Pandemi dan Sejumlah Point Pemantik Optimisme

Foto: dr Umar Usman MM. (ist)

BACAMALANG.COM – Di tengah hasil evaluasi PPKM kurang efektif, jumlah kasus Covid meningkat, nakes banyak yang gugur, dan ketersediaan ruang perawatan menipis, masih menyisakan beberapa point pemantik semangat dan optimisme.

Setidaknya hal itulah yang disampaikan Wakil Ketua Satgas Covid 19 NU Malang Raya, dr Umar Usman MM, Selasa (2/2/2021). “Masih ada sejumlah point pemantik optimisme. Salah satunya yakni program vaksinasi yang sedang berjalan diharapkan bisa menjadikan keadaan membaik,” tandas dr Umar Usman MM.

dr Umar mengutip data worldometers, diketahui saat ini Indonesia menempati posisi 19, jumlah penderita Covid se dunia.

Kasus Covid-19 di seluruh dunia per Selasa (2/2/2021) mencapai 103.898.968 kasus. Dari jumlah tersebut terdiri dari 2.246.637 pasien meninggal dunia dan 75.658.123 pasien telah sembuh.

Terdapat 25.989.199 kasus aktif atau pasien dalam perawatan yang tersebar di berbagai negara. “Indonesia di posisi 19 dengan 1.089.308 kasus. Jumlah kematian 30.277 dan pasien dinyatakan sembuh ada 883.682 orang. Kini terdapat 175.349 kasus aktif atau yang dalam perawatan di Indonesia,” tutur pria yang juga Ketua PC NU Kabupaten Malang ini.

Naik Jadi Zona Oranye

Dari daftar zona merah Jawa Timur sesuai penentuan BNPB dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat, data konfirmasi Covid-19 di Jawa Timur update Jumat, (1/2/2021) total 112795 orang.

Dengan rincian positif aktif Covid-19 total ada 7767 pasien, sembuh total ada 97223 pasien dan meninggal dunia total 7805 orang.

Di Kota Malang terdapat 5449 pasien konfirmasi Covid-19, dengan rincian 469 aktif, 4504 sembuh dan 476 meninggal dunia. Sementara di Kabupaten Malang, terdapat pasien konfirmasi Covid-19 1981, dengan rincian 57 aktif, 1812 sembuh dan 112 meninggal.

“Kabupaten Malang kini masuk zona oranye (daerah dengan risiko sedang penularan Covid-19), sementara Kota Malang masuk Peta Persebaran Zona Merah Jawa Timur Minggu 31 Januari 2021,” tutur pria alumnus Universitas Airlangga ini.

Harapan Vaksinasi

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang berencana melaksanakan vaksinasi tahap pertama kepada para tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Malang, mulai Senin, 1 Februari 2021 ditargetkan rampung dalam waktu tiga hari, hingga Rabu, 3 Februari 2021.

Saat ini, jumlah vaksin yang sudah diterima oleh Pemkab Malang mencapai 15 ribu dosis. Vaksinasi perdana juga telah dilaksanakan di Pendopo Kepanjen, Kabupaten Malang, Sabtu 30 Januari 2021.

Vaksinasi kedua dilaksanakan 14 hari kemudian. Selanjutnya, vaksinasi covid-19 akan menyasar pada kalangan TNI-Polri, petugas pelayanan publik, guru dan petugas pemadam kebakaran.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menargetkan vaksinasi Covid-19 untuk tenaga kesehatan (nakes) selesai pada akhir Februari 2021. Target ini termasuk vaksinasi termin kedua untuk nakes dan tenaga penunjang kesehatan di Kota Malang.

“Vaksinasi telah dijalankan. Saya sendiri juga sudah divaksin. Alhamdulillah aman dan semoga memberi manfaat maksimal,” tegas pria yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang ini.

Lima M

dr Umar mengingatkan, kepada masyarakat untuk mentaati protokol kesehatan dari 3 M menjadi 5 M, yaitu : memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas.

Kalau prinsip ini ditaati maka penanganan Covid 19 bisa terkendali disamping dilakukan vaksinasi. “Intinya PPKM untuk mengendalikan penyebaran penularan Covid 19 dan penataan ekonomi dengan protokol kesehatan yang ketat,” terang dr Umar.

Vaksinasi adalah kesempatan bangsa untuk bangun, pulih, dan kembali tumbuh. Dengan maksimalnya kapasitas dan kapabilitas, pemulihan kesehatan dan ekonomi akan cepat kembali.

