Mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Masa Revolusi Industri 4.0

Fauziyatun Hakimah (ist)

Oleh : Fauziyatun Hakimah

Islam rahmatan lil’alamin di era revolusi industri 4.0 ini dapat diimplementasikan dan berkembang terutama di Indonesia, yang didalamnya terdapat beragam agama.

Namun untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan setidaknya dua hal penting. Dua hal penting agar Islam menjadi rahmatan lil’alamin dalam era revolusi industri 4.0 ini utamanya di Indonesia, adalah, menjadi khoiru ummah dan ummatan washatan.

PARADIGMA ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN

Islam merupakan agama yang sempurna, hal itu dikarenakan islam adalah agama yang diridhai Allah SWT. Agama Islam telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Kepada manusia agar manusia dapat menjalankan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Selain itu, islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Akan mendatangkan perdamaian untuk manusia di dunia.

Perdamaian tersebut dapat disebut dengan prinsip islam, dimana prinsip tersebut dapat menjadi salah satu ciri utama agama Islam. Tidak hanya itu, Islam juga diyakini membawa rahmat kepada semesta alam.

Baik dalam segi waktu maupun dalam segi tempat, islam mampu menjamin atas keselamatan dan kedamaian umat manusia yang ada di sekitarnya. Hal ini dapat dibuktikan dalam firman Allah SWT, sebagai berikut :

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Anbiya’ ayat 107
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ‎

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

Dalam ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan Rasulullah bukanlah untuk memecahkan kaum kafir, akan tetapi untuk membawa perdamaian kepada orang-orang kafir dengan kaum muslim, serta Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW membawa agama islam dengan tujuan untuk membawa rahmat bagi semesta alam, baik manusia atau lingkungan sekitar.

Rahmatan lil‘alamin diambil dari dua kata yakni rahmat dan lil’alamin, dimana rahmat mempunyai arti yakni kasih sayang dan lil’alamin mempunyai arti yakni seluruh alam. Adapun istilah rahmat yang dimaksud dalam rahmatan lil ‘alamin yakni Allah SWT memberikan rahmat kepada orang muslim dan orang kafir, dimana rahmat tersebut diberikan untuk orang muslim berupa petunjuk dan keimanan, serta memasukannya kedalam surga, dengan syarat orang muslim tersebut mengerjakan amalan atau perintah Allah SWT. Dan menjauhi segala larangan yang telah ditetapkan-Nya.

Namun Allah SWT bukan hanya memberikan rahmat bagi orang muslim saja. Akan tetapi Allah SWT juga memberikan rahmat kepada orang kafir, dimana rahmat tersebut dapat berupa penundaan musibah atau balasan kepada orang kafir yang mana balasan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mendustakan atau mengkhianati rasul – rasul Allah. Untuk itu, rahmatan lil ‘alamin merupakan rahmat bagi seluruh alam semesta atau kata lain keselamatan yang ditujukan kepada alam semesta, baik dari hablum minallah, hablum minannas, dan hablum minal alam.

Rasulullah telah mendapatkan perintah dari Allah SWT. Untuk membawakan kemanfaatan di dunia maupun di akhirat. Akan tetapi, orang-orang kafir menolak dan tidak mau memanfaatkan rahmat yang telah diberikan Nabi Muhammad SAW kepada mereka.

Sehingga, mereka tidak dapat merasakan atas nikmat dan rahmat yang telah diberikan Allah melalui Nabi Muhammad SAW, baik dalam urusan agama, dunia, maupun akhirat.

Sedangkan menurut ulama’ lain menjelaskan bahwa orang-orang yang mengikuti Nabi Muhammad SAW akan mendapatkan rahmat dari agama islam langsung, sedangkan untuk orang kafir mendapatkan rahmat tidak secara langsung.

Hal ini dapat dibuktikan dengan jelas bahwa Nabi Muhammad SAW telah diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan atau perantara memberikan rahmat kepada umat manusia atau yang di sekitarnya. Nabi Muhammad SAW adalah manusia pertama yang memunculkan adanya demokrasi, sebagaimana beliaulah yang menciptakan adanya pertolongan kepada kaum yang lemah, membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya seperti orang-orang yang sedang teraniaya, mengakui hak orang kafir, dan tidak membedakan antara sesama.

