MMI Ajukan Kostum Panggung Grup Musik Dara Puspita Sebagai Benda Cagar Budaya

Koleksi kostum panggung Dara Puspita di Museum Musik Indonesia (MMI) Malang, Rabu (23/6/2021). (ned)

BACAMALANG.COM – Museum Musik Indonesia (MMI) Malang mengajukan usul kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang agar kostum panggung grup musik Dara Puspita sebagai benda cagar budaya. Hal ini diungkapkan Ketua MMI Malang Hengki Herwanto kepada wartawan, Rabu (23/6/2021).

“Syarat pengajuan untuk bisa ditetapkan sebagai benda cagar budaya adalah minimal berusia 50 tahun, memiliki nilai penting sejarah, kesenian, kebudayaan, kesenian, agama maupun pendidikan, dan kami melihat kostum ini mempunyai syarat-syarat tersebut,” ujarnya.

Dara Puspita adalah grup musik yang dibentuk pada tahun 1964 dan diusung empat personel wanita, yakni Titiek dan Lies AR, Susy Nander dan Ani Kusuma. Namun masa keemasan grup beraliran pop dan rock’n roll ini saat digawangi Titiek dan Lies AR, Susy Nander dan Titiek Hamzah yang menggantikan Ani Kusuma.
Pada tahun 1968 mereka sudah melakukan tur ke sejumlah negara Eropa dan kembali ke Indonesia pada tahun 1971. Mereka menelurkan sejumlah hits, seperti Surabaya, Pantai Pattaya, Mari Mari, Burung Kakaktua, dan Agogo.

“Lagu Agogo bahkan sempat dimainkan ulang oleh Empat Lima, sebuah grup musik asal Australia dengan tiga personel wanita yang secara terang-terangan kagum dengan Dara Puspita,” terangnya.
Hengki mengatakan, sementara ini ada dua kostum panggung Dara Puspita yang menjadi koleksi MMI sejak tahun 2015. Salah satunya cukup fenomenal karena berwarna merah putih yang sangat kental unsur nasionalismenya.

Titiek dan Lies AR saat ini berdomisili di Belanda, sementara Titiek Hamzah di Jakarta dan Susy Nander di Sidoarjo. Hengki mengaku tetap berkomunikasi dengan mereka lewat media sosial Facebook, sehingga akhirnya mereka berkunjung ke MMI dan menyerahkan kostum tersebut. Menurut para personel Dara Puspita, kostum ini dibuat di Belgia sekitar tahun 1969, jadi sudah berusia 52 tahun. “Dan kostum ini sempat diminta salah satu museum di Belanda, tetapi Dara Puspita lebih memilih untuk memberikan kepada MMI,” tegas Hengki.

Hengki berharap pengajuan kostum Dara Puspita sebagai upaya untuk menghargai nilai sejarah perjuangan grup ini dalam mewarnai blantika musik Indonesia bersama Koes Plus sejak era Bung Karno hingga awal pemerintahan Presiden Suharto. (ned)