Musisi Rani Jambak Sebut Rilis Karya 29 Pada 29 Jadi Kado Spesial HUT

Caption : Musisi Rani Jambak. (ist)

BACAMALANG.COM – Bagi sebagian orang fenomena kembar bisa menjadi suatu hal misterius yang berlangsung secara kebetulan, namun diharapkan membawa makna positif tersendiri.

Hal ini pula yang dialami Rani Jambak yang dijuluki perempuan pemburu bebunyian, yang akan merilis karya komposisi berjudul Suara Minangkabau pada Senin (29/3/2021) secara daring.

“Alhamdulillah nanti pada hari Senin 29 Maret 2021 tepat di hari ulang tahun saya ke-29, akan dirilis Karya Suara Minangkabau. Saya menganggap ini sebagai kado HUT spesial,” terang Rani Jambak, Sabtu (27/3/2021).

Karya ini dikonsep #futureancestor yaitu secara harafiah berarti leluhur masa depan. Yakni semua manusia yang hidup masa kini akan menjadi leluhur di masa yang akan datang. Saya bersyukur karya ini didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, melalu program Fasilitasi Bidang Kebudayaan.

Secara simbolik konsep #Futureancestor mengajak para pemuda untuk berpikir dan bertindak selayaknya kita yang akan menjadi pewaris pemikir di masa depan. Dalam pergerakan pemajuan budaya dan pertahanan alam yang menjadi kekayaan Nusantara.

Totalitas pasca dari Benua Kangguru

Musisi dan komposer kelahiran tahun 1992 ini memiliki nama lengkap dan gelar akademis: Rani Fitriana, S.Pd.,M.Cr.Ind. Gadis berdarah Minangkabau ini mengenyam pendidikan S-1-nya di Program Studi Seni Musik, Jurusan Seni Drama, Tari, dan Musik, Fakultas Bahasa dan Musik, Universitas Negeri Medan, sejak 2010-2015 Rani melanjutkan pendidikan S-2 di Jurusan Creative Industry, Department of Media, Music, Communication and Cultural Studies, Faculty of Art, Macquarie University, Sydney, Australia, melalui program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan Indonesia, gelar master diperolehnya pada tahun 2018.

Sepulangya dari pendidikan di Australia, Rani mulai totalitas terjun berkarir dan berkarya di jalur musik. Rani tampil dalam berbagai event budaya dan event musik seperti Tao Silalahi Arts Festival 2018 di Danau Toba, Mini Concert and Discusion di Yogyakarta, International Seminar Australia, France & Japan AR Education, Celeb Nature Festival di Makassar, Medan Most Inspiring Award 2018 & Medan Kover Face IV, Festival Musik Dalam Layar (Episode 3) Live streaming concert (disponsori OneBeat Accelerator & @america), 24 Hours Medan – Ekseperimental film bisu dengan live music sebagai soundtrack (disponsori oleh Robert Bosch Stiftung, MitOst, Embassy of the Federal Republic of Germany in Jakarta), dan masih banyak lainnya.

Rani Jambak menjadi project manager pada sebuah event Medan Soundspectives – sebuah festival budaya dengan fokus pada seni mendengar dan keberagaman akustik kota Medan (disponsori oleh Robert Bosch Stiftung, MitOst, Embassy of the Federal Republic of Germany in Jakarta).

Di akhir tahun 2020, ia menjadi komposer serta sound designer dalam instalasi audio visual (directed by Evi Ovtiana) bertajuk: Bétel: Keeping Tradition dan Bétel: Embracing Questions, yang mengupas tentang tradisi sirih, pada rangkaian Novembré Numerique 2020 (peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Perancis – Indonesia, yang disponsori oleh Institut Français d’Indonésie Jakarta).

Klasifikasi Karya

Dalam hal karya, melalui Nature Creative Lab, studio dan laboratorium musik kreatif yang dikembangkan Rani Jambak untuk eksplorasi musik dan desain suara, Rani telah melahirkan beberapa karya kreatif yang dibaginya dalam beberapa kategori: “Hybrid of Sumatra”, yaitu lagu-lagu tradisional Sumatera yang di-aransemen ulang dengan kemasan musik elektronik, “#formynature” lagu untuk kampanye pelestarian lingkungan, “Contemporary Soundscapes” yaitu komposisi musik yang mengeksplorasi keberagaman bebunyian khas, dan “Comercial” yaitu musik-musik untuk kepentingan komersial.

Dalam “Hybrid of Sumatra”, Rani telah melahirkan karya-karya aransemen musik elektronik untuk lagu-lagu etnik: Piso Surit (Karo) pada tahun 2018, Pak Ketipak Ketipung (Melayu) pada tahun 2018, Hybrid of Serampang 12 (Melayu) pada tahun 2019, Serma Dengan Dengan (Simalungun) pada tahun 2020.

Sedangkan dalam #formynature, Rani telah melahirkan karya-karya kampanye penyelamatan lingkungan hidup yaitu: Nature (2018), Smoke Blanket (2019), The Eyes (2020, berkolaborasi dengan Orangutan Haven). Sebagai salah satu rangkaian (alternatif produk kampanye) dari rilisan lagu The Eyes, Rani Jambak juga membuat beberapa seri episode podcast berjudul Pongo, dalam channel-nya Spotify-nya, yaitu Cuap-Cuap Rani Jambak.

Contemporary Soundscapes

Untuk kategori “Contemporary Soundscapes”, Rani telah menghasilkan komposisi-komposisi musik yang mengeksplorasi keberagaman bebunyian khas dalam karya-karya Sound of Medan (2020, disponsori Goethe Institut Singapore, dalam project Sound of X, yang melibatkan 8 negara), Harmoni Sumatera Utara (2020, disponsori HUMAS Provinsi Sumatera Utara), dan Suara Minangkabau yang disponsori oleh Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia).

Sementara untuk kategori Comercial beberapa karya musik Rani antara lain yaitu iklan komersil Go Food (2020), beberapa musik untuk penelitian dosen Universitas Bina Guna dan mahasiswa S-2 Universitas Negeri Medan mengenai senam dengan teknik pencak silat Minangkabau dan senam aerobik Sumut (2021), musik untuk tari etnik modern Aceh untuk komunitas tari GM Medan (2019), mengaransemen ulang lagu anak Medan menjadi lagu anak Medan lawan corona (2020).

Saat ini Rani Jambak tengah mempersiapkan karya barunya yang disponsori Goethe Institut Germany, yaitu Virtual Partner Residency, berupa program berkolaborasi secara virtual bersama Lyra Pramuk, seniman dari Jerman, membuat karya bersama, saling bertukar referensi dan perspektif, hingga menghasilkan karya kolaborasi, yang akan segera dilaunching dalam beberapa waktu ke depan.

MMJ is MSJ

My Musical Journey is My Spiritual Journey, itulah sebuah pola besar proses perjalanan pengkaryaan dan perjalanan kehidupan seorang Rani Jambak. Bagaimana musik menjadi medium bagi Rani Jambak untuk membantunya menemukan makna kehidupan dalam konteks kesadaran dirinya sebagai bagian dari Skenario Besar Semesta.

Rani merasakan bagaimana ia terpanggil untuk makin tercebur dalam proses-proses pengkaryaan yang masuk pada ranah idealis dengan membawa pesan-pesan semesta, seperti melestarikan alam dan lingkungan hidup, menyelamatkan satwa liar, menelusuri jejak leluhur, serta melestarikan budaya. Ia tak bisa menghindari itu. Rani merasa bahwa semesta telah memanggilnya untuk berbuat sesuatu melalui karya musiknya.

Termasuk dalam Suara Minangkabau. Proses dan karya ini menjadi sebuah perjalanan personal Rani Jambak untuk memasuki Penjelajahan Ke Dalam untuk makin mengenal diri dan leluhurnya, yang sekaligus juga merepresentasikan perjalanan banyak orang lain yang juga memiliki proses internalisasi sejenis.

Karya Suara Minangkabau sepenuhnya didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, melalu program Fasilitasi Bidang Kebudayaan tahun 2020. Dan akan dirilis pada hari Senin 29 Maret 2021, tepat di hari ulang tahun Rani Jambak ke-29.

Perilisan karya diselenggarakan oleh Medan Creative Hub, sebuah lembaga kolektif non profit dari Medan, berlokasi di d’Caldera Coffee, Medan, yang dilaksanakan secara terbatas dan sesuai dengan protokol kesehatan, mulai jam 19.30. Acara rilis ini dapat disimak secara live streaming di channel YouTube: RKI Project (Rumah Karya Indonesia).

Rilis komposisi dilakukan pada Senin (29/3/2021) mulai pukul 19.30 WIB di https://www.youtube.com/channel/UC4LstXkgWC-NwzKLK8zyAJA (bach/had)