Selain membawa rahmat kepada orang muslim, Nabi Muhammad SAW juga membebaskan mereka dari kehidupan yang sempit dan menjadikannya sebagai kehidupan yang berperadaban, serta menjadi bangsa yang besar. Dimana rahmat tersebut dapat menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad SAW telah memberikan atau membawa rahmat kepada umatnya secara langsung.

Serta beliau pun telah menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta beserta isinya. Peristiwa kekerasan yang terjadi di masa sekarang banyak yang menjadikan islam sebagai bentuk alasan, sebagaimana menanyakan tentang adanya rahmatan lil ‘alamin, dimana Islam yang awalnya mendatangkan perdamaian bagi seluruh alam semesta menjadi pertanyaan bagi orang-orang karena munculnya kekerasan yang dapat menimbulkan perpecahan.

Bukan bagi orang muslim dengan non-muslim saja. Akan tetapi, bagi sesama orang muslim juga. Contohnya, dalam permasalahan yang akhir-akhir ini muncul yakni terorisme, pluralisme, dan fundamentalisme Islam.

Munculnya permasalahan tersebut dapat disebabkan karena orang-orang yang mengalami kegagalan dalam beragama tidak dapat menyaring atau memahami dari aturan-aturan yang ditetapkan dalam agama, dapat dikatakan dengan kegagalan dalam memeluk agama yang dianutnya.

Munculnya permasalahan tersebut juga dapat disebakan dengan kegagalan dalam memahami adanya peperangan dalam masa Rasulullah dan khalifah, dimana jika pemikiran manusia perang merupakan tindakan yang benar. Maka, akan terjadi kegagalan dalam mewujudkan perdamaian, keadilan, kebahagian di alam semesta, serta dapat menimbulkan perpecahan baik antar sesama agama maupun berbeda agama.

Hal ini dikarenakan mereka akan menganggap musuh atau pesaing dalam kebenaran, jika tidak sama dengan sesuatu yang dianutnya atau sesuatu yang dianggap mereka benar.

Umat Islam telah menyadari bahwa permasalahan yang membawa atas nama islam adalah tindakan dari faham radikalisme Islam, dimana permasalahan itu muncul pada abad ke-20 di dunia Islam.

Perpecahan Islam yang terjadi di negara lain, dapat mengakibatkan umat muslim merasakan dampaknya, baik ikatan sesama agama maupun moral yang telah dipegang teguh oleh umat muslim di seluruh dunia.

Hal ini juga dapat menimbulkan kelompok radikalisme yang memunculkan kembali ajaran-ajaran islam yang murni untuk mengatasi permasalahan yang menurutnya berbeda pandangan dengan mereka.

Untuk itu, rahmat dapat menjadi bahan ajaran islam yang dimunculkan oleh akhlak Nabi Muhammad SAW yang dapat diartikan bahwa kehadiran islam dapat membawa manfaat kepada umat manusia, baik untuk memenuhi keinginan manusia untuk mendapatkan ketentraman, kenikmatan, ketenangan, hak, bakat, dan fitrahnya.

Di berbagai dunia terdapat beberapa golongan, diantaranya yakni golongan fundamentalis, dimana golongan ini ketat dalam mengartikan atau berpendapat tentang islam dari yang tertulis dan terkandung dalam Al – Qur’an.

Untuk golongan selanjutnya yakni liberalis, dimana golongan ini memberikan kesempatan dalam berpikir secara rasionalistik untuk mempertimbangkan dalam memahami hukum-hukum islam. Serta moderat, dimana golongan ini yang memahami islam dengan melihat isi dan kandungan yang ada dalam Al – Qur’an kaidah syar’iyahnya, masalah-masalahnya, serta yang dapat menjadi penengah dalam mempertimbangkan toleransi dalam permasalahan sosial yang terjadi.

Kehadiran Islam di berbagai negara yang penduduknya mayoritas islam mempunyai karakter tersendiri, dimana karakter tersebut sebagai bentuk wujud islam yang moderat dan dapat menjaga persaudaraan antar sesama, serta dapat berbaur dengan sesama manusia walau berbeda agama. Hal ini dapat dibuktikan bahwa kemoderatan islam Indonesia berorientasi pada prinsip santun dalam bersikap, berbicara sopan atau berinteraksi yang harmonis kepada masyarakat sekitar, menjunjung tinggi perdamaian serta anti dalam kekerasan.

