MJF Singgung Urgensi Kereta Gantung dan Sinergitas Malang Raya

Malang Jurnalis Forum (MJF) saat membahas wacana kereta gantung di Malang Raya, Senin (26/4/2021). (ist)

BACAMALANG.COM – Bincang Ramadhan Forum Jurnalis Malang Raya oleh Malang Jurnalis Forum (MJF) membahas wacana Kereta Gantung atau Gondola dari Pemkot Batu yang sudah mencuat sejak 2015 lalu.

Diskusi ini menghadirkan pejabat masing-masing wilayah Malang Raya yakni dari Bapelitbangda Pemkot Batu, Sopa Ike Paci, lalu ada Roy Suryo Rahardian dari Bappeda Kabupaten Malang dan juga Kepala Diskominfo Kabupaten Malang Anis Wati Aziz.

Sopa Ike Paci mengatakan, urgensi gondola yang utama memang diharapkan bisa lebih menjual Kota Batu sebagai Kota Pariwisata. “Ada multiplayer effect di bidang perekonomian, mulai dari UMKM hingga parkir” ujarnya.

Sopa menambahkan, wacana kereta gantung ini benar-benar baru dan belum ada referensinya. “Pembahasan terbarunya nanti akan lebih mengurai lagi dampak negatif yang mungkin timbul dari megaproyek ini. Mulai dampak sosial, lingkungan hingga ekonomi daerah,” paparnya.

Namun ada optimisme moda transportasi pariwisata yang dipandang zero emisi ini, karena disambut baik Menko Marves, Luhut Binsar Pandjaitan yang datang langsung di Kota Batu untuk meninjau kesiapannya, Senin (26/4/2021). Luhut menyampaikan, proyek ini diprediksi butuh biaya Rp470 Miliar dan bahkan sudah masuk proyek strategis nasional.

Megaproyek dengan kebutuhan anggaran yang diprediksi mencapai Rp470 Miliar ini tentu tidak bisa ditangani sendiri. “Perlu sinergitas antar pemangku wilayah Malang Raya,” tukasnya.

Skema pembangunan yang mungkin dijalankan adalah skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). “Jadi nanti tidak dibebankan ke anggaran negara lewat KPBU dari swasta,” kata dia.

Dia berharap keberadaannya jangan sampai merusak sumber daya alam di Kota Batu dan tidak sampai melewati kawasan permukiman. “Yang jelas dari pusat dan provinsi juga sepakat dan optimis gondola bisa terealisasi dibangun mulai 2022,” pungkasnya.

Sementara, Pemkab Malang juga menyambut baik wacana ini. Apalagi diproyeksi wilayahnya menjadi 1 titik rute kereta gantung ini . Namun perlu konsep matang agar menarik para investor,” kata Kasubbid Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappeda Kabupaten Malang, Roy Suryo Rahardian.

Konsep yang matang dari kehadiran gondola ini memang lebih pada unsur konektivitas antara proyek Lintas Rel Terpadu (LRT) sehingga jadi penunjang moda transportasi. “Jika dilihat kereta ini sebagai moda transportasi pariwisata, segmentasi dan manajemen operasional menjadi hal penting,” tegasnya.

Roy mengatakan, hal ini terkait efektivitas dan efisiensi operasional kereta gantung. “Harus tahu siapa targetnya, kapan saja harus dijalankan,” urainya.

Bagi Roy hal ini menjadi krusial karena nanti proyek ini akan melibatkan investor. “Bagi kami pasti ingin benefit ke publik, sementara investor pasti menginginkan profit,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Malang Anis Wati Azis pun juga terbuka dan apresiatif atas gagasan ini. Harapannya, dampak positif dari kehadiran kereta gondola ini bisa terus dioptimalkan. ”Jelas ada pro kontra, tapi yang namanya informasi harus tetap disampaikan. Pada dasarnya, informasi pasti harapannya juga membangun ke arah yang positif, Jelas nanti kita akan menuturkan apa yang ada sesuai data yang ada,” ujarnya.

Rencananya kereta gondola ini akan menghubungkan sejumlah titik wisata. Di Kota Batu, ada 12 titik lokasi yang direncanakan masuk trase kereta gantung. Mulai Jatim Park 2, Gangsiran Puthuk, Jatim Park 3, Kusuma Wisata Agro, Pos Pendakian Panderman, Selecta hingga Coban Talun.

Saat ini, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko masih dalam tahap melengkapi sejunlah persyaratan seperti dokumen studi kelayakan, pendetailan biaya investasi, penyusunan dokumen kualifikasi dan surat rekomendasi dari Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan atau (KKOP). (ned/lis)