Pameran Majalah Dinding Musisi Nusantara Pecinta Alam di Balai Kota Malang

Salah seorang pengunjung mengamati majalah dinding musisi pecinta alam di Balai Kota Malang, Sabtu (12/6/2021). (ned)

BACAMALANG.COM – Pemkot Malang dan Museum Musik Indonesia kembali berkolaborasi untuk mengenalkan musisi-musisi Indonesia ke publik. Terkait Hari Lingkungan Hidup, tema yang diusung kali ini adalah musisi-musisi Indonesia yang getol menyuarakan pesan-pesan alam dan lingkungan.

Kegiatan yang juga didukung Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang ini menyajikan informasi merupa majalah dinding, yang dihelat di lobby Balai Kota Malang selama sebulan penuh, mulai 10 Juni-10 Juli 2021.

Ketua MMI Kota Malang, Hengki Herwanto mengatakan, musisi yang ditampilkan mereka yang lagu-lagunya kerap mengangkat tema alam, antara lain Iwan Fals, yang sudah tidak diragukan lagu kritik sosial maupun alam dari karya-karyanya. Kemudian ada Koes Plus, Ully Sigar Rusadi, The Rollies, maupun Gombloh.
“Ada juga The Gembells, Rita Ruby Hartland, Frankie and Jane, Deddy Stanzah dan Tina Silvana,” imbuhnya, Kamis (10/6/2021).

Hengki menjelaskan, karya-karya mereka bahkan punya prestasi tersendiri di blantika musik nasional. The Rollies adalah sebuah grup musik jazz rock, pop, soul funk asal Bandung yang dibentuk pada tahun 1967. Sebagai musisi, The Rollies telah berhasil menorehkan tinta emas saat lagu Kemarau ditetapkan menerima penghargaan Kalpataru di tahun 1979.
“Gombloh dengan salah satu karya legendarisnya, yakni Lestari Alamku (Berita Cuaca), bahkan sempat dicover grup cadas Boomerang,” ujar Hengki.

Ia menambahkan, bahwa Malang juga tidak ketinggalan dalam menyuarakan pesan tentang alam, salah satunya Tina Silvana, penyanyi asal kota Malang yang bersuara khas dan unik. Debutnya mencuat setelah melahirkan album pertamanya berjudul “Di Bukit Panderman”, yang dirilis oleh Duba Record. “Namun sayang, setelah album perdana tersebut Tina menghilang dan sekarang berdomisili di Kota Rennes –Perancis,” ungkap Hengki.

Walikota Malang Sutiaji merespon positif dan mewadahi sekaligus memberi penajaman bahwa lobby bak etalase yang bertepatan gedung balaikota memang banyak kunjungan sehingga bisa diposisikan sebagai wahana dan duta infografis maupun informasi tentang ragam issue. “Dan ini menurut saya bagus, mengawinkan antara literasi musisi nusantara dengan isu isu kekinian, “ujar Pak Aji.

Salah seorang pengunjung, Rahma Amalia mengaku mendapat informasi baru dari majalah dinding yang dipamerkan kali ini. “Ternyata dari dulu musisi kita sudah banyak yang peduli dengan alam lingkungan,” ujarnya.

Akan tetapi Rahma berpendapat bahwa perjalanan waktu dan perkembangan dunia musik membuat generasinya tidak banyak mengenal kiprah para seniman musik tersebut, meski tentunya ia mengenal beberapa yang legendaris seperti Iwan Fals maupun Koes Plus. “Apalagi saat ini juga banyak karya para musisi indie yang menyuarakan tentang alam maupun sosial,” imbuh wanita yang juga berprofesi sebagai fotografer ini.

Namun Rahma menyayangkan pameran ini kurang disosialisasikan kepada masyarakat. Menurut dia, lokasi di lobby Balai Kota juga menjadi pertimbangan khalayak, apakah dapat berkunjung dengan bebas.
“Seperti saat adanya kegiatan donor darah di halaman Balai Kota, sayang sekali orang yang datang tidak mengetahui dan tidak diarahkan untuk menikmati pameran,” tandasnya. (ned)