Ajaran ini memang sejalan dengan kandungan utama islam yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin yakni membawa rahmat bagi seluruh alam. Dalam hal ini islam sangat menghargai pendapat dan menghormati adanya orang lain adalah sisi penting yang dibangun oleh islam moderat.

Washatiyah berasal dari kata wasatha yang sesuatu yang berada pada pertengahan. Wasath adalah nilai-nilai Islam yang dibangun atas dasar pola pikir yang lurus dan berada di pertengahan, tidak berlebihan dalam hal tertentu. Islam washatiyah merupakan Islam yang berada di pertengahan diantara dua titik ekstern yang saling berlawanan, yakni taqshir (meremehkan) dan ghuluw (berlebih-lebihan) atau diantara liberalisme dan radikalisme. Tidak terlalu tekstual dan juga tidak terlalu liberal merupakan cara berfikir yang moderat. Untuk memperjuangkan nilai-nilai ajaran islam yang moderat dalam kehidupan keagamaan, kebangsaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan.

Maka amaliyah keagamaan dalam Islam washatiyah perlu dijalankan bahkan juga dikembangkan sebagai penerapan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Islam washatiyah juga dapat diartikan sebagai islam yang moderat dengan penuh kasih sayang, hal ini dikarenakan untuk mencegah penyebaran adanya paham radikalisme di masyarakat, dan guna untuk menjadikan agama benar-benar berfungsi menjaga harkat serta martabat manusia.

Peraturan beragama dapat menjadi solusi untuk menjadi titik utama dalam mewujudkan kehidupan beragam yang rukun, damai, harmoni, serta menekankan pada keseimbangan kehidupan, baik kehidupan pribadi, masyarakat, keluarga, maupun dalam kehidupan alam semesta, sehingga dengan ini benar-benar dapat menciptakan rahmatan lil ‘alamin.

Sikap moderat juga merupakan suatu bentuk pernyataan ajaran agama Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Sikap moderat ini perlu diperjuangkan guna untuk menciptakan umat yang terbaik (khoirul ummah).

Menciptakan khoirul ummah merupakan tujuan kehadiran islam, dimana dengan menciptakan khoirul ummah Al – Qur’an dan hadits adalah petunjuk atau pedoman bagi umat islam. Al – Qur’an dan hadits mampu memberikan petunjuk tentang peraturan yang harus di lakukan dan larangan yang harus ditinggalkan.

PERAN ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN MENGAHADAPI TANTANGAN MASA DATANG

Konsep Islam rahmatan lil’alamin mengembangkan pola hubungan antar sesama, baik antar manusia maupun lingkungan sekitar yang pluralis, humanis, dialogis, dan toleran, serta dapat mengembangkan pemanfaatan dan pemeliharaan alam dengan rasa kasih sayang. Pluralis dalam arti memiliki rasa hubungan tanpa melihat bangsa, agama, suku, ras, maupun titik lainnya yang dapat membandingkan antara satu dengan lain.

Humanis dapat diartikan sebagai menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menghargai manusia sebagai manusia. Selajutnya dialogis dapat diartikan semua permasalahan yang muncul sebagai penyebab hubungan sosial atau interaksi yang dibicarakan secara kondusif dan akomodatif terhadap beberapa pemikiran.

Sedangkan toleran dapat diartikan sebagai memberi kesempatan untuk kepada yang lain untuk melakukan sebagaimana yang dianut dengan penuh rasa perdamaian.

Agama menunjukkan pada suatu keyakinan dan sikap mental serta perilaku keagamaan. Agama merupakan bagian yang bersifat konsitutif terhadap lingkungan sekitar. Keberagaman dalam penganutan agama sangatlah sosiologis sehingga untuk mengetahui agama perlu melihat dalam permasalahan hubungan antara kepenganutan agama.

Kepenganutan agama mempunyai bagian penting, yakni berkaitan dengan doktrin agama dan umat beragama. Kedua bagian ini, penting karena menjadi sumber dan perilaku manusia beragama. Oleh sebab itu, dalam mengkaji hubungan terdapat beberapa pendekatan yang bisa digunakan, yakni teologis, politis, dan sosial budaya.

Dalam kehidupan beragama perilaku toleran merupakan salah satu hal utama bagi seseorang yang mengharapkan sebuah kehidupan yang aman dan damai serta saling menghormati.