Terkait vaksinasi, dr Umar berkeyakinan Indonesia akan mengalami percepatan. “Data menunjukkan bahwa kapasitas vaksinasi yang dapat dilakukan di Indonesia adalah 16 juta orang per bulan.

Hasil ini diperoleh dengan pengerahan 2.800 rumah sakit, 1.000 puskesmas, dan 8.000 klinik yang dimiliki. Dengan kapasitas dan kapabilitas tersebut, untuk mencapai 70 persen (182 juta) yang divaksinasi demi mencapai herd immunity harusnya bisa ditempuh dalam 5-6 bulan, bila vaksin tersedia.

Kapasitas dan kapabilitas ini akan bisa maksimal ketika vaksinasi sudah memasuki fase dua dimana persediaan dan permintaan vaksin sudah seimbang. “Saat ini masih di fase satu dimana permintaan tinggi namun stok terbatas karena kompetisi di level global. Dengan maksimalnya kapasitas dan kapabilitas vaksinasi, saya berkeyakinan pemulihan kesehatan dan ekonomi akan cepat kembali,” ujarnya.

Primary Healthcare

Melihat pada penanganan pandemi, dr. Umar menyatakan perlunya memperkuat primary healthcare. “Bagaimana memberdayakan puskesmas, tim di daerah, kepesertaan masyarakat. Karena satu daerah bisa lebih mengenal anggota masyarakat sehingga lebih maksimal dalam tracing. Dalam proses tracing itu perlu kecepatan. Kolaborasi dan koordinasi akan memperkuat dan mempercepat proses tracing,” paparnya.

Dengan percepatan tracing, testing, dan hasil PCR; maka bisa secepatnya dilakukan isolasi dan treatment. Hal ini penting sekali untuk memutus rantai penularan COVID-19. “Karena kalau hanya terus menambah tempat tidur di rumah sakit saja maka tidak akan sanggup mengimbangi kecepatan penularannya,” tutupnya.

Padat Karya

dr Umar mendukung peningkatan program padat karya sektor transportasi yang dikelola Kementerian Perhubungan September 2020, program ini telah menyerap tenaga kerja hingga 16.686 orang yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Program ini sangat bagus dan layak untuk dipertahankan. Apalagi dalam situasi pandemi COVID-19 ini dimana banyak orang terpaksa harus dirumahkan karena adanya pembatasan aktivitas ekonomi dan juga menurunnya daya beli masyarakat.

Selayaknya Menteri Perhubungan beserta jajarannya untuk kembali menyisir wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia dalam pengembangan program padat karya sektor transportasi yang tepat bagi masyarakat terdampak pandemi Covid-19.

Selain program padat karya sektor transportasi, ia juga mengapresiasi bantuan bus untuk pesantren dan Lembaga-lembaga Pendidikan yang juga dikelola oleh Kementerian Perhubungan. Seperti halnya program padat karya, bantuan bus juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Program-program berdana besar yang dikelola Kementerian Perhubungan, dampaknya sebagian besar dirasakan secara tidak langsung oleh masyarakat. Oleh karena itu, program-program seperti padat karya sektor transportasi dan bantuan bus, harus terus dilaksanakan untuk kelangsungan sinergi, silaturahmi, dan alat komunikasi,” tegas dr Umar.

Active case detection

Keberhasilan negara India menurunkan kurva Covid-19 layak jadi acuan. Negara berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu berkomitmen, konsisten melakukan testing, tracing, isolasi, karantina, dan treatment karena tahu kapasitas kesehatannya tidak mampu melayani lonjakan kasus Covid-19 yang besar.

India memiliki klinik demam untuk mendeteksi dini masyarakat sebelum ke rumah sakit atau Puskesmas. Ini penting, agar orang yang bergejala seperti Covid-19, utamanya demam tidak semuanya menyerbu rumah sakit, sehingga fasilitas kesehatan menjadi overload.

Upaya door to door cukup proaktif sekali. Active case detectionnya melibatkan kader, terutama perempuan, di daerah, di level desa, dan perumahan. Sebelum mereka ke klinik pun sudah didatangi, dipastikan dan terbukti efektif.

Meski India kurang berhasil menerapkan lockdown karena faktor ekonomi dan banyaknya masyarakat miskin, namun dengan konsistensi dan komitmen yang tinggi terhadap strategi dasar yakni testing, tracing, isolasi, karantina, dan treatment, menjadkan India berhasil menurunkan kurvanya.

“Kunci pengendalian pandemi adalah menemukan kasus secara awal, sehingga mereka belum sempat menyebarkan virus ini kemana-mana. Ini yang dilakukan di India dan terbukti berhasil, selain mereka memiliki klinik demam,” kata dr Umar. (had)