Pandemi Covid, Dua Keprihatinan dan Solusi Kombinasi

Foto: dr Umar Usman. (ist)

BACAMALANG.COM – Dalam konteks pandemi, pasca Ramadhan dan mudik Lebaran, masih menyisakan sejumlah keprihatinan yang wajib dicarikan jalan keluar bersama-sama.

“Berdasar pengamatan sekilas, muncul 2 (dua) keprihatinan terkait pandemi Covid akhir-akhir ini. Pertama adalah fakta naiknya sejumlah kasus terinfeksi di Jawa maupun luar Jawa (Sumatera),” tegas Wakil Ketua Satgas Covid NU Malang Raya, dr Umar Usman MM.

Fakta itu sejalan dengan perkiraan berdasarkan pengalaman empiris di setiap libur panjang sebelumnya, yaitu libur Natal, Tahun Baru, Lebaran 2020, dan libur panjang lainnya. Perkiraan puncaknya sekitar 5 sampai 7 minggu kemudian yakni akan bisa dilihat pada akhir Juni nanti.

Ada lima provinsi mengalami kenaikan BOR (bed occupancy rate) di RS antara 18-23 persen dalam rentang waktu yang sama dengan kenaikan di tingkat nasional.

Kelima provinsi tersebut meliputi : DKI Jakarta naik 23,7 persen dari 3.108 menjadi 3.846, Jawa Barat naik 30,2 persen dari 3.003 menjadi 3.615, Jawa Tengah naik 23,14 persen dari 2.567 menjadi 3.161, Banten naik 21,2 persen dari 816 menjadi 959, dan DI Yogyakarta naik 18,8 persen dari 495 menjadi 585.

“Kami prihatin dengan lonjakan kasus di Kudus, Lamongan dan di Kota Malang. Kita mesti berupaya keras mengatasinya dan berdoa semoga cepat tertangani,” tegas Pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang ini.

Ia menuturkan, keprihatinan kedua adalah masih banyaknya hoaks seputar pandemi Covid dan vaksin yang harus diberantas. “Saya membaca di media, Pemkab Aceh Barat, Provinsi Aceh melibatkan jurnalis meminimalisasi banyaknya hoaks terkait COVID-19, yang meresahkan masyarakat di Aceh. Saya rasa upaya tersebut juga bisa diterapkan di Malang Raya dan wilayah lainnya,” urainya.

“Keterlibatan pers nantinya diharapkan dapat memberikan informasi secara luas kepada masyarakat tentang bahayanya COVID-19. Diharapkan informasi tersebut bersifat holistik, obyektif, dan valid,” imbuh Pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

CATATAN TENTANG EFIKASI VAKSIN

Berdasarkan Whole Genum Sequencing (WGS), varian Covid-19 telah terpantau persebarannya hampir di seluruh pulau di Indonesia dan didominasi Pulau Jawa.

Pada pengaruh efikasinya, varian B117 mempengaruhi vaksin AstraZaneca. Varian B1351 mempengaruhi vaksin Moderna, Prfizer, AstraZaneca dan Novavac. Sedangkan varian P1 mempengaruhi efikasi Moderna dan Pfizer. Sementara untuk varian B1617 mempengaruhi Moderna dan Pfizer.

dr Umar menjelaskan, hal ini terjadi karena vaksin yang ada masih menggunakan virus atau original varian yang ditemukan di Wuhan China.

“Untuk penanganan mengatasi virus dibutuhkan efikasi 50-60 %. Menariknya berdasar penelitian WHO vaksin yang ada mempunyai efikasi bahkan bisa sampai 90%. Untuk penguatan solusi, maka dibutuhkan solusi kombinasi. Yakni yang bersifat paralel itu,” papar Pria alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

JALAN KELUAR PARALEL

dr Umar mengungkapkan, ada beberapa jalan keluar bersifat paralel yang bisa diterapkan. Jalan keluar (solusi), pertama, mengefektifkan testing dan karantina pelaku perjalanan meminimalisir melonjaknya varian yang masuk.

Jalan keluar berikutnya adalah pengetatan penegakan protokol kesehatan di seluruh sektor dan seluruh kegiatan demi menghalau kemunculan varian baru.

Way out berikutnya yakni melanjutkan vaksinasi. Vaksin yang digunakan saat ini masih tergolong efektif.

“Bagi daerah yang lumayan parah Covid bisa menerapkan micro Lockdown untuk beberapa lama, sampai terhandel semua. Kita berharap bisa tersolusikan agar Indonesia aman ekonomi gampang serta kehidupan membaik,” pungkas pria yang akrab dijuluki Dokter Rakyat ini. (had)