Dengan begitu, diharapkan dapat menjaga pola interaksi atau hubungan yang baik di lingkup masyarakat beragama tentang kewajiban dan hak mereka dalam bersosialisasi. Akan tetapi, toleransi tidak mudah diterapkan dikarenakan banyak permasalahan sosial yang harus dilalui dalam mewujudkan kehidupan masyarakat di lingkup perdamaian khususnya berkenaan dengan permasalahan berbeda keyakinan dan agama.

Maka dari itu, toleransi menuju pada perilaku terbuka dan mau mengakui adanya banyak perbedaan baik dari suku adat, bahasa, budaya, dan agama. Dalam Islam sendiri, sudah mengajarkan bahwa perbedaan di antara manusia baik dari sisi etnis maupun agama merupakah fitrah yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT.

Untuk saling menjalin silaturahmi dan berinteraksi, merupakan tujuan dimana Allah SWT menciptakan perbedaan tersebut. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, dimana manusia memiliki keunggulan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan terhadap sesama. Hal itu menunjukkan bahwa interaksi merupakan kebutuhan manusia guna untuk menjalin hubungan baik dengan sesama, memberikan saran serta kritikan terhadap sesama, saling tukar informasi, dan kebutuhan yang lainnya.

Dalam aspek toleransi ini kehidupan yang tidak hanya ada satu agama, pada dasarnya yakni landasan perilaku dan sikap moral dalam menerima ketetapan yang diberikan Tuhan. Toleransi beragama tidak diartikan sebagai terwujudnya kebebasan dalam meyakini agama tertentu.

Akan tetapi, toleransi beragama itu mencakup sebagai bentuk pengakuan adanya berbagai macam agama selain agama yang diyakini atau dianutnya, serta memahami ketika seseorang menjalani ibadah sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya.

Sikap toleransi yang diterangkan dalam Islam untuk orang muslim apabila diterapkan , maka akan menciptakan Islam yang dapat menempatkan posisi dirinya sama dengan posisi orang lain. Selain itu, dapat menciptakan lingkungan yang harmoni, damai, dan tentram, hal ini membuktikan bahwa Islam menerapkan visi dari rahmatan lil ‘alamin.

Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa toleransi adalah salah satu yang diajarkan Islam untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Toleransi dalam Islam merupakan sikap dan perilaku yang benar dan tidak merusak misi dalam berakidah, hal ini dikarenakan toleransi itu lebih mengarah kepada kepribadian orang Islam ditengah pluralitas kehidupan masyarakat dalam hal beragama.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Islam menghargai bersosialisasi antar sesama tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai orang muslim, dan senantiasa berbuat baik antar sesama manusia atau saling menghargai, serta tidak menyekutukan Allah SWT.

Mewujudkan pandangan yang inklusif dan sikap toleransi sebagai wujud dari Islam yang rahmatan lil ‘alamin sangat dibutuhkan di zaman sekarang, dimana perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi, serta di era revolusi industri 4.0 telah membawa manusia untuk bisa mempermudah menyambung tali silaturrahmi antara satu dengan yang lain dan juga dapat membawa manusia pada konfrontasi.

Oleh karena itu, mewujudkan sikap toleransi pada diri sendiri, sikap saling memahami antar sesama sangat dibutuhkan. Dengan kata lain, manusia dapat menafsirkan atau memahami perintah dan larangan Allah yang sudah jelas terkandung dalam Al -Qur’an.

Dalam Al – Qur’an telah dijelaskan dengan sangat tegas bahwa memaksakan untuk memeluk agama kepada orang lain itu dilarang, karena hal itu memiliki unsur pemaksaan atas kehendak masing-masing. Walaupun mereka menganggap agamanya adalah sebaik- baiknya agama, hal itu tetap dilarang oleh Allah SWT, hal ini dikarenakan Allah SWT akan memberikan petunjuk kepada seseorang yang diberikan secara pribadi.

Al Qur’an adalah pedoman yang sempurna bagi umat muslim. Al – Qur’an dapat memberikan petunjuk bagi siapapun dan dalam kondisi apapun. Di era sekarang ini,banyak manusia yang menghilangkan visi dari Islam yang rahmatan lil’alamin. Mulai dari perpecahan persaudaraan sampai dengan menjatuhkan antar sesama.

