Mengambil Hikmah dari Sebuah Musibah

Caption : Ninik Sri Utami, S.Pd, M.Pd Pengajar di SMPN 2 Sumberpucung Kabupaten Malang, dan Calon guru penggerak angkatan 2. (dok pribadi Ninik)

Oleh : Ninik Sri Utami, S.Pd, M.Pd

Sudah satu tahun lebih bumi pertiwiku dirundung duka, berbagai bencana melanda, namun kita sebagai manusia harus tetap tabah dan sabar dalam menjalaninya.

Selama itu pula saya sebagai pendidik tetap berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa, meskipun dengan berbagai permasalahan yang timbul akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini.

Semua lembaga pendidikan tidak terkecuali sekolahku tercinta SMPN 2 Sumberpucung yang terkenal dengan sebutan TGP juga mengalami hal yang sama, semua tenaga pendidik yang ada di TGP berupaya dengan segala cara memperjuangkan hak-hak anak untuk memperoleh ilmu selama mereka menyandang murid TGP.

Sebuah tugas yang tulus dan ikhlas kami harus tetap persembahkan demi keberlangsungan proses pembelajaran meskipun kami tidak pernah bertemu tatap muka dengan nyaman.

Meskipun hasilnya tidak sesuai dengan yang kami harapkan, semoga perjuangan kami sebagai tenaga pendidik di TGP tetap akan menyala demi anak-anak generus TGP yang kami sayangi.

Pembelajaran tatap muka yang seharusnya sudah dimulai bulan Januari 2021 lalu terus mengalami kemunduran, hal ini dikarenakan wabah yang namanya Covid-19 ini masih belum beranjak dari negeri tercinta ini, bahkan dalam beberapa bulan ini mengalami kondisi yang lebih mengkhawatirkan.

Tahun pelajaran ini pun akan mengalami hal yang sama, sehingga kami yang semula sudah mulai mempersiapkan berbagai syarat seandainya pembelajaran tatap muka diberlakukan, namun akhirnya pemerintah menetapkan PPKM darurat mulai tanggal 3 – 20 Juli 2021.

Namun dari permasalahan yang terjadi akibat pandemi ini, banyak hal yang baik yang tetap kita harus syukuri, antara lain: 1. Pekerja yang semula pergi pagi pulang malam, akhirnya bisa bersama keluarga sepanjang hari; 2. Tidak sedikit ibu yang akhirnya pandai memasak karena lebih banyak di rumah; 3. Orang tua merasakan tugas seorang guru dalam mendidik putra putri mereka; 4. Bapak/ibu guru yang gaptek akhirnya dengan semangat belajar menggunakan HP untuk keperluan komunikasi dengan siswanya, juga digunakan untuk pembuatan media sebagai sarana pembelajaran sehingga menarik siswa; 5. Meningkatnya kreativitas para pendidik dalam rangka mempermudah proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan siswanya; 6. Dan masih banyak kebaikan lainnya.

Oleh karena itu janganlah kekhawatiran akan menurunkan daya imun kita, tetaplah semangat dalam menjalani hidup ini, tetap berpikir positif saja, bahwa Allah menurunkan wabah ini agar kita semakin dekat denganNya dan berserah diri, bahwa semua sudah ditakdirkan.

Kematian memang sebuah ketetapan, namun ikhtiar adalah sebuah keharusan. Semoga kita menjadi orang yang pandai bersyukur, dan semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Penulis: Ninik Sri Utami, S.Pd, M.Pd Pengajar di SMPN 2 Sumberpucung Kabupaten Malang, dan Calon guru penggerak angkatan 2. (*)