Menjaga Sejarah di Galeri Unisma

Wakil Rektor 2 Unisma, Noor Shodiq Askandar, SE MM bersama sejumlah koleksi Galeri Unisma. (ned)

BACAMALANG.COM – Segala sesuatu membutuhkan proses, apalagi pendirian sebuah institusi pendidikan. Banyak aspek dan faktor yang dilibatkan, mulai materi, tenaga maupun pikiran.

Universitas Islam Malang (Unisma) adalah salah satu yang mencoba merekam dan mengabadikan momen awal berdirinya kampus dalam sebuah display naskah dan memorabilia.

“Tidak banyak perguruan tinggi yang berinisiatif untuk mengabadikan sejarah perjalanannya,” ungkap Wakil Rektor 2 Unisma, Noor Shodiq Askandar, SE MM saat ditemui di kampus setempat belum lama ini.

Meskipun mirip dengan sebuah museum, Noor Shodiq menyebut display ini sebagai Galeri Unisma. “Ingat slogan para sesepuh Indonesia, ‘Jas merah’, Jangan sekali-kali melupakan sejarah, jadi kehadiran galeri ini sebagai upaya menjaga sejarah,” terang pria yang akrab disapa Gus Shodiq ini.

Berawal pada tahun 2019 silam, ia berdiskusi dengan Rektor Prof. H Maskuri, yang akhirnya menimbulkan sejumlah ide dan pemikiran.

“Salah satunya adalah kita belum bisa memberikan peninggalan kepada generasi muda, padahal Unisma yang didirikan pada tahun 1981 ini sudah berusia 38 tahun pada saat itu,” ujarnya.

Ternyata ide tersebut diridhoi Yang Maha Kuasa. Setelah itu Gus Shodiq menerima tamu yang membawa data otentik pendirian kampus yang berlokasi di Jl MT Haryono ini.

“Itulah yang menguatkan saya untuk mendirikan galeri ini, dengan mendatangi para tokoh dan sesepuh Unisma agar mereka bisa bercerita, serta perlahan-lahan mengumpulkan barang-barang terkait sejarah Unisma,” paparnya.

Gus Shodiq menambahkan, ternyata banyak pihak yang mendukung ide galeri ini, seperti ada yang menyerahkan foto-foto lama terkait perjalanan sejarah Unisma. Meski demikian ia membutuhkan waktu dua tahun untuk mengumpulkan kisah maupun koleksi sejarah untuk mengisi galeri itu.

Namun Gus Shodiq juga mengisahkan kendalanya, yakni ada pendiri yang sudah meninggal sehingga tidak bisa mendapatkan cerita. Selain itu ia juga berusaha meyakinkan sejumlah pihak yang awalnya kurang mendukung, bahwa galeri ini bukan untuk riya’ atau menonjolkan diri, namun lebih kepada upaya menjaga sejarah dan perjalanan panjang Unisma yang dapat diceritakan kepada generasi penerus.

Hasilnya dapat dinikmati di galeri yang ada di lantai 2 gedung kantor pusat. Galeri ini diresmikan pada bulan Maret 2021 lalu, bertepatan dengan Dies Natalis ke-40 Unisma. Koleksinya terdiri dari dokumen pendirian, foto-foto perkuliahan masa lalu, mesin ketik, kamera, display perjalanan para pendiri dan para rektor, beragam bentuk kursi kuliah jadul hingga sebuah motor yang digunakan awal perkuliahan.

“Intinya, koleksi yang dikumpulkan di galeri ini adalah yang unik-unik dan monumental,” imbuhnya. Saat ini Galeri Unisma kerap dikunjungi para tamu, baik dari kalangan NU maupun para pelajar yang datang ke kampus. (ned)