Hal itu sudah menjadi pokok permasalahan, dimana manusia tidak menerapkan perdamaian. Dengan permasalahan tersebut, semua manusia diharapkan kembali ke jalan, dimana visi dari Islam rahmatan lil ‘alamin itu diterapkan. Dengan demikian, Al – Qur’an dapat menjadi salah satu alasan agar manusia tetap menerapkan visi tersebut.

Hal ini dikarenakan segala sesuatu tidak lepas dengan isi dan kandungan yang ada di dalam Al – Qur’an, hal ini sudah dijelaskan dalam Al – Qur’an bahwa sebaik baiknya ilmu bersumber dari Al – Qur’an. Tidak dapat dipungkiri bahwa Al -Qur’an tidak bisa diragukan. Allah SWT telah memberikan informasi kepada manusiia mengenai segala hal melalui Al – Qur’an, dimana Al – Qur’an bukan merupakan sebuah kitab biasa. Akan tetapi, sebuah kitab suci umat Islam yang di dalamnya banyak kandungan isinya mengenai segala aspek yang dijelaskan kebenarannya.

Maka dari itu, paradigma Islam yang rahmatan lil’alamin dan Al – Qur’an serta dasar lainnya yang dipegang oleh umat muslim (seperti hadist dan ijtihad) memiliki keterkaitan yang erat sejak jaman filosofi sampai di masa sekarang.

Apalagi di saat ini, yang telah dibahas sebelumnya terkait dengan dinamika yang terjadi pada masa Revolusi Industri 4.0, dimana telah terpaku pada masa yang serba materialitas. Kesenangan, kebebasan, serta kesenjangan sosial menjadi problematika di kalangan masyarakat yang dapat mengubah pergeseran manusia yang seharusnya hidup dengan membutuhkan ruang spiritualitas yang utama.

Disinilah peran Islam rahmatan lil’alamin harus tetap diterapkan. Di samping sifatnya yang dinamis, paradigma Islam yang rahmatan lil’alamin ini mampu diwujudkan demi melahirkan solusi atas dinamika sifat kesadaran masyarakat yang telah terjadi serta dapat menimbulkan visi dan misi Islam yang rahmatan lil’alamin, yakni yang berwujud “perdamaian, ketenangan, ketentraman” terhadap sesama dan dalam ruang lingkup sekitar.

Diharapkan “The Next Generation of Teens Islamic” dapat berpegang teguh atas pendirian dan keyakinannya terhadap agama Islam. Sehingga di masa saat ini bahkan masa yang akan datang, generasi Islam tetap bisa menstabilkan bagaimana mestinya pola pikir, cara bekerja, dan cara bersosialisasi baik untuk diri sendiri maupun sesama serta mampu menghadapi tantangan di masa yang akan datang, akan tetap berlandaskan sesuai dengan paradigma Islam rahmatan lil’alamin yang sesungguhnya.

DINAMIKA ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN DI MASA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Menurut Jefri (2019), Saat ini Indonesia berada pada tahap awal revolusi industri yang telah mulai merubah cara hidup, cara bekerja, dan cara kita berhubungan satu sama lain.

Dalam skala, cakupan, dan kompleksitas, Revolusi Industri 4.0 ini mengakibatkan transformasi yang jauh berbeda dengan revolusi-revolusi sebelumnya. Ditandai dengan segalanya berpenumpang penuh dengan internet dan hampir segala aktivitas atau kegiatan manusia bersistem secara digital. Tentu bukan tidak lain diterima untuk mempermudah segala bentuk aktivitas kegiatan manusia dapat berjalan secara lebih efektif dan efisien.

Segala perubahan pasti tidak jauh dari adanya dampak pengaruh positif maupun negatif yang dihasilkan. Tergantung tiap manusia bagaimana menilainya, apakah dijadikan tantangan atau resiko sebaliknya. Setiap perubahan pasti menimbulkan dinamika di kalangan masyarakat, baik dirasakan secara perorangan (pribadi) bahkan keseluruhan (publik).

Dari masa Revolusi Industri 4.0, tentu kita sebagai rakyat Indonesia merasakan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah semakin berperan lebih dalam perkembangan suatu negara (karena merasakan bahwa segalanya lebih berjalan secara efektif dan efisien, maka bisa saling mengisi peluang untuk terus maju), berbagai aspek bidang berubah menjadi lebih cepat, dan yang terakhir memudahkan Indonesia dalam melakukan hubungan antarnegara.

Hal ini membawa perubahan besar yang terjadi di segala bidang tertentu, seperti apa yang sudah dibahas sebelumnya. Mulai dari bidang ekonomi, politik, sosial budaya, dan masih banyak lagi. Dampak pengaruh yang positif ini disebabkan karena prinsip – prinsip dari rancangan Revolusi Industri 4.0 sendiri sangat luar biasa.

Kesesuaian terhadap kebutuhan, transparansi informasi, teknisi, hingga keputusan membawa revolusi ini sangat berpengaruh baik demi kemajuan perkembangan Negara Indonesia.

Menurut Irma dalam jurnal (Atieka & Budiana, 2019) namun sangat disayangkan bahwasannya revolusi yang terbilang membawa pengaruh yang cukup besar ini, masih menghasilkan dampak negatif pula.

Diantaranya muncul adanya permasalahan sosial (seperti pengangguran, kemiskinan, dll). Indonesia dalam penerapan terkait revolusi ini, dinilai masih sebagian kecil yang berjalan sesuai prinsip Revolusi Industri 4.0.

Masih perlu adanya persiapan pembelajaran yang inovatif dan lebih dikhawatirkan pada sikap setiap masyarakat yang terpengaruh akan modernisasi. Hal ini diperkuat oleh fakta dan data yang menyatakan “Masalahnya adalah Indonesia ini sudah overregulated.

Banyak regulasi yang menimbulkan multitafsir, konflik, dan tidak efektif,” kata Supancana dijumpai dalam Forum Bisnis dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia XIX di Bali, Kamis (26/7). Berarti dari ketidaksiapan dan ketidaksigapan menerima perubahan yang besar, maka timbullah dampak pengaruh negatif yang jika terus menerus terulang, maka akan memperlambat laju pertumbuhan dan perkembangan negara Indonesia yang menyandang status sebagai negara berkembang.

Sesuai topik bahasan dan judul yang dikembangkan, maka pada kesempatan kali ini lebih mengarah pada pembahasan tiap manusia yang mulai berubah terhadap sifat kepribadiannya.

Baik itu sifat yang individualisme, hedonis dan komsumtif, serta menjadi keharusan untuk mengikuti masa Revolusi Industri yang secara dominan disebutkan manusia sebagai oknum modernisasi, yang tanpa disadari masyarakat Indonesia sendiri membebaskan hal itu tanpa perlu adanya sistem filtrasi (penyaringan terkait budaya global dengan norma adab sesuai paradigma pancasila sebagai pedoman utama bagi rakyat Indonesia).

Dalam kehidupan modern saat ini, orientasi kehidupan lebih menekankan aspek fisik-material telah menjadikan aspek keberagamaan dan spiritualitas. Modernisasi di segala bidang sebagai akibat dari kemajuan ilmu dan teknologi, melahirkan sikap hidup tiap manusia yang materialistis, hedonis, konsumtif, mekanis, dan individualistis.

Akibatnya, manusia modern banyak kehilangan kehangatan spiritual, ketenangan, dan kedamaian. Bisa dikatakan segalanya berorientasi penuh dan lebih difokuskan dalam kehidupan duniawi saja.

Padahal secara umum, kebutuhan spiritualitas sangat penting selama menjalankan apapun di dunia. Dari Revolusi Industri 4.0, Indonesia terkena dampak dari modernisasi dan globalisasi (mengarah pada dampak negatif).

Hal tersebut ditandai dengan munculnya budaya lingkup secara global, penekanan kebebasan manusia dalam bersikap secara berlebihan, dan berdominasi pada kehidupan materialistis yang menjadi orientasi utama dalam menjalankan kehidupan.

Dengan begitu, secara tidak langsung membawa kondisi masyarakat di Indonesia mengalami krisis yang luar biasa dalam hal ruang spiritualitas. Dimana kedudukan prioritas keagamaan telah dikesampingkan oleh materealitas duniawi. Seharusnya segala bentuk macam perubahan perlu dilakukannya filtrasi yang sesuai dengan budaya di Indonesia dan menjadikan diri sendiri sebagai benteng untuk menghadapi tantangan dan resiko agar tidak terjerumus dalam hal duniawi yang sifatnya hanya sesaat.

Membahas mengenai agama yang tidak lagi menjadi prioritas itu, sangat tidak sesuai dengan paradigma agama “Islam sebagai Rahmatan Lil’Alamin”. Sudah sempat dibahas di awal sub bab sebelumnya, bahwa paradigma Islam yang rahmatan lil’alamin berarti paradigma dari pandangan agama Islam yang telah diyakini seluruh umat muslim untuk menjadi agama yang merupakan bentuk rahmat dan rasa kasih sayang Allah SWT kepada seluruh alam semesta-Nya.

Maka bisa diambil kesimpulan, bahwa agama Islam turun semata – mata untuk menyempurnakan akhlak umat manusia yang mulia. Paradigma agama Islam yang rahmatan lil’alamin dinilai oleh para ulama mampu menjadi paradigma yang dinamis. Artinya, paradigma ini dapat diprioritaskan, dipegang, dan dijadikan pedoman di masa manapun guna untuk dijadikan bekal manusia di masa yang akan datang.

Terkait dijadikan sebagai pedoman hidup, maka umat muslim menjadikan Al-Qur’an, hadits, dan ijtihad sebagai tuntunan petunjuk hidup untuk mejalani kehidupan tiap manusia di dunia dan tidak lupa untuk senantiasa mencari ridha akhirat dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al Hijr ayat 9.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al Maidah ayat 48.
وَأَنزَلْنَآإِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al – Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu”.

Sudah jelas bukan bahwa Al – Qur’an memang menjadi pedoman dan tuntunan umat manusia dalam menjalankan kehidupannya. Dengan salah satu keistimewaannya, yaitu terpelihara dari tahrif (perubahan) dan tabdil (penggantian) serta menjadi hakim pada kitab – kitab sebelumnya, menandakan bahwa kehadiran Al – Quran mampu menjadi pedoman, pegangan, serta petunjuk hidup dari masa ke masa.

Jadi, dengan adanya dinamika pengaruh Revolusi Industri 4.0 khususnya dalam pengaruh dampak negatif, tentu dapat dicegah dan dihindari, apabila kita berpegang teguh dan yakin terhadap firman – friman Allah SWT yang telah ada di dalam Al – Quran. Semua dari dasar hidup, berbagai ilmu pengetahuan, prediksi, dan sebagainya telah di atur dalam Al – Qur’an. Maka dari itu paradigma Islam rahmatan lil’alamin mampu menjadi dasar untuk menyikapi dinamika akibat revolusi ini.

Tentunya, semakin maju suatu negara maka semakin besar pula tantangan dan resiko yang akan didapatkan. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim sangat bersyukur memiliki pegangan Islam yang rahmatan lil’alamin, yang nantinya diharapkan dapat menghindari, mencegah serta mencari penyelesaian terhadap maraknya kebebasan yang serba terpengaruh oleh era modernisasi dan globalisasi, khususnya kita sebagai WNI.

SIMPULAN DAN SARAN

Dari uraian di atas maka secara garis besar dapat ditarik benang merah sebagai berikut. Pertama, gagasan Islam rahmatan lil’alamin bersifat inklusif, sekalipun di dalamnya terdapat ajaran eksklusif. Eksklusivisme adalah bagian subjektivitas internal agama. Di tengah-tengah Al – Qur’an, terdapat kata “walyatalattof”—biasanya di Al – Qur’an cetakan Indonesia menggunakan tinta merah dan ditebalkan—yang memiliki makna lembut.

Kedua, Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawanya, sama-sama hadir untuk membawa kedamaian, kelembutan dan kebaikan tertinggi. Manusia yang beragama, tetapi tidak sampai pada tingkat kemanusiaan tertinggi maka ia adalah pendusta agama (Qs. Al Ma’un/107: 1-3). Kebaikan tertinggi itu adalah polarisasi keberagamaan yang seimbang, antara vertikal dan horizontal.

Tentunya, semakin maju suatu negara maka semakin besar pula tantangan dan resiko yang akan didapatkan. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim sangat bersyukur memiliki pegangan Islam yang rahmatan lil’alamin, yang nantinya diharapkan dapat menghindari, mencegah serta mencari penyelesaian terhadap maraknya kebebasan yang serba terpengaruh oleh era modernisasi dan globalisasi, khususnya kita sebagai WNI.

Penulis : Fauziyatun Hakimah, Abdillah Khairurijal, Balqiis Hasnaa Salsabillah,
adalah Mahasiswa Kelas Agama Universitas Brawijaya.