. Karena Kami memberi support. Disana pemahaman tentang jilbab cukup baik dan dipraktekkan juga oleh warga.

7. Bagaimana otoritas China mengkomunikasikan tudingan genosida terhadap
Muslim Xinjiang kepada dunia luar?

Bukan humas salah. Tapi peran negara di sekitar China. Tidak semua negara bersimpati dengan China. Hal ini terkait otoritas China. Amerika takut jalur sutra. Katanya nanti ekonomi tersedot. Ini sebenarnya yang terjadi, Perang Ekonomi dengan memainkan isu agama yang seksi, sensitif dan empuk. Indonesia Alhamdulillah baik karena masyarakat cerdas. (*/had)