Notaris DI Diganjar 2 Bulan dengan Masa Percobaan 6 Bulan, Kuasa Hukum Pelapor Mengaku Puas

DI menghadiri Persidangan di PN Malang dua terdakwa lain menjalani sidang secara virtual. (ist)

BACAMALANG.COM – Sidang lanjutan kasus penipuan jual beli hotel yang melibatkan seorang oknum notaris, digelar di Ruang Sidang Cakra PN Malang, Rabu (25/05/2022) sore.

Dengan agenda pembacaan putusan tersebut, Terdakwa I yaitu Diana Istislam dihadirkan langsung. Sedang dua terdakwa lainnya, yaitu M Sofyan Wahyudi dan Lie Dwi Laksana, menjalani persidangan secara virtual dari Lapas Kelas I Malang.

Dalam sidang tersebut, majelis hakim menyatakan bahwa ketiga terdakwa terbukti bersalah dan melanggar Pasal 378 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Humas PN Malang Djuanto mengatakan, sidang ini dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Judi Prasetya. Memutuskan ketiga terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan penipuan. Atas perbuatannya tersebut, ketiga terdakwa dijatuhi hukuman oleh majelis hakim.

“Untuk terdakwa I Diana Istislam, dijatuhi hukuman 2 bulan penjara tanpa menjalani hukuman dengan 6 bulan masa percobaan, kecuali ada perintah lain dari hakim atau terdakwa melakukan perbuatan yang dapat dihukum dalam masa waktu 6 bulan. Sedang, untuk terdakwa M Sofyan Wahyudi dan Lie Dwi Laksana dijatuhi hukuman 4 bulan 15 hari penjara,” jelasnya.

Atas putusan tetsebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Malang Rusdianto Hadi Sarosa menyatakan pikir-pikir. Pasalnya, putusan tersebut lebih ringan 4 bulan dari tuntutan JPU.

“Kami menghormati putusan hakim, dan selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan pimpinan untuk menentukan sikap yang akan di ambil selanjutnya,” terangnya

Sementara itu, kuasa hukum dari terdakwa Diana Istislam, Solehoddin mengaku menghormati putusan majelis hakim, namun pihaknya masih pikir pikir atas putusan tersebut. Dan kemungkinan, pihaknya juga akan melakukan upaya hukum banding. Hal itu dilakukan karena menyangkut keadilan.

“Karena menurut saya, ada beberapa hal yang perlu untuk dimintakan keadilan. Seperti, tidak pernah muncul dan tidak pernah ada PPJB, yang ada hanya konversi, yaitu proses peralihan dari Petok D ke Sertifikat Hak Milik. Dan hal tersebut, tidak pernah muncul dalam pertimbangan majelis hakim serta tidak mungkin ada PPJB ketika konversi itu berjalan,” ungkapnya.

Sementara itu, kuasa hukum korban Indra Soedjoko, Suhendro Priyadi mangaku merasa puas dan cukup adil dengan putusan majelis hakim tersebut. “Untuk vonis yang dijatuhkan kepada terdakwa Diana Istislam, menurut saya wajar karena dia menyuruh klien saya membayar dan terdakwa sendiri yang menjamin yang  akhirnya terjadi masalah. Sedangkan untuk dua terdakwa lainnya, menurut saya terlalu ringan karena telah ikut merasakan uangnya. Namun, tentunya kami tetap menghormati putusan dari majelis hakim,” bebernya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus  penipuan jual beli hotel ini terjadi pada Januari 2021 silam. Saksi korban, Indra Soedjoko mendapat penawaran membeli hotel seharga Rp 7 miliar dari seseorang bernama Rudiono. Diketahui, saat ini Rudiono sudah menjalani hukuman atas perkara lain pada tahun 2021.

Penjualan itu berawal dari ide M Sofyan Wahyudi dan Lie Dwi Laksana dan mempertemukan notaris Diana Istislam. Akhirnya setelah disetujui harga yang disepakati, korban memberikan uang Rp 3 miliar atas jaminan notaris Diana Istislam.

Setahun kemudian, korban tidak menerima Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB) dan legalitas atas hak dari hotel yang telah dibeli. Hingga  Korban mengirimkan surat somasi kepada Rudiono untuk melakukan penyelesaian proses jual beli. Bahkan sampai proses persidangan hingga putusan majelis hakim